Niat yang baik bila tidak disertai pengertian justru merugikan orang kita sayangi



Seekor kera tinggal di sebuah pohon di tepi telaga. Di telaga itu antara lain tinggal seekor ikan yang menjadi sahabat sang kera. Setiap hari mereka bercakap-cakap dengan akrabnya. Mereka merasa begitu cocok satu sama lain. Kepada sang ikan, sang kera kerap menceritakan apa-apa saja yang dilihatnya dari atas pohon. Juga pengalaman-pengalamannya bersama teman-temannya. Sang ikan pun menceritakan kepada sang kera situasi di bawah air dan kehidupannya bersama teman-temannya. Bertahun-tahun mereka menjalin persahabatan.
Pada suatu hari turun hujan lebat sehingga air di telaga itu semakin naik dan semakin naik. Dari atas pohon sang kera dapat melihat, bahwa kalau air terus naik semakin tinggi dan terjadi banjir, maka sang ikan, sahabatnya akan terbawa air entah ke mana. Saking cintanya dia pada sang sahabat, begitu ada kesempatan, segera disambarnya sang sahabat dan dibawanya ke atas pohon. Dia mengira, bahwa dia telah menyelamatkan sahabatnya, tetapi dengan sedih dia melihat bahwa tindakannya itu justru membuat dia kehilangan sang sahabat selama-lamanya.

RENUNGAN:
Niat yang baik bila tidak disertai pengertian dan pengetahuan yang benar seringkali malah merugikan orang yang kita sayangi. Maka janganlah memanjakan teman ataupun anak kandung kita kalau justru itu akan membuatnya lemah, lambat, dan manja. :)

Trik Mengatasi Masalah Kehidupan Yang Berat



Seorang Profesor memulai kelasnya dengan memegang sebuah gelas berisi air. Ia kemudian berkata kepada muridnya, “Berapa berat gelas ini?” Jawaban muridnya pun bermacam-macam. Ada yang menjawab 50 gram, 100 gram, 250 gram. Profesor pun berkata, “Kita tidak akan pernah tahu sampai kita menimbangnya.”
Ia pun melanjutkan pertanyaan berikutnya, “Apa yang akan terjadi jika aku memegangnya untuk beberapa menit? Atau satu jam? Atau bahkan seharian?”
Kelaspun menjadi sunyi. Para murid sedikit bingung, namun juga memikirkan teka-teki dengan maksud yang tersurat ini. Hingga seorang murid berkata, “Anda pasti akan lelah dan tangan Anda pasti akan kram.” Sang profesorpun mengangguk dan tersenyum penuh makna.
Profesor melanjutkan kisah inspirasi ini masih dengan memegang gelas air itu, ia kemudian bertanya, “Jadi, apa yang harus aku lakukan?” Seorang murid menjawab, “Turunkan saja gelasnya.” Akhirnya profesor itu menurunkan gelas airnya dan mengatakan bahwa jawaban murid tersebut benar.
Anda pasti masih bertanya-tanya hubungan antara gelas air dan kehidupan. Lalu kenapa gelas itu diturunkan sih? Jadi klimaks dan esensinya di mana? Oke, admin akan memberikan sedikit penjelasan dari kisah diatas.
Sobat mover, dalam hidup, masalah adalah segelas air yang dipegang oleh Profesor. Anda akan membiarkannya untuk beberapa saat dalam genggaman Anda, seperti Anda menggenggam masalah dalam pikiran anda. Semuanya akan terasa masih baik-baik saja. Namun, terus menerus membiarkan pikiran tersebut di kepala Anda tanpa melakukan apa-apa juga akan membebani Anda.
Sama halnya dengan memegang gelas yang lama-lama akan lelah juga. Jadi, mengapa tidak kita turunkan ‘gelas permasalahan’ tersebut sebelum kita tidur? Dengan begitu, setidaknya Anda mempersilakan pikiran Anda beristirahat sejenak untuk kemudian bisa menghadapinya kembali dengan lebih baik esok hari.

Jangan pernah kita terjebak dalam zona nyaman



Hari pertama eksperimen dilakukan dengan melihat lompatan belalang terhadap kaca tersebut. Saking tingginya lompatan belalang, sampai-sampai kepalanya membentur atap kotak kaca tempat ia bernaung. Karena terus-menerus kepalanya menabrak kaca, belalang tersebut merasakan kesakitan, sehingga ia pun mulai menyesuaikan tinggi lompatanya sesuai dengan tinggi atap kotak kaca. Selang beberapa hari, tidak terdengar lagi suara benturan pada atap kaca. Belalang masih sering melompat hanya tidak setinggi atap kotak kaca dan tidak pernah menyentuh atap tersebut sama sekali.
Setelah si belalang tidak pernah menyentuh atap kotak kaca tadi, si peneliti menurunkan ketinggian atap kaca menjadi setengahnya. Sesuai dugaan si belalang tadi lagi-lagi menabrak atap kotak kaca tersebut berulang kali. Karena kesakitan maka belalang tersebut menyesuaikan kembali lompatannya sehingga setinggi atap kaca. Dan beberapa hari kemudian, belalang tersebut masih sering melompat namun tidak pernah lagi menabrak atap kaca tersebut.
Saking penasarannya si peneliti, akhirnya ia memutuskan untuk menurunkan ketinggian atap kaca sesuai dengan ketinggian belalang. Alhasil, si belalang hanya mampu berjalan mondar-mandir ke sana kemari tanpa pernah bisa melompat. Hingga suatu hari peneliti tersebut melepaskan belalang di alam, dan tau apa yang terjadi ? Belalang tersebut sama sekali tak bisa melompat. Satu inci pun ia tak pernah melompat.Yang dilakukannya hanya berjalan dan tak pernah melompat.
Lalu apa yang sobat mover bisa pelajari dari belalang tersebut?
Ternyata kehidupan kita sama seperti belalang tadi. Kita sering mendapat halangan dan rintangan yang kadang membuat ktia tak mampu melompat lebih tinggi. Kenyamanan yang kita terima seringkali menjebak kita dalam zona nyaman yang sulit sekali ditinggalkan. Padahal jika menelisik lebih dalam, saat kita kecil dulu kita justru selalu melompat lebih tinggi. Saat kita belajar menaiki sepeda, kita sering mengalami jatuh, menangis, tapi segera bangkit dan belajar lagi. Sayang seiring dengan perkembangan manusia, terkadang banyak pengaruh dari lingkungan yang menyatakan bahwa hal tersebut sulit, tidak mungkin atau bahkan sering membuat kita lebih cenderung pasrah terhadap kenyataan.
Kita adalah manusia, yang sejatinya tidak ingin menjadi seperti belalang tersebut yang tidak pernah bisa melompat lebih tinggi. Manusia merupakan mahluk yang paling sempurna yang diciptakan dengan berbagai kelebihan, yang diberi akal untuk dapat belajar dari kesalahan sehingga saat gagal kita mampu bangkit dan terus maju dalam menghadapi segala rintangan yang ada. Jangan pernah kita terjebak dalam zona nyaman dan harus terus maju untuk meraih impian.