Minggu, 05 Februari 2012

MASALAH YANG BERKEPANJANGAN

Berbicara tentang pendidikan sama dengan kita berbicara tentang kebutuhan manusia yang paling natural. Kebutuhan manusia terhadap pendidikan semakin penting seiringan dengan berkembangnya kebutuhan manusia dalam berbagai aspek kehidupannya. Namun kenyataannya, kualitas pendidikan kita selalu tertinggal dari berbagai perkembangan kebutuhan-kebutuhan manusia yang semakin komprehensif. Sehingga, tidak jarang ditemukan alumnus-alumnus pendidikan yang pengangguran, atau bahkan sarjana-sarjana kelayapan yang kompetensinya jauh dari standar yang diinginkan dunia pekerjaan. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, mari kita sejenak mengenali asal masalah tersebut. Karena untuk mencari solusi harus dimulai dengan pengenalan/ identifikasi masalah. Yuk mari kita analisa masalahnya.


Isu pertama adalah kekerasan dan kemiskinan masih rame. Indonesia telah merdeka lebih dari 60 tahun lamanya, tapi liputan-liputan kekerasan dan premanisme masih sering terjadi negeri ini. Bahkan pihak berwenang sendiri tidak punya nyali untuk menuntaskannya. Begitu juga dengan kemiskinan tampaknya berkontribusi bagi terjadinya peningkatan kasus-kasus tindak kekerasan. Seperti Pencurian, Pelacuran, dan lain sebagainya. Kemiskinan juga telah menyebabkan bakat emas yang dimiliki rakyat terkubur karena tidak sanggup memenuhi biaya pendidikan yang selangit. Karena, empati para praktisi pendidikan terhadap masyarakat miskin telah semakin rendah dan bahkan hampir hilang. Sehingga pendidikan yang bagus hanya diproyeksikan bagi mereka yang memiliki modal atau tabungan. Padahal, tidak sedikit para ilmuwan yang lahir dari keluarga miskin yang berasal dari rakyat pedesaan. Oleh karena itu, semestinya setiap personil pendidikan harus berbuat dengan hati yang senang dan ikhlas dalam menjalankan profesinya, sebelum ia menuntut berbagai haknya.

Isu kedua adalah keragaman dan Potensi perpecahan. Kita tidak dapat pungkiri bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika belum menyentuh sisi kehidupan kita. Persoalan etnis, organisasi, suku, dan keluarga masih saja memunculkan serangkaian konflik internal dalam dunia pendidikan khususnya. Seperti maraknya kasus nepotisme pejabat atau guru yang menjadikan kampus milik keluarga. Misalnya, penulis pernah dengar bahwa suatu konflik yang terjadi di dalam sebuah keluarga telah mendorong lahirnya suatu lembaga pendidikan yang baru. Yang kemudian lembaga pendidikan tersebut dijadikan lahan bisnis dan simbol ketenaran bagi pemiliknya. Sehingga pelayanannya sering bersifat tidak adil dan diskriminatif.

Isu ketiga adalah kegagalan pendidikan dalam menciptakan moralitas anak bangsa. Pendidikan nasional kita dalam berbagai jenis dan jenjang, tampaknya “gagal” dalam membentuk peserta didik yang memiliki budi pekerti yang baik. Harus diakui bahwa rendahnya moralitas sebahagian para pengelola negara, politikus, pengusaha, bahkan mahasiswa adalah merupakan produk dari sistem pendidikan nasional yang gagal menghantarkan outputnya dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai moralitas dalam kehidupannya.

Salah satu aspek moral yang semakin terkikis di negara kita ini adalah sifat kejujuran. Padahal, sifat kejujuran adalah modal utama dalam kehidupan. Sebaliknya, perbuatan dusta adalah pangkal dari berbagai maksiat yang lain. Seperti; korupsi, penipuan, dan pencurian.
Keberhasilan pendidikan kejujuran sangat ditentukan oleh dukungan dari seluruh personil pendidikan, keluarga dan masyarakat, disamping juga dibutuhkan suatu strategi khusus. Salah satu strategi pendidikan yang dapat dilakukan untuk mencegah anak dari perbuatan dusta dapat dilakukan dengan: 1) memberikan pemahaman yang baik kepada anak perihal urgensi sifat jujur dan bahaya dusta, 2) memberikan teladan, 3) menjalin hubungan yang terbuka dengan anak, 4) tidak memberikan hukuman yang berlebihan, dan 5) menyediakan kondisi sosial yang baik dan sarana yang dapat merangsang tumbuhnya sikap jujur anak, seperti membuat kotak kejujuran untuk tempat barang temuan dan membangun kantin-kantin kejujuran.

Isu yang keempat adalah Kuantitas versus kualitas. Sejak Indonesia merdeka, kita telah memiliki tekad yang kuat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara menyeluruh. Namun sayangnya tekad ini diterjemahkan dengan mendirikan lembaga pendidikan sebanyak-banyaknya dan kurang mengoptimalkan pencapaian standar proses pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan tersebut.

Pembangunan lembaga pendidikan yang belum sepenuhnya merata juga telah berimplikasi pada rendahnya kepercayaan masyarakat kepada suatu lembaga pendidikan. Bahkan ironisnya, sebahagian masyarakat telah mengklaim bahwa sebagaian lembaga pendidikan yang ada di daerah-daerah hanya justru melaksanakan proses pembodohan terhadap peserta didiknya.