Sabtu, 29 Oktober 2011

MAKNA TAFSIR DAN TAKWIL SERTA PERSAMAAN DAN PERBEDAANNYA



MAKNA TAFSIR DAN TAKWIL SERTA PERSAMAAN DAN PERBEDAANNYA
Oleh: Hamdan Husein Batubara



A.  Pendahuluan
Ketika pada masa Rasulullah saw., para sahabat menanyakan persoalan-persoalan yang tidak jelas kepada Rasulullah saw., maka setelah wafatnya mereka harus melakukan ijtihad, khususnya mereka yang mempunyai kemampuan, seperti Ali bin Abi Thalib dan yang lainya. Namun redaksi ayat-ayat Alquran, sebagaimana setiap redaksi yang diucapkan atau ditulis, tidak dapat dijangkau maksudnya secara pasti, keculai oleh pemilik redaksi tersebut. Hal ini kemudian menimbulkan keanekaragaman penafsiran, tidak terkecuali para sahabat Nabi yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui konteksnya, serta memahami secara alamiah struktur bahasa dan arti kosakatanya,
tidak jarang berbeda pendapat atau bahkan keliru dalam memahami maksud firman-firman Allah yang mereka dengar atau mereka baca. 
Dalam rangka penafisran ayat-ayat Alquran dengan tujuan untuk memahami maksud redaksi tersebut tak jarang dilakukan penakwilan terhadap ayat-ayat yang tidak mampu dipahami dengan penafsiaran. Dengan demikian, betapa pentingnya aspek penafsiran dan penakwilan ayat-ayat Alquran, lalu apa pengertian tafsir dan takwil secara bahasa dan istilah, perbedaan tafsir dan takwil, serta respon ulama tentangnya.


B. Makna Tafsir dan Takwil
1. Makna Tafsir
Makna tafsir secara bahasa adalah menjelaskan, menyingkap, dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak.[1]Tafsir juga mengandung makna: “menjelaskan atau menerangkan[2] keterangan sesuatu[3] atau “tafsirah yaitu alat kedokteran yang dapat mengungkapkan penyakit dari seorang pasien, maka tafsir ”dapat mengeluarkan makna yang tersimpan dalam kandungan ayat-ayat Alquran.[4]
Kata tafsir di dalam Alquran disebutkan dalam surah Al-Furqan (25): 33,[5] yang bermakna: penjelasan dan perincian. Maksudnya: setiap kali mereka datang kepada nabi Muhammad s.a.w mebawa suatu hal yang aneh berupa usul dan kecaman, Allah menolaknya dengan suatu yang benar dan nyata. Kata tafsir dalam Alquran di sandingakan dengan kata al-haq yang berarti kebenaran eksak dan absolute. Menurut konteks ayat tersebut kata tafsir merupakan penjelasan atau konfirmasi terhadap segala sesuatu yang ganjil lagi aneh yang di sodorkan oleh orang inkar (kafir) kepada Muhammad sebagai pembawa Alquran. Sehingga makna dari at-tafsir, ialah penjelasan atau perincian-perincian tentang ayat-ayat Alquran.[6]
Jadi, tafsir secara bahasa adalah menyingkapkan, menjelaskan, menerangkan, memberikan perincian atau menampakkan. Sehingga, proses penafsiran adalah, menghilangkan kesamaran dan ketidakjelasan.[7]Suatu kata tidak dapat dikatakan telah mengalami proses penafsiran, kecuali jika terjadi proses menjelaskan.[8]

Tafsir, secara istilah memiliki berbagai macam pendapat dalam memaknainya, yaitu:
a. Abu Hayyan mengartikan tafsir adalah, ilmu yang membahas tentang pengucapan lafal-lafal Alquran, tentang petunjuk-petunjuknya, dan hukum-hukumnya baik ketika berdiri sendiri maupun ketika tersusun serta hal-hal lain yang melengkapinya.[9]
b. Abu-Zarkasyy dalam Al Burhan mengemukakan bahwa tafsir adalah, ilmu untuk memahami kitabullah yang di turunkan kepada nabi Muhammad saw., menjelaskan makna-maknanya serta mengeluarkan hukum dan hikmahnya.[10]
c. Tafsir menurut Al-Kilby dalam At-Tashiel adalah menjelaskan Alquran, menerangkan maknanya dan menjelaskan apa yang dikehendaki nash, isyarat atau tujuan.[11]
d. Menurut Syaikh Al-Jazairi tafsir pada hakikatnya adalah menjelaskan kata yang sukar dipahami oleh pendengar sehingga berusaha mengemukakan sinonimnya atau makna yang mendekatinya atau dengan jalan dalalah (petunjuk).[12]
2. Makna Takwil
Lafazh takwil timbul beriringan dengan tafsir, dalam pembahasan tentang Alquran, di kalangan ahli tafsir. Kedua kata tersebut menunjukkan penjelasan tentang makna suatu lafazh tertentu dan berusaha mengungkap makna di balik lafazh tersebut. “Seseorang menakwilkan suatu ucapan, artinya ia merenungkanya, mengira-ngira, dan menafsirkanya.”[13]
Kata takwil diambil dari kata “aul”, yang bermakna kembali dan berpaling. Ada juga yang mengatakan, diambil dari kata “ail” yang berarti “memalingkan”, yakni: memalingkan ayat dari makna yang dhahir kepada sesuatu makna yang dapat diterima olehnya.[14]
Kata takwil terdapat dalam Alquran sebanyak tujuh kali, yaitu:
a.       QS. Al-imron (3) : 7
b. QS. An-nisa’ (4) : 59
c. QS. Al-a’rof  (7) : 52-53
d. QS. Yunus (10) : 39
e. QS. Yusuf (12) : 6
f. QS. Al-Isro’ (17) : 35
g. QS. Al-kahfi (18) : 78
Pendapat Masyhur, takwil berarti sama dengan tafsir, yaitu, menjelaskan, dengan pengertian tersebut, kata takwil, dapat mempunyai arti:
a. Kembali atau mengembalikan, yakni mengembalikan pada proporsi yang sesungguhnya.
b. Memalingkan, yakni memalingkan suatu lafazh tertentu yang mempunyai sifat khusus dari makna lahir ke makna batin lafazh itu, karena ada ketetapan dan keserasian dengan maksud yang dituju.
c. Menyiasati, yakni dalam lafazh tertentu ada kalimat-kalimat yang mempunyai sifat khusus memerlukan siasat yang jitu untuk menemukan maksudnya yang setepat-tepatnya.[15]
Imam Al-Ghazali, dalam Kitab Al-Mutashfa: “Sesungguhnya takwil itu adalah ungkapan tentang pengambilan makna dari lafazh yang bersifat probabilitas yang didukung oleh dalil dan menjadikan arti yang lebih kuat dari makna yang ditujukan oleh lafazh zahir.”
As Said Al Jurjany, dalam At Ta’rifat : “Takwil, ialah: memalingkan lafazh dari makna yang zahir kepada makna yang muhtamil, apabila makna yang muhtamil itu tidak berlawanan dengan Alquran dan As Sunnah.”
Sebagian ulama, memaknai takwil, sebagai berikut[16]:
a. Takwil adalah, mengembalikan sesuatu kepada gayanya, yakni menerangkan apa yang dimaksud dari padanya.
b. Takwil ialah, menerangkan salah satu makna yang dapat diterima oleh lafazh.
Sehingga tafsir, berarti, penjelasan terhadap makna lahiriah dari ayat Alquran yang pengertiannya secara tegas menyatakan maksud yang dikehendaki oleh Allah. Dan, menakwilkan Alquran adalah membelokkan atau memalingkan lafazh-lafazh atau kalimat-kalimat yang yang ada dalam Alquran dari makna lahirnya ke makna lainya, sehingga dengan cara demikian pengertian yang diperoleh lebih cocok dan sesuai dengan jiwa ajaran Alquran dan sunah Rasulullah saw.[17]
Para ahli tafsir mengatakan, secara umum ada kesesuaian antara dua kata tersebut (tafsir dan takwil). Tapi, juga terlihat perbedaan dari keduanya. Kedua kata tersebut, sama kedudukanya.[18]
2. Persamaan Tafsir dan Takwil
Pendapat ulama, mengenai persamaan tafsir dan takwil.
a. Abu ubaidan dan sekelompok ulama berpendapat bahwa tafsir dan takwil adalah sama
b. Tafsir dan takwil, dengan segala pengertiannya, merupakan usaha sungguh-sungguh untuk menemukan dan menjelaskan makna-makna atau kehendak Allah dari firman-Nya.
c. Menurut Abdul Wahhab Khallaf, tafsir dam takwil memiliki persamaan, yaitu sama-sama berusaha menjelaskan pesan-pesan yang dikehendaki Allah.
d. Menurut Abu `Ubadah, tafsir dan takwil adalah sinonim. Pendapat inlah yang masyhur di kalangan ulama klasik.
3. Perbedaan Tafsir dan Takwil
Maksud perbedaan di sini bukanlah perbedaan dalam arti paradoksal, melainkan perbedaan dilihat dari segi spesifikasinya masing-masing, dan perbedaan dari segi sifat-sifat keduanya.
Dalam “Manahilul Irfan Fi’Ulumi al-Qur’an” dijelaskan antara lain “takwil dalam istilah para mufassirin, pengertianya diperselisihkan”.[19]Bahkan ada yang berpendapat bahwa takwil itu sinonim dengan kata tafsir, karena dilihat dari segi tujuan keduanya tidak berbeda, yaitu menjelaskan makna ayat-ayat Alquran.
Dalam hal ini sebagian ulama melihat ada perbedaan-perbedaan antara keduanya, yaitu:
a. Tafsir berbeda dengan takwil, perbedaanya adalah pada ayat-ayat yang menyangkut soal umum dan khusus, pengertian tafsir lebih umum dari pada takwil, karena takwil berkenaan dengan ayat-ayat yang khusus, misalnya ayat-ayat mutasyabihat. Jadi, mentakwilkan ayat-ayat yang mutasyabihat itu termasuk tafsir, tetapi tidak setiap penafsiran ayat disebut takwil.
b. Tafsir adalah penjelasan lebih lanjut dari takwil, dan dalam tafsir sejauh terdapat dalil-dalil yang dapat menguatkan penafsiran boleh dinyatakan: “Demikianlah yang dikehendaki Allah”, sedangkan takwil hanya menguatakan salah satu makna dari sejumlah kemungkinan makna yang dimiliki ayat (lafazh) dan tidak boleh menyatakan: “Demikianlah yang dikehendaki Allah swt.”
c. Tafsir menerangkan makna lafazh (ayat) melalui pendekatan riwayat, sedangkan takwil melalui pendekatan dirayah (kemampuan ilmu) dan berpikir rasional.
d. Tafsir menerangkan makna-makna yang diambil dari bentuk yang tersurat (bil ibarah), sedangkan takwil adalah dari yang tersirat (bil isyarah).
e. Tafsir berhubungan dengan makna-makna ayat atau lafazh yang biasa-biasa saja, sedangkan takwil berhubungan dengan makna-makna yang kudus.
f. Tafsir mengenai penjelasan maknanya telah diberikan oleh Alquran sendiri, sedangkan takwil penjelasan maknanya diperoleh melalui istinbath (penggalian) dengan memanfaatkan ilmu-ilmu alatnya.[20]
Pendapat yang membedakan tafsir dan takwil, secara umum dan khusus, yaitu[21]:
a. Tafsir pembahasanya, lebih umum dari pada takwil. Karena, tafsir adalah, penjelasan tentang suatu lafazh secara mutlak, lebih umum dari pada takwil, yaitu, ia mencari makna yang bertentangan dengan makna zahir lafazh yang dimaksud.
b. Takwil membahas setiap ucapan yang memiliki makna zahir, kemudian makna tersebut dicari makna lainya.
Perbedaan Antara Tafsir Dan Takwil
No.
Tafsir
Takwil
1.
Ar-Raghib Ashfahani: lebih umum dan lebih banyak digunakan untuk lafaz dan kosakata dalam kitab-kitab yang diturunkan Allah dan kitab-kitab lainnya
Ar-Raghib al-Asfahani: lebih banyak dipergunakan makna dan kalimat dalam kitab-kitab yang diturnkan Allah saja
2.
Menerangkan makna lafazh yang tidak menerima selain dari satu arti.
Menetapkan makna yang dikehendaki suatu lafazh yang dapat menerima banyak makna karena didukung oleh dalil
3.
Al-Maturidi: menerangkan apa yang dikehendaki ayat dan menetapkan seperti yang dikehendaki Allah
Menyeleksi salah satu makna yang mungkin diterima oleh suatu ayat tanpa meyakinkan bahwa itulah yang dikehendaki Allah
4.
Abu Thalib Atas-Tsalabi: Menerangkan makna lafazh, baik berupa hakikat atau majaz
Abu Thalib atas-Tsalabi: Menafsirkan batin ayat
5.
Manna Qaththan: tafsir apa yang telah jelas dalam Kitab atau pasti dalam sunnah yang shahih karena maknanya jelas. Tafsir: apa yang berhubungan dengan riwayat.
Sedangkan takwi adalah apa yang disimpulkan ulama. Takwil adalah apa yang berhubungan dengan dirayah.
6.
Manna Qaththan: tafsir lebih banyak dipergunakan dalam lafazh dan mufradat.
Sedangkan takwil lebih banyak dipakai dalam makna dan susunan kalimat.
                                                                                                         
Sebuah keterangan menyebutkan, bahwa, seorang ahli tafsir memiliki hukum yang pasti (qathi’), sedang ahli takwil memiliki hukum yang berdasarkan pada pemilihan makna yang paling benar, dari kemungkinan-kemungkinan yang ada.
Perbedaan antara keduanya dapat dipaparkan di bawah ini.
Tafsir, pemakaiannya banyak dalam lafazh-lafazh dan mufradat.
Jelas diterangkan dalam Alquran dan hadits-hadits sahih.
Banyak berhubungan dengan riwayat
Digunakan dalam ayat-ayat muhkamat (jelas)
Bersifat menerangkan petunjuk yang dikehendaki.
Takwil, pemakaiannya lebih banyak pada makna-makna dan susunan kalimat
Kebanyakan diistinbath oleh para ulama.
Banyak berhubungan dengan dirayat.
Digunakan dalam ayat-ayat mutasyabihat (tidak jelas)
Menerangkan hakikat yang dikehendaki.
4. Respon Ulama, Mengenai Tafsir dan Takwil[22]
a. Ar Raghib Al Asfahany: “Tafsir lebih umum dari takwil. Dia lebih banyak dipakai mengenai kata-kata tunggal. Sedang takwil, lebih banyak dipakai makna dan susunan kalimat.”
b. Al Maturidy: “Tafsir ialah, menetapkan apa yang dikehendaki oleh ayat (lafaz) dan dengan sungguh-sungguh menetapkan, demikianlah yang dikehendaki Allah. Maka, jika ada dalil yang membenarkan penetapan itu, dipandanglah tafsir yang shahih. Kalau tidak, dipandanglah tafsir yang berdasarkan  yang tidak dibenarkan. Takwil ialah, mentarjihkan salah satu makna yang mungkin diterima oleh ayat (lafazh), yakni salah satu muhtamilat, dengan tidak meyakini bahwa, demikianlah yang sungguh-sungguh dikehendaki Allah.”
c. Abu Thalib Ats tsa’laby: “Tafsir ialah, menerangkan makna lafazh, baik makna hakikatnya, maupun makna majaznya. Takwil ialah, mentafsirkan bathin lafazh. Jadi, tafsir bersifat menerangkan petunjuk yang dikehendaki, sedang takwil menerangkan hakikat yang dikehendaki.”
d. Sebagian ulama menjelaskan: “Tafsir menerangkan makna lafazh yang tak menerima selain dari satu arti. Sedangkan, takwil, menetapkan makna yang dikehendaki oleh suatu tafazh yang dapat menerima banyak makna dan susunan kalimat.”


C.  PENUTUP
Al-Qur`an sebagai ”hudan-linnas” dan “hudan-lilmuttaqin”, maka untuk memahami kandungan Alquran agar mudah diterapkan dalam pengamalan hidup sehari-hari memerlukan pengetahuan dalam mengetahui arti atau maknanya, tafsir, dan takwilnya sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw., Sehingga kehendak tujuan ayat Alquran tersebut tepat sasarannya.
Demikianlah makalah yang berisikan tentang tafsir dan takwil. Makalah inipun tak luput dari kesalahan dan kekurangan maupun target yang ingin dicapai. Adapun kiranya terdapat kritik dan saran digunakan sebagai penunjang pada makalah ini. Sehingga, penyusunan makalah berikutnya, akan lebih sempurna.

















DAFTAR PUSTAKA

Abu Anwar, Ulumul Qur’an Sebuah Pengantar, (Pekanbaru: Amzah, 2005).

Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-qur’an, (Sumatra Utara: Amzah, 2005).

Abdul Halim Hasan, Tafsir Al-Ahkam, (Jakarta, Kencana Prenada Media Group, 2006). 

M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994).

M. Baqir Hakim, Ulumul Qur`an, (Jakarta: Al-Huda, 2006).

Nasaruddin Umar, Metode Tafsir Ayat-Ayat Sains dan Sosial, (Jakarta: Amzah, 2007).

Rif’at Syauqi Nawawi dan Muhammad Ali Hasan, Pengantar Ilmu Tafsir,  (Jakarta: Bulan Bintang, 1988).



Foot note:


[1] Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu Al-qur’an, (Sumatra Utara: Amzah, 2005), hlm 17.
[2] Rif’at Syauqi Nawawi dan Muhammad Ali Hasan, Pengantar Ilmu Tafsir, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), hlm. 139.
[3]Nawawi, Pengantar…, hlm 139.
[4] Nawawi, Pengantar…, hlm 139.
[6] Nasaruddin Umar, Metode Tafsir Ayat-Ayat Sains dan Sosial, (Jakarta: Amzah, 2007), hal. 47.
[7] M. Baqir Hakim, Ulumul Qur`an, (Jakarta: Al-Huda, 2006), hlm. 322.
[8] …, jika tidak terdiri dari kata yang masih samar dan belum jelas maknanya. Lihat M. Baqir Hakim, Ulumul…, hlm. 322.
[9] Nawawi, Pengantar…, hlm 144.
[10] Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar …, hlm. 178.
[11]  Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar …, hlm. 178.
[12] Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar …, hlm. 179.
[13] Abdul Halim Hasan, Tafsir Al-Ahkam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), hlm. 337.
[14] Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar …, hlm. 181.
[15] Nawawi, Pengantar Ilmu…, hlm. 144.
[16] Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar …, hlm. 180.
[17] Abu Anwar, Ulumul Qur’an Sebuah Pengantar, (Pekanbaru: Amzah, 2005), hal. 97.
[18] Abdul Halim Hasan, Tafsir…, hlm. 337-338.
[19]Nawawi, Pengantar Ilmu…, hlm. 146.
[20] Ash-Shiddiqi, Sejarah dan Pengantar …, hlm. 185.
[21] Hasan, Tafsir…, hlm. 337-338.
[22]Ash-Shiddiqi, Sejarah dan Pengantar …, hlm. 181-182.