PENDEKATAN TAFSIR BI AL-MA’TSUR DAN TOKOH-TOKOHNYA

PENDEKATAN TAFSIR BI AL-MA’TSUR DAN TOKOH-TOKOHNYA 
( Oleh: Hamdan Husein Batubara )
 

A.  Pendahuluan
Para ahli tafsir menguraikan beberapa pendekatan yang bisa digunakan untuk menggali makna-makna yang terkandung di dalam Alquran itu sendiri. Antara lain pendekatan bi al-ma’tsur, pendekatan bi al-ra’yi, pendekatan adabi wa al-ijtima’i, pendekatan kontekstual, dan pendekatan tematik, serta pendekatan-pendekatan lainnya. Di antara beberapa pendekatan tersebut, pendekatan bi al-ma’tsur dan pendekatan bi al-ra’yi merupakan pendekatan yang ramai diperbincangkan di kalangan ulama, tentunya tanpa bermaksud untuk menepikan pendekatan-pendekatan lainnya.
Pada kesempatan ini, penulis akan membahas salah satu dari beberapa  pendekatan di atas, yaitu pendekatan tafsir bi al-ma’tsur beserta tokoh-tokohnya. Termasuk juga di dalamnya contoh-contoh penafsiran dengan menggunakan pendekatan tafsir bi al-ma’tsur tersebut. Tulisan ini juga membahas secara singkat tentang sejarah tafsir sejak zaman Rasulullah, sebab ini sangat erat kaitannya dengan pembahasan makalah selanjutnya.
B.  Sejarah Tafsir bi al-Ma’tsur
Sebelum kita berbincang tentang makna tafsir bi al-ma’tsur, alangkah baiknya kita terlebih dahulu membahas sejarah tafsir secara singkat. Hal ini sangat penting, sebab erat kaitannya dengan pembahasan makalah ini selanjutnya. Bahkan tidak bisa dipisahkan dengan makna pendekatan tafsir bi al-ma’tsur itu sendiri.
Ketika Rasulullah Saw., masih hidup, apabila para sahabat menemukan ayat-ayat yang tidak dipahami maksudnya atau membutuhkan penjelasan lebih rinci, para sahabat bisa langsung menanyakan kepada beliau. Hal inilah yang diungkapkan Said Agil Husin Al-Munawar, bahwa Rasulullah berfungsi sebagai mubayyin (sebagai penjelas), yaitu menjelaskan kepada sahabat-sahabatnya tentang arti dan isi kandungan Alquran, khususnya menyangkut ayat-ayat yang tidak dipahami atau samar artinya.[2] Dengan demikian, upaya penafsiran Alquran telah ada pada masa Rasulullah.
Teungku Muhammad Hasbi Ash-shiddieqy menyebut Rasul sendiri sebagai penafsir awal (Al-Mufassirul Awwal) terhadap Alquran. Maksudnya adalah beliau menerangkan maksud-maksud wahyu yang diturunkan kepadanya. Ketika Rasul masih hidup, para sahabat tidak ada yang mau memberanikan diri untuk menafsirkan Alquran. Rasul sendirilah yang memikul tugas menafsirkan Alquran.[3]
Dengan demikian, berdasarkan beberapa pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa proses penafsiran terhadap Alquran telah ada sejak zaman Rasulullah masih hidup. Namun, yang berposisi sebagai penafsir pada saat itu, diemban oleh Rasulullah Saw. Namun, setelah beliau wafat, barulah kemudian muncul polemik, kepada siapa lagi umat bertanya tentang isi kandungan Alquran tersebut. Hal ini merupakan hal yang lumrah, semakin luasnya daerah penyebaran Islam berakibat pada semakin kompleksnya masalah yang ditemui dalam masyarakat. Sehingga, Alquran bisa memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan umat Islam saat itu.
Hal inilah yang memicu para sahabat  untuk melakukan ijtihad, khususnya bagi mereka yang mempunyai kemampuan seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab dan Ibnu Mas’ud.[4] Sesudah Rasul wafat, barulah kemudian para sahabat yang alim yang mengetahui rahasia-rahasia Alquran dan yang mendapat petunjuk langsung dari Nabi sendiri, merasa perlu untuk menerangkan apa yang mereka ketahui dan mereka pahami tentang maksud-maksud Alquran.[5]
Di antara para sahabat yang ahli menafsir Alquran, terdapat 10 orang yang terkenal, yaitu khalifah yang empat, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay ibn Ka’ab, Zaid ibn Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari dan Abdullah ibn Zubair. Di antara mereka, sahabat yang paling layak dinamakan Al Mufassir, ialah Abdullah ibn Abbas yang didoakan oleh Rasul, semoga Allah memberikan kepadanya keluasan pemahaman dalam agama dan keahlian dalam tafsir. Rasul menamakannya dengan Tarjamanul Quran. Di antara para sahabat yang diterima tafsir selain dari 10 itu, ialah Abu Hurairah, Anas ibn Malik, Abdullah ibn Umar, Jabir ibn Abdullah dan Aisyah Ummul Mukminin. Hanya saja tafsir-tafsir yang diriwayatkan dari beliau-beliau ini, sedikit jumlahnya, jika dibandingkan dengan tafsir-tafsir yang diriwayatkan oleh kesepuluh tokoh-tokoh sahabat tersebut.[6]
Di samping itu, para tokoh tafsir dari kalangan sahabat yang disebut di atas mempunyai murid-murid dari para tabi’in, khususnya di kota-kota tempat mereka tinggal. Melalui merekalah tokoh-tokoh tafsir baru bermunculan dari kalangan tabi’in di kota-kota tersebut, seperti Sa’id bin Jubair, Mujahid bin Jabr, di Mekkah, yang ketika itu berguru kepada Ibnu Abbas. Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam, di Madinah yang ketika itu berguru kepada Ubay bin Ka’ab dan al-Hasan al-Bashri, Amir al-Sya’bi di Irak, yang ketika itu berguru kepada Abdullah bin Mas’ud.[7]
Demikianlah secara singkat, sejarah perkembangan tafsir pada masa-masa awal Islam. Terlihat jelas, bahwa upaya penafsiran Alquran oleh sahabat baru dilakukan setelah Rasul wafat. Sahabat tidak berani melakukannya, jika Rasul masih hidup. Sebab, Rasul-lah yang mengemban tugas sebagai penafsir atau penjelas Alquran. Wafatnya Rasul memicu para sahabat untuk melakukan penafsiran terhadap Alquran.

C.  Makna Tafsir bi al-Ma’tsur
Penjelasan tentang sejarah tafsir pada pembahasan di atas, bisa menjadi suatu gambaran tentang makna tafsir bi al-ma’tsur tersebut. Namun, untuk dapat memahami makna tafsir bi al-ma’tsur, perlu diuraikan makna masing-masing kata yang membentuk kalimat tersebut. Pertama, “tafsir” secara bahasa adalah ‘penjelasan dan keterangan’ (al-bayan dan al-kasyf). Secara istilah, “tafsir” berarti proses menjelaskan atau menerangkan sesuatu kata yang samar artinya. Dengan kata lain, suatu kata tidak dapat dikatakan telah mengalami  proses penafsiran jika tidak terdiri dari kata yang masih samar dan belum jelas maknanya.[8]
Pendapat lain yang sejalan dengan pendapat di atas adalah yang mengatakan bahwa sesuatu tidak dapat dikatakan sebagai sebuah proses penafsiran kecuali jika terjadi proses ‘menjelaskan’ kemungkinan-kemungkinan makna yang terkandung dalam suatu lafazh tertentu, dan menetapkan makna sebenarnya yang dikandung oleh lafazh tersebut, atau juga dengan menampakkan dan menjelaskan makna yang tersembunyi, dan menetapkan makna sebenarnya yang dimaksud oleh lafazh tersebut sebagai pengganti dari makna zhahir-nya. Apabila hanya menyebutkan makna yang zhahir-nya saja dari suatu lafazh, tidaklah dapat dikatakan sebagai suatu bentuk proses penafsiran.[9]
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa tafsir secara sederhana merupakan usaha untuk menjelaskan atau menerangkan suatu kata (lafazh) yang masih samar atau tidak jelas maknanya, sehingga diketahui kemungkinan-kemungkinan makna yang terkandung di dalamnya.
Kedua, kata al-ma’tsur adalah isim maf’ul (objek) dari kata atsara-ya’tsiru/ ya’tsuru-atsran-wa-atsaratan ( ﻮﺃﺜﺎﺮﺓ - ﺃﺜﺮﺍ - ﻴﺄﺜﺮ - ﺃﺜﺮ ), secara etimologis berarti menyebutkan atau mengutip (naqola) dan memuliakan atau menghormati (akrama). Al-atsar juga berarti sunnah, hadits, jejak, bekas, pengaruh, dan kesan. [10]
Melalui beberapa penjelasan di atas, makna tafsir bi al-ma’tsur dapat dijelaskan sebagai penafsiran Alquran terhadap sebagian ayat sebagai penjelasan, dan yang diriwayatkan  dari Rasul Saw., sahabat-sahabat, tabi’in, yang kesemuanya sebagai keterangan dan penjelasan bagi maksud Allah dari nash-nash kitab Alquran.[11]
Istilah lain dari tafsir bi al-ma’tsur adalah tafsir bi al-riwayah/tafsir bi al-manqul/tafsir bi al-naql ialah penafsiran Alquran dengan Alquran, menafsirkan ayat Alquran dengan sunnah Nabi, menafsirkan ayat Alquran dengan kalam (pendapat), bahkan tabi’in menurut sebagian ulama.[12] Pendapat lainnya tentang makna tafsir bi al-ma’tsur ini, bahwa yang dimaksud dengan Tafsir bi-ma’tsur adalah tafsir yang terbatas pada riwayat dari Rasulullah Saw., dan dari para sahabat r.a. atau murid-murid mereka dari kalangan tabi’in, dan juga dari Tabi’ut tabi’in.[13]
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat digambarkan bahwa tafsir bi al-ma’tsur merupakan usaha penjelasan atau keterangan tentang ayat Alquran yang hanya bersumber pada ayat Alquran itu sendiri, keterangan dari Rasul (sunnah), sahabat-sahabat Rasul, tabi’in, serta tabi’ut tabi’in.
D.  Tokoh dan Metodologi Tafsirnya
Dalam berbagai litaratur dijelaskan, bahwa terdapat beberapa tokoh yang menggunakan pendekatan tafsir bi al-ma’tsur. Namun, pada makalah ini akan dijelaskan dua diantaranya, yaitu Tafsir Imam Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir. Keduanya menurut pemakalah cukup representatif sebagai tokoh yang menggunakan tafsir bi al-ma’tsur tersebut. Berikut secara singkat profil, metodologi, serta contoh  penafsiran keduanya.
1.    Imam Thabari
Nama lengkap beliau adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari. Beliau dilahirkan di negeri Amil pada tahun 225 H. semenjak dini beliau terarah untuk menuntut ilmu dan mempelajari ilmu-ilmu agama. Beliau sudah hafal Alquran semenjak berumur tujuh tahun. Para ulama sangat banyak membicarakan tentang beliau, baik dari kepribadian maupun kehidupan beliau.[14]
Al-Tabari hidup, tumbuh dan berkembang di lingkungan keluarga yang memberikan perhatian yang cukup terhadap masalah pendidikan, terutama bidang keagamaan. Berbarengan dengan situasi Islam pada saat itu yang sedang mengalami kejayaan dan kemajuannya di bidang pemikiran. Kondisi sosial yang demikian itu secara psikologis turut berperan dalam membentuk kepribadian al-Tabari dan menumbuhkan kecintaannya terhadap ilmu. Integritas tinggi dalam menuntut ilmu dan semangat (girah) untuk melakukan ibadah, dibuktikannya dengan melakukan safari ilmiah ke berbagai negara untuk memperkaya pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu.[15]
Dalam tafsir beliau terlihat beberapa kelebihan antara lain: pertama, kehati-hatian beliau dalam mengarang; kedua, kerajinan beliau dalam mempersiapkan; ketiga, kegembiraan ketika sudah selesai. Kalau diperhatikan, buku tafsir beliau ini merupakan bukti usaha dan kesungguhan yang besar beliau dalam upaya menyempurnakannya. Tafsir tersebut memuat kumpulan hadis maupun riwayat para sahabat, juga memuat hasil koreksi, tata bahasa, hukum-hukum syara’ dan pendapat-pendapat beliau tentang tarjih dan penjelasan lainnya.[16]
Adapun langkah-langkah metodologis tafsir al-Tabari dapat disederhanakan sebagai berikut[17] :
a.    Menempuh jalan tafsir dan/atau takwil.
b.    Melakukan penafsiran ayat dengan ayat (munasabah) sebagai aplikasi norma tematis “al-Quran yufassiruhu ba’duhu ba’d”.
c.    Menafsirkan Alquran dengan as-Sunnah/ al-Hadits (bi al Ma’tsur).
d.   Bersandar pada analitis bahasa (lugah) bagi kata yang riwayatnya diperselisihkan.
e.    Mengeksplorasi sya’ir dan menggali prosa Arab (lama) ketika menjelaskan makna kosa kata dan kalimat.
f.     Memperhatikan aspek i’rab dengan proses pemikiran analogis untuk di-tashih dan tarjih.
g.    Pemaparan ragam qira’at dalam rangka mengungkap (al-kasyf) makna ayat.
h.    Membeberkan perdebatan di bidang fiqh dan teori hukum Islam (usul al-fiqh) untuk kepentingan analisis dan istinbath hukum.
i.      Mencermati korelasi (munasabah) ayat sebelum dan sesudahnya, meski dalam kadar yang relatif kecil.
j.      Melakukan sinkronisasi antar makna ayat untuk memperoleh kejelasan dalam rangka untuk menangkap makna secara utuh.
k.    Melakukan kompromi (al-jam’u) antar pendapat bila dimungkinkan, sejauh tidak kontradiktif (ta’arud) dari berbagai aspek termasuk kesepadanan kualitas sanad.
Sebagai contoh, misalnya ketika menafsirkan firman Allah QS. Al-Maidah (5) : 89 yang berbunyi[18] :
لا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الأيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُوا أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٨٩)
Artinya: “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).

Yang dicermati at-Tabari pada ayat di atas adalah kalimat min ausati ma tut’imuna ahlikum. Potongan ayat ini telah ditafsirkan oleh sebagian sahabat Nabi Saw. secara berbeda. Ibnu ‘Abbas, misalnya, menafsirkan ayat itu dengan:
( ﻣﻥ ﺍﻮﺴﻄ ﻤﺎ ﺗﻄﻌﻤﻮﻥ ﺍﻫﻠﻴﻜﻢ ﻤﻥ ﻋﺴﺮﻫﻡ ﻮ ﻴﺴﺮﻫﻡ )
Maksudnya, jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh keluarga (pembayar denda) secara moderat tidak mahal dan tidak murah, tidak sulit dan tidak terlalu mudah. Sementara Sa’id bin Jubair dan ‘ikrimah menafsirkan dengan  ( ﺍﻱ ﻤﻥ ﺍﻋﺪﻝ ﻤﺎ ﺗﻄﻌﻤﻮﻦ ﺍﻫﻴﻜﻢ ) atau dari jenis makanan yang sederhana yang dikonsumsi keluarga, sahabat ‘Atha’ menafsirkan :
( ﻤﻦ ﺍﻤﺛﻝ ﻤﺎ ﺗﻄﻌﻤﻮﻦ ﺍﻫﻠﻴﻛﻡ ) semisal apa yang dikonsumsi oleh keluargamu.

ﺍﻥ ﺍﻠﻤﺭﺍﺪ ﺒﻗﻮﻟﮫ ﺗﻌﺎﻠﻰ : ﻤﻦ ﺍﻮﺴﻄ ﻤﺎ ﺗﻄﻌﻤﻭﻦ ﺍﻫﻟﻴﻜﻡ ﺍﻱ ﻓﻰ ﺍﻠﻘﻟﺔ ﻭ ﺍﻠﻜﺜﺮﺓ,  ﺛﻡ ﺍﺨﺘﻠﻑ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻤﻘﺪﺍﺮ ﻤﺎ ﻴﻄﻌﻤﻭﻦ
Di samping merujuk pada beberapa penafsiran para sahabat, al-Tabari merujuk pula hadits terkait dengan penafsiran tersebut, yang diriwayatkan oleh Ibnu Sirin dari Ibn ‘Umar, Rasulullah Saw. bersabda :
ﺍﻠﺨﺒﺰ ﻮ ﺍﻠﺴﻤﻦ ﻮ ﺍﻠﺨﺒﺰ ﻮ ﺍﻠﻠﺒﻦ ﻮ ﺍﻠﺨﺒﺰ ﻮ ﺍﻠﺰﻴﺖ ﻮ ﺍﻠﺨﺒﺰ ﻮ ﺍﻠﺘﻤﺮ ﻮ ﻤﻦ ﺍﻓﻀﻝ ﻤﺎ ﺍﻫﻟﻴﻜﻢ ﺍﻠﺨﺒﺯ ﻮ ﺍﻠﺤﻡ
Setelah ditopang oleh sejumlah referensi yang cukup akurat, kemudian al-Tabari menyatakan secara tegas, bahwa yang dimaksud oleh firman Allah: min ausati ma tut’imuna ahlikum adalah dalam hal kuantitas, moderat tidak sedikit dan tidak pula banyak. Dari sinilah kemudian muncul wacana di kalangan ulama tentang standar bahan makanan yang harus dibayarkan oleh si pembayar kifarat (denda).
2.    Ibnu Katsir
Nama lengkap beliau adalah Ismail bin Umar bin Katsir al-Bashri. Beliau lahir pada tahun 701 H[19] di Timur Bashri yang merupakan wilayah bagian Damaskus. Seluruh waktunya dihabiskan untuk ilmu pengetahuan. Ia mengkaji, mempelajari, dan mengenal berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Beliau menghafal dan menulis buku. Dirinya mempunyai memori yang kuat dan kemampuan memahami.[20]
Kitab tafsir beliau dapat dikategorikan sebagai salah satu kitab tafsir dengan corak dan orientasi (al-laun wa al-ittijah) tafsir bi al-ma’tsur/ tafsir bi al-riwayah, karena dalam tafsir ini ia sangat dominan memakai riwayat/hadis, pendapat sahabat dan ­tabi’in. Dapat dikatakan bahwa dalam tafsir ini yang paling dominan ialah pendekatan normatif-historis yang berbasis utama kepada hadis/riwayah. Namun, Ibnu Katsir pun terkadang menggunakan rasio atau penalaran ketika menafsirkan ayat.[21]
Langkah-langkah penafsirannya secara garis besar ada tiga: pertama, menyebutkan ayat yang ditafsirkannya, kemudian menafsirkannya dengan bahasa yang mudah dan ringkas. Jika memungkinkan, ia menjelaskan ayat tersebut dengan ayat lain, kemudian memperbandingkannya hingga makna dan maksudnya jelas. Kedua, mengemukakan berbagai hadis atau riwayat yang marfu’ (yang disandarkan kepada Nabi Saw., baik sanadnya bersambung maupun tidak), yang berhubungan dengan ayat yang sedang ditafsirkan. Ia pun sering menjelaskan antara hadis atau riwayat yang dapat dijadikan argumentasi (hujah) dan yang tidak, tanpa mengabaikan pendapat para sahabat, tabi’in dan para ulama salaf. Ketiga, mengemukakan berbagai pendapat mufasir atau ulama sebelumnya. Dalam hal ini, ia terkadang menentukan pendapat yang paling kuat di antara pendapat para ulama yang dikutipnya, atau mengemukakan pendapatnya sendiri dan terkadang ia sendiri tidak berpendapat.[22]
Berikut secara singkat akan dipaparkan contoh penafsiran Ibnu Katsir[23] :
a.    Contoh penafsiran Alquran dengan ayat-ayat lainnya yaitu, ketika Ibnu Katsir menafsirkan kalimat (ﻫﺪﻯ ﻟﻠﻤﺘﻘﻴﻥ) Alquran sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Dalam QS. Al-Baqarah (2) : 2, ia menafsirkannya dengan tiga ayat lain dari QS. Fussilat (41) : 44, al-Isra’ (17) : 82 dan Yunus (10) : 85 sehingga pengertiannya menjadi khusus yakni bagi orang-orang yang beriman.
b.    Contoh penafsiran dengan hadis, metode ini ia pakai ketika penjelasan dari ayat lain tidak ditemukan, atau jika ayat lain ada, penyajian hadis dimaksudkan untuk melengkapi penjelasan. Hal ini merupakan ciri khas tafsir Ibnu Kasir. Dalam tafsir ini, secara kuantitas banyak sekali dikutip hadis-hadis yang dianggap terkait atau dapat menjelaskan maksud ayat yang sedang ditafsirkan. Contohnya ketika ia menampilkan banyak hadis untuk menafsirkan kata gibah  dalam QS. Al-Hujurat (49) : 12,
( ﻭ ﻻ ﻴﻐﺘﺏ ﺑﻌﻀﻜﻢ ﺑﻌﻀﺎ ), ia menegaskan dengan sabda rasul yaitu :
( ﺬﻜﺮﻚ ﺍﺨﺎﻚ ﺑﻤﺎ ﻴﻜﺮﮦ) kamu membicarakan saudaramu, dengan perkataan yang tidak disenanginya).
c.    Beliau berpendapat bahwa pernyataan sahabat dan tabi’in merupakan rujukan di samping Alquran dan hadis. Pendapat ini didasarkan pada asumsi bahwa sahabat terutama tokoh-tokohnya adalah orang yang lebih mengetahui penafsiran Alquran, karena mereka mengalami dan menyaksikan langsung proses turunnya ayat-ayat Alquran. Di antara pendapat para sahabat yang sangat sering ia kutip ialah pendapat Ibnu ‘Abbas dan Qatadah.

E.   Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Tafsir bi al-Ma’tsur
1.    Kelebihan Pendekatan Tafsir bi al-Ma’tsur
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa pendekatan tafsir bi al-ma’tsur didasarkan dari penjelasan Alquran dengan Alquran itu sendiri, hadis Nabi Saw., pendapat para sahabat, tabi’in, dan oleh tabi’it tabi’in (oleh sebagian pendapat). Penjelasan-penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang tidak dijelaskan dengan rinci dalam Alquran itu, yang berasal dari sumber-sumber tersebut tentunya lebih terpercaya, sebab sumber-sumber tersebut masih berada dan dekat dengan konteks Alquran tersebut diturunkan. Tentunya penjelasan-penjelasan yang berasal dari sumber yang tidak berada dan bahkan berjauhan masa dengan konteks Alquran tersebut diturunkan sulit mendapatkan kepercayaan lebih. 
Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa pendekatan tafsir bi al-ma’tsur ini memiliki kelebihan, yaitu tafsir Alquran dengan melalui penjelasan Alquran dan dengan sunnah Nabi oleh kebanyakan bahkan seluruh mufassir dinyatakan sebagai tafsir paling berkualitas dan paling tinggi kedudukannya.[24]
Berkenaan dengan hal tersebut, sebagaian ulama seperti Ibn Taimiyah dan Ibn Katsir menyatakan bahwa sekiranya ada orang yang bertanya tentang cara penafsiran Alquran yang terbaik, maka jawabannya yang paling tepat adalah menafsirkan Alquran dengan Alquran. Alasannya, jika sebagian ayat Alquran ada yang mujmal (global), maka bagian ayat-ayat lain seringkali dijumpai yang relatif rinci. Manakala tidak dijumpai dalam Alquran tersebut, maka hendaklah berpegang pada sunnah, sebab sunnah berfungsi sebagai penjelas Alquran.[25]
Begitu juga dengan jika tidak ditemukan dalam sunnah rasul, maka hendaklah menemukan jawabannya melalui pendapat para sahabat, sebab para sahabat hidup dalam konteks di mana dan kapan Alquran tersebut diturunkan. Atau setidaknya masih menjumpai Rasulullah Saw. Begitu juga dengan bila tidak ditemukan melalui penjelasan sahabat, hendaknya melihat penjelasan tabi’in. Tabi’in setidaknya bertemu dan berguru pada sahabat. Dan oleh sebagaian pendapat ulama bisa juga merujuk pada tabi’it tabi’in yang telah bertemu dan berguru pada tabi’in.
2.    Kelemahan Pendekatan Tafsir bi al-Ma’tsur
Di samping memiliki kelebihan sebagaimana penjelasan di atas, pendekatan tafsir bi al-ma’tsur tentunya memiliki kelemahan yang perlu dicermati. Berdasarkan hasil telaah terhadap berbagai literatur, dapat disimpulkan bahwa pendekatan tafsir bi al ma’tsur memiliki kelemahan sebagaimana penjelasan berikut :
a.    Adanya pencampuradukkan antara yang sahih dengan yang tidak sahih
b.    Seringnya dijumpai kisah-kisah isra’iliyyat yang penuh dengan khurafat, tahayul, dan bid’ah
c.    Klaim kebenaran pengikut mazhab tertentu terhadap mufassir-mufassir tanpa bukti kebenaran
d.   Banyaknya riwayat sisipan musuh-musuh Islam yang bermaksud merusak Islam
e.    Perpecahan karena perebutan kekuasaan politik, sehingga menafsirkan ayat-ayat tertentu demi kepentingan kelompoknya
F.   Penutup
Sebagai penutup dari makalah ini, penulis mengungkapkan bahwa sebenarnya makalah ini menurut hemat penulis hanya merupakan sebuah langkah awal bagi penulis khususnya, untuk menelaah lebih dalam tentang berbagai hal yang berkaitan dengan materi makalah tersebut. Meskipun, penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, namun bukan berarti penulis tidak berusaha untuk menelaah berbagai literatur yang dianggap relevan dalam penulisan makalah ini.
Akhirnya, meskipun tidak ada kata maaf dalam tataran ilmiah, namun penulis berharap makalah singkat ini dapat berguna serta bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri, dan pada umumnya semua pembaca. Mudah-mudahan ada pelajaran yang bisa didapatkan melalui makalah ini. Semoga!



DAFTAR PUSTAKA
.
Al-Munawwar, Said Agil Husin, Alquran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Jakarta, Ciputat Press, 2002.
Anwar, Rosihon, Ulum Alquran, Bandung, Pustaka Setia, 2008.
Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi, Ilmu-ilmu Al Qur-an, Semarang, PT. Pustaka Rizki Putra, 2002.
Baidan, Nashruddin, Metode Penafsiran Alquran, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002.
Goldziher, Ignaz, Mazhab Tafsir Dari Klasik Hingga Modren, Yogyakarta, Elsaq Press, 2006.
Hakim, M. Baqir, Ulumul Quran, Jakarta, Al-Huda, 2006.
Mahmud, Mani’ Abd Halim, Metodologi Tafsir, Jakarta, PT. Rajagrafindo Persada, 2006.
Nizan, Abu, Buku Pintar Alquran, Jakarta, Qultum Media, 2008.
Qardhawi, Yusuf, Berinteraksi Dengan Alquran, Jakarta, Gema Insani Press, 1999.
_______, Alquran dan Sunnah (Referensi Tertinggi Umat Islam), Jakarta, Rabbani Press, 1997
Rafiq, A,(ed), Studi Kitab Tafsir,Yogyakarta, TH-Press, 2004.
Suma, Muhammad Amin, Studi Ilmu-Ilmu Alquran, Jakarta, Pustaka Firdaus, 2001.
Tim Penulis, Studi Kitab Tafsir, Yogyakarta, Teras, 2004.
Yunus, Mahmud, Kamus Arab – Indonesia, Jakarta, Hidakarya Agung, 1989.


Footnote:

[1] Dalam hal ini, penulis tidak membahasakannya sebagai “sumber utama penetapan hukum” dikarenakan Alquran menurut penulis lebih dari sekedar itu. Alquran tidak hanya berbicara tentang penetapan hukum, akan tetapi lebih dari itu, Alquran juga berisi tentang kisah-kisah umat sebelum Nabi Muhammad, yang bisa kita ambil hikmahnya, juga berisi tentang kabar-kabar gembira bagi yang mengikuti ajaran Rasulullah, dan peringatan bagi yang berpaling dari ajaran beliau, konsep hidup, dsb.
[2] Said Agil Husin Al Munawar, Alquran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Jakarta, Ciputat Press, 2002, hlm. 76.
[3] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,  Ilmu-ilmu Alquran, Semarang, PT. Pustaka Rizki Putra, 2002, hlm. 199.
[4] Said Agil Husin Al Munawar, Alquran Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Jakarta, Ciputat Press, 2002, hlm. 76.
[5] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-ilmu Alquran, Semarang, PT. Pustaka Rizki Putra, 2002, hlm. 199.
[6] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-ilmu Alquran, Semarang, PT. Pustaka Rizki Putra, 2002, hlm. 199.
[7] Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-ilmu Alquran, Semarang, PT. Pustaka Rizki Putra, 2002, hlm. 199.
[8]  M. Baqir Hakim, Ulumul Quran, Jakarta, Al-Huda, 2006, hlm. 321-322.
[9] M. Baqir Hakim, Ulumul Quran, Jakarta, Al-Huda, 2006, hlm. 321-322.     
[10] Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an 2, Jakarta, Pustaka Firdaus, 2001, hlm. 47-48.  & lihat juga pada  Mahmud Yunus, Kamus Arab – Indonesia, Jakarta, Hidakarya Agung, 1989, hlm. 33.
[11]  Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-ilmu Alquran, Semarang, PT. Pustaka Rizki Putra, 2002, hlm. 199.
[12]  Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an 2, Jakarta, Pustaka Firdaus, 2001, hlm. 47-48.  & lihat juga pada  Mahmud Yunus, Kamus Arab – Indonesia, Jakarta, Hidakarya Agung, 1989, hlm. 33.
[13]  Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan Alquran, Jakarta, Gema Insani Press, 2001, hlm. 295.
[14] Mani’ Abd Halim Mahmud, Metodologi Tafsir (Kajian Komprehensif Metode Para Ahli Tafsir), Jakarta, PT rajagrafindo Persada, 2006, hlm. 68-70.
[15]  Tim Penulis, Studi Kitab Tafsir, Yogyakarta, Teras, 2004, hlm. 21.
[16] Mani’ Abd Halim Mahmud, Metodologi Tafsir (Kajian Komprehensif Metode Para Ahli Tafsir), Jakarta, PT rajagrafindo Persada, 2006,  hlm. 70.
[17] Tim Penulis, Studi Kitab Tafsir, Yogyakarta, Teras, 2004, hlm. 33.
[18] Tim Penulis, Studi Kitab Tafsir, Yogyakarta, Teras, 2004, hlm. 34-35.
[19] Dalam referensi lain, ada yang mengatakan beliau lahir tahun 700H/ 1300 M.
[20] Mani’ Abd Halim Mahmud, Metodologi Tafsir (Kajian Komprehensif Metode Para Ahli Tafsir), Jakarta, PT rajagrafindo Persada, 2006, hlm. 64.
[21] Tim Penulis, Studi Kitab Tafsir, Yogyakarta, Teras, 2004, hlm. 137-138.
[22] Tim Penulis, Studi Kitab Tafsir, Yogyakarta, Teras, 2004, hlm. 138-139.
[23] Tim Penulis, Studi Kitab Tafsir, Yogyakarta, Teras, 2004, hlm. 139-141.
[24]  Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an 2, Jakarta, Pustaka Firdaus, 2001, hlm. 63.
[25]  Muhammad Amin Suma, Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an 2, Jakarta, Pustaka Firdaus, 2001, hlm. 63-64.