Jumat, 19 September 2014

1 DUSUN 3 MESJID (RESENSI BUKU )

A.    Identitas Buku
Penulis                  : Ahmad Salehuddin
Judul Buku          : Satu Dusun Tiga Masjid
Penerbit                : Pilar Media 
Tebal Buku          : 131 Halaman
Peresensi              : Safran Hasibuan

B.     Latar Belakang dan Masalah Penelitian
Dalam sejarah manusia di seluruh dunia dan pada setiap zaman, agama adalah sesuatu yang terus berubah. Demikian juga dengan budaya, kehidupan sosial, sistem politik dan lain sebagainya. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak pernah berhenti untuk belajar dari pengalamannya dan, berdasarkan pengalaman itu, akan selalu mengubah kehidupannya secara terus menerus. Jadi, untuk mengerti hal-hal semacam itu, harus dibuang semua pemikiran yang menganggap bahwa agama dan budaya  itu sesuatu yang beku, yang tetap begitu saja dan tidak pernah berubah.
Dinamisnya pemikiran manusia ini, ternyata membuat pemimpin agama memiliki pandangan dan konsepsi yang berbeda dalam memahami ajaran agama,
dan ketika para pemimpin agama menilai bahwa agama yang mereka lihat adalah sesuatu yang sesat, maka sering dan akan muncul upaya-upaya dalam memurnikan agama yang dipandang salah tadi. Dari upaya-upaya semacam inilah muncul ketegangan sosial dan sampai pada konflik berdarah.
Pemurnian agama ini kemudian muncul di tengah-tengah kehidupan masayarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa tepatnya di Dusun Gunung Sari,   dengan masyarakat yang dulunya bersembahyang bersama di satu langgar saja, tapi kemudian terbelah menjadi tiga aliran Islam dan tiga masjid setelah gerakan-gerakan pemurnian agama masuk ke desa tersebut. Jadi, menurut pemahaman peresensi, latar belakang masalah penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Salehuddin dalam menyusun buku Satu Dusun Tiga Masjid yang menjadi pembahasan resensi ini adalah karena adanya pemurnian agama yang terjadi di Dusun Gunung Sari yang mengakibatkan terbelahnya masyarakat ke dalam tiga aliran Islam. 
C.    Lokasi Penelitian
Dusun Gunung Sari terletak di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berjarak sekitar 6 KM ke arah selatan dari ibu kota kecamatan, 26 Km sebelah tenggara ibu kota kabupaten, dan 17 KM sebelah timur ibu kota provinsi. Gunung sari Merupakan daerah paling timur Kabupaten Sleman dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Gunung Sari terletak 390 m di atas permukaan laut, suhu udara berkisar antara 320 – 360 C, dengan curah hujan sekitar 2000 – 3000 mm pertahun. Setiap tahun, Gunung sari Menikmati suasana alam yang cukup Ekstrim.
Posisi Gunung Sari adalah sebagai berikut:
1.    Sebelah utara berbatasan dengan Dusun Dawangsari
2.    Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Madu Rejo
3.    Sebelah barat berbatasan dengan Desa Boko Harjo
4.    Sebelah Timur berbatasan dengan Dusun Nglengkong
       Dari sekian dusun yang ada di Sambirejo, Gunung Sari merupakan Dusun yang mempunyai tingkat kesejahteraan penduduk paling tinggi. Hamper tidak ada pengangguran di daerah ini, semua tenaga produktif terserap oleh industri batu yang berjumlah 10 buah.
Dalam sistem pemerintahan Dusun Gunung Sari dibagi menjadi 3 RW dan 8 RT, dengan jumlah penduduk 839 jiwa yang terdiri dari 433 laki-laki, dan 406 perempuan. Adapun mata pencarian mereka secara formal sebagaimana yang ditunjukkan dalam KTP adalah petani, namun pada umumnya mereka bekerja sebagai pekerja batu dan peternak.
Karena hampir setiap rumah terdapat kandang sapi, yang benar-benar menjadi petani pada umumnya adalah para orang tua yang sudah mulai menurun kekuatan wadangnya, sedangkan yang lebih muda dan tenaganya masih kuat terlibat dalam industri penggergajian batu. Ketertarikan penduduk untuk bekerja di industri batu karena pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian tinggi dan sudah menjadi pekerjaan yang turun temurun.   
Secara Geo-Religious, masyarakat Gunung Sari semuanya beragama Islam, mereka terbagi dalam tiga kelompok keagamaan:
1.      Nahdatul Ulama (NU), dari warga RT 3, 4, 5 dan 8  
2.      Muhammadiyah, dari warga RT 1 dan 2
3.      Islam Tauhid, dari warga RT 6 dan 7
setiap rombongan ini mempunyai masjid masing-masing :
1.      Masjid Miftahul Huda milik kelompok NU
2.      Masjid Al-Ikhlas milik kelompok Muhammadiyah
3.      Masjid Zuhud milik kelompok Islam Tuhid

D.    Metode Penelitian
Dalam metodologi penelitian kualitatif ada beberapa teori yang digunakan perisearch untuk memperoleh keterangan dan data yang absah pada saat melakukan penelitian dan menyimpulkan penelitian, teorinya adalah sebagai berikut:
1.       Fenomenologi
2.       Hermeneutik
3.       Interaksi Simbolik
4.       Etnometodologi
5.       Teori Budaya


Fenomenologi
Perspektif ini mengarahkan pada apa yang dicari peneliti dalam kegiatan penelitiannya, bagaimana melakukan kegiatan dalam situasi penelitian, dan bagaimana peneliti menafsir beragam informasi yang telah digali dan dicatat, semuanya bergantung pada perspektif teoritis yang digunakannya .
1)      Memandang perilaku manusia, apa yang mereka katakan dan apa yang mereka lakukan adalah sebagai suatu produk dari bagaimana orang melakukan tafsir terhadap dunia mereka sendiri.
2)      Tugas penelitian kualitatif adalah untuk menangkap proses tersebut dan untuk itu diperlukan apa yang disebut oleh Weber verstehen, atau pemahaman empatik dengan cara merasa berada di dalam diri orang lain yaitu kemampuan untuk mereproduksi diri di dalam pikiran orang, perasaan,motif yang menjadi latarbelakang kegiatannya (participatant’s point of view).
3)      Penelitian dengan pendekatan fenomenologi  berusaha untuk memahami makna dari berbagai peristiwa dan interaksi manusia di dalam situasinya yang khusus. Penelitian dengan cara ini dimulai dengan sikap diam dan terbuka tanpa prasangka
4)      Para penganut fenomenologi percaya bahwa ada berbagai cara bagi manusia untuk menginterpretasikan pengalamannya sehari-hari lewat interaksi dengan orang lain, dan makna dari pengalamannya itulah yang menyusun realitas bagi dirinya.
5)      Oleh karenanya diyakini bahwa realitas terbentuk dari interaksi sosial yang telah dilakukannya (socially constructed).
6)      Atas dasar itu penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pengertian atas subjeknya dari pandangan subjek itu sendiri.
7)      Suatu peristiwa selalu harus dilihat dari beragam perspektif dari orang-orang yang terlibat, baik secara aktif maupun pasif dalam peristiwa tersebut.
8)      Cara pandang ini membentuk simpulan multiperspektif yang menimbulkan makna intersubjektif, dengan memerhatikan beragam alasan mengapa dan bagaimana terjadinya tafsir makna mengenai suatu peristiwa.

Hermeneutik
Hermeneutik mengarah pada penafsiran ekspresi yang penuh makna dan dilakukan dengan sengaja oleh manusia. Artinya, kita melakukan interpretasi atas interpretasi yang telah dilakukan oleh pribadi atau kelompok manusia terhadap situasi mereka sendiri. Dalam sebuah interpretasi terhadap suatu hasil karya, diyakini bahwa karya atau peristiwa memiliki makna dari interpretasi para pelaku atau pembuatnya. Karya atau peristiwa yang merupakan interpretasi atau sesuatu tersebut selanjutnya menghadapi pembaca atau pengamatnya dan ditangkap dan diinterpretasi pula.
Dalam menjelaskan sebuah karya seni, setiap karya akan selalu diciptakan kembali oleh pengamatnya, atau dengan kata lain, mendapatkan makna baru yang diciptakan oleh pengamatnya. Perlu dipahami bahwa makna ekspresi manusia selalu terikat dan tak mungkin dapat dipisahkan dari konteksnya. Dengan demikian untuk memahami suatu ekspresi, orang harus memahami konteksnya, dan untuk memahami konteksnya orang harus memahami ekspresi-ekspresi individual
Hermenutik mempersyaratkan suatu aktivitas konstan dari interpretasi antara bagian dengan keseluruhannya, yang merupakan suatu proses tanpa awal dan juga tanpa akhir. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif seorang peneliti hanya dapat menyajikan suatu interpretasi(didasarkan pada nilai-nilai,minat, dan tujuan ) atas interpretasi orang lain atau subjek yang diteliti yang juga didasarkan pada nilai-nilai,minat dan tujuan mereka sendiri. Seorang peneliti kualitatif tak pernah menganggap bahwa setiap deskripsi bersifat definitif. Ia selalu meningkatkan kesungguhan dan kemungkinan-kemungkinan reflektifnya.
Validitas keputusan mengenai sesuatu dapat diwujudkan dari deskripsi yang tegas,bersama-sama dengan pengalaman orang lain dalam suatu konteks antarsubjektif, termasuk di dalamnya juga melibatkan interpretasi penelitinya. Pola kerja semacam inilah yang menyebabkan penelitian kualitatif  bersifat multiperspektif untuk mendapatkan simpulan makna mengenai sesuatu yang bersifat intersubjektif. Hubungan antara peneliti dengan yang diteliti tidak linier tetapi terjadi secara dialektik interaktif. Jadi dalam  hermeneutik tidak ada tafsir tunggal yang dapat menyatakan pandangan keseluruhan, maka sejauh yang dapat didukung oleh fenomenanya, adalah sangat mungkin keragaman tafsir yang terjadi dapat digabungkan ke dalam penafsiran makna yang lebih kaya.


Interaksi Simbolik
Teori ini berasumsi bahwa pengalaman manusia diperoleh lewat interpretasi. Objek, situasi, orang dan peristiwa tidak memiliki maknanya sendiri. Adanya dan terjadinya makna dari berbagai hal tersebut karena diberi berdasarkan interpretasi dari orang yang terlibat. Di dalam melakukan interpretasi seseorang dapat menggunakan bantuan dari orang lain, dalam aktivitas dan pergaulan hidupnya sehari-hari,baik dengan orang-orang dengan masa lampaunya yang berbeda-beda,misalnya para penulis, anggota keluarga,serta orang lain yang dijumpainya di tempat kerja dan tempat bermain,maupun dalam informasi tertulis.
Lewat interpretasi orang lain, seseorang membentuk makna tentang sesuatu. Orang secara konstan berada di dalam suatu proses interpretasi dan definisi selama mereka bergerak dari satu situasi ke situasi yang lain. Semua situasi terdiri dari para pelaku dengan kegiatannya dan juga berbagai objek fisik yang terdapat dlam situasi tersebut. Dalam setiap kasus, suatu situasi memiliki makna hanya lewat interpretasi orang-orang dan juga definisinya mengenai situasi tersebut. Situasi atau aspek-aspeknya didefinisikan secara berbeda oleh pelaku yang berbeda berdasarkan atas sejumlah alasan tertentu.
Salah satu alasan adalah bahwa setiap pelaku membawa serta masa lampaunya yang unik dan suatu cara tertentu dalam  menginterpretasikan apa yang dilihat dan dialaminya. Di dalam perspektif IS semua organisasi sosial terdiri dari para pelaku yang mengembangkan definisi tentang suatu situasi atau perspektif lewat proses interpretasi dan mereka bertindak dalam atau sesuai dengan makna definisi tersebut.


Etnometodologi
Etnometodologi lebih sering menekankan pada subjek pokok yang diteliti dan biasanya kurang menyatakan atau menjelaskan metode yang digunakan oleh para penelitinya. Ia merupakan studi tentang bagaimana individu mencipta dan memahami kehidupan sehari-harinya, atau metode pencapaian yang digunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Subjek penelitiannya adalah orang atau kelompok dalam berbagai situasi khusus di dalam masyarakat kita. Para peneliti berusaha mengerti bagaimana orang memandang  dan merumuskan struktur di dunia kehidupan sendiri sehari-hari.


Teori Budaya
Budaya merupakan pengetahuan yang diperoleh seseorang dan digunakan untuk menginterpretasikan pengalaman yang menghasilkan perilakunya. Apa yang dilakukan dan mengapa orang melakukan berbagai hal dalam kehidupannya selalu didasarkan pada definisi menurut pendapatnya sendiri yang dipengaruhi secara kuat oleh latarbelakang budayanya yang khusus. Budaya yang berbeda melatih orang secara berbeda pula di dalam menangkap makna persepsi, karena kebudayaan merupakan cara khusus dalam membentuk pikiran dan pandangan manusia.
Berdasarkan penjelasan teoritis di atas dan pemaparan hasil penelitian yang disajikan penulis dalam buku Satu Dusun Tiga Masjid, peresensi memahami bahwa metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode Kualitatif, yang mana menurut peresensi penelitian kualitatif salah satunya bertujuan untuk melakukan penafsiran terhadap fenomena sosial, para periset kualitatif biasanya menggunakan tiga alat pengumpulan data yaitu: Studi Kepustakaan, Wawancara, Pengamatan.
Data yang dikumpulkan penulis inilah yang peresensi temukan dalam buku tersebut, degan perincian sebagai berikut:
1.    Data Studi Kepustakaan, data ini terlihat pada saat penulis menggunakan teori (mengambil kutipan) yang telah dikemukakan para peneliti terdahulu, seperti:
a)    Clifford Geertz, 1964 pada halaman 1
b)   Munir Mulkhan, 2000 pada halaman 8
c)    Abdullah, 1987 pada halaman 15, dll.      
2.      Data Wawancara, seperti wawancara yang dicantumkan penulis dengan Marjuni pada halaman 24, Pak Tukimin pada halaman 32, dan sebagainya.
3.      Data Pengamatan, seperti inti penelitian yang dipaparkan penulis khususnya pada bagian dua dan tiga buku Satu Dusun Tiga masjid.

E.     Pendekatan Penelitian
Dari isi buku Satu Dusun Tiga Masjid yang telah dibaca oleh peresensi, peresensi memahami bahwa pendekatan yang digunakan Ahmad Salehuddin dalam melakukan penelitian di Gunung Sari setidaknya ada 4 pendekatan yang digunakan, seperti yang tertera di bawah ini: 
1.      Pendekatan Antropologis
2.      Pendekatan sosoiologis
3.      Pendekatan psikologis
4.      Pendekatan Teologis.
Peresensi memahami, pendekatan penelitian di atas sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis buku “Satu Dusun Tiga Masjid” karena penelitiannya langsung terjun ke dalam masyarakat yang berbeda pemahaman dalam menjalankan tradisi lokal atau budaya, interaksi sosial yang tersekat-sekat, pemahaman terhadap teks-teks kegamaan dan ritualisasi keagamaan sebagai wujud dari pemahaman agam itu sendiri.   

F.     Temuan Penelitian
Salah satu pemaparan yang paling menarik dikaji dan yang menjadi inti pembahasan penelitian Ahmad Salehuddin menurut peresensi adalah pada bagian dua dan tiga buku yang diresensi, terutama pada ulasan yang sesuai dengan judul buku tersebut yaitu “Satu Dusun Tiga Masjid” pada halaman 39 – 45.
Pada awalnya, di Gunung Sari hanya ada satu langgar. Langgar tersebut digunakan untuk beribadah kepada Allah dan juga untuk melakukan aktifitas sosial keagamaan. Namun masuknya faham keagamaan lain yang mempunyai pemahaman yang berbeda terhadap Islam telah membawa imbas terhadap keberadaan langgar tersebut, dan langgar itupun dirobohkan pada akhir tahun 1987.
Pemugaran satu-satunya langgar di Gunung Sari, menjadi satu pertanda bahwa rombongan keagamaan di Gunung Sari tidak hanya satu rombongan tetapi telah berubah menjadi tiga rombongan, yaitu Islam Tauhid, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Pemugaran itu kemudian diikuti oleh pembangunan tiga masjid di Gunung Sari oleh kelompok yang berbeda. Masjid tidak sekedar menjadi tempat beribadah tapi juga peneguhan identitas rombongan keagamaan dan sekat dalam interaksi sosial msyarakat gunung sari.
Ahmad Salehuddin memaparkan bahwa di Gunung Sari terdapat tiga masjid, yaitu:
1.      Masjid Zuhud milik Islam Tauhid yang berada di RT 6, masyarakat Gunung Sari menyebut masjid ini dengan masjid kidul dalan (selatan jalan), karena letaknya berada di sebelah selatan jalan. Masjid ini didirikan pada akhir tahun 1987, yakni setelah satu-satunya langgar yang ada di Gunung Sari dirobohkan. Masjid dibangun berdasarkan prinsip ora njaluk, tapi lek dike’i ora nolak (tidak meminta tetapi jika diberi tidak menolak), artinya dalam pembangunan masjid ini tidak di dapat dari meminta-minta, tetapi sepenuhnya berdasarkan kerelaan anggotanya untuk menyumbang. Pembangunan masjid Zuhud yang dibiayai sendiri oleh rombongan Islam Tauhid ini menimbulkan kemarahan masyarakat Gunung Sari, dan inilah awal terbelahnya masyarakat Gunung Sari. 
2.      Masjid Miftahul Huda milik NU yang berada di RT 4, yang sering disebut dengan masjid lor dalan (utara jalan) karena terletak di sebelah utara jalan. Pembangunan masjid ini dilakukan sejak tahun 1988, yakni sebagai respon terhadap pembangunan masjid zuhud oleh rombongan islam tauhid. Pembangunan masjid ini dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Gunung Sari. Ada yang menyumbang pring (bambu), kayu, genteng dan juga uang. Pembangunan  masjid ini selesai pada tahun 1989. Selama masjid dibangun, mereka melaksanakan shalat Jumat di rumah Bapak Shobari, yang kemudian ditunjuk sebagai takmir mesjid.
3.      Masjid Al-Ikhlas milik rombongan Muhammadiyah yang berada di RT 2, masjid ini sering disebut dengan masjid muhammadiyah. Pembangunan masjid ini juga dilakukan pada tahun 1988, yakni setelah pembongkaran langgar dan pembangunan masjid zuhud, dan selesai tahun 1992. Selama pembangunan masjid rombongan Muhammadiyah melakukan shalat tarawih di rumah Marjuni dan shalat Jumat di Masjid Pandan Rejo.       
Selain hal di atas, buku yang ditulis oleh Ahmad Salehuddin ini sebenarnya mencoba melihat agama yang bekerja dalam masyarakat, atau memahami ekspresi keberagamaan masyarakat dan interaksi sosial keagamaan dengan mempertimbangkan konsistensi sosial-keberagmaannya. Hasilnya ditemukan wajah-wajah agama baru berdasarkan tiga tipologi hubungan agama dan budaya lokal, yaitu sinkretis, akulturatif dan sinkretis-akulturatif.
    
G.    Sumbangan Pemikiran Penulis 
Berdasarkan pemaparan yang tetera dalam buku Satu Dusun Tiga Mesjid, secara jelas dapat  diketahui adanya dua pandangan melihat Islam sebagai identitas agama dan jawa sebagai identitas diri atau kelompok yaitu:
1.    Islam sebagai identitas agama dan Jawa sebagai identitas diri atau kelompok harus digunakan secara bersama-sama karena keduanya merupakan sesuatu yang berbeda tetapi saling mempengaruhi
2.    Islam sebagai identitas agama dan Jawa sebagai identitas diri atau kelompok harus dipisahkan karena tidak dapat disatukan. Dengan kata lain manusia mempunyai banyak identitas. Seperti si A yang seorang Muslim, Jawa, Professor, Direktur, Ayah, dan Kepala Rumah Tangga. Semua identitas tersebut dapat saja melekat pada individu-individu . identitas tersebut berasal dari kesadaran manusia untuk menyerap realitas objektif.
Pemahaman yang berbeda-beda terhadap teks-teks suci keagamaan dalam konteks sosio-kulturalnya akan menghasilkan konsep kebenaran yang tidak tunggal dan pada saat yang bersamaan akan menghasilkan beragam jenis orang taat. Ekspresi keberagamaan tersebut dihasilkan dari pemahaman terhadap Islam dengan menggunakan paradigma lokal.
Agama dan Budaya bukan sesuatu yang beku tetapi berada dalam proses menjadi. Mengasumsikan satu atau keduanya sebagai sesuatu yang beku jelas merupakan kesalahan awal untuk memahami agama yang bekerja dalam masyarakat. Masyarakat secara dialektis melahirkan beragam konsep-konsep kebenaran. Konsep-konsep kebenaran itu juga bukan suatu yang statis tetapi sesuatu yang terus berubah (dinamis).
Realitas ini menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi dengan tiba-tiba, tetapi melalui proses ekternalisasi, objektivasi dan inetrnalisasi. Kontruksi sosial keagamaan di Gunung Sari melalui prose tersebut dapat di ringkas sebagai berikut:
Momentum
Proses
Fenomena
Eksternalisasi
Langkah awal memperbaharui ekpresi keberagamaan
Setiap tindakan keagamaan selalu dicarikan legitimasinya di dalam teks-teks suci, tradisi ulama salaf dan perkataan orang alim. Perbedaan ekpresi keberagamaan dipengaruhi oleh perbedaan sumber teks-teks pelegitimasi dan cara memahami teks. Dalam proses ini para pemuka agama membangun konsepsi rasional terhadap ritual yang dilakukan.
Objektivasi
Pertarungan nilai-nilai dalam ranah sosio-kultural
Keyakinan adanya makhluk halus yang hidup secara bersama-sama/berdampingan dengan manusia menumbuhkan dua sikap yang berbeda: pertama, membangun hubungan yang baik dan harmonis sehingga tidak saling mengganggu. Kedua, sebagai ukuran keimanan. Keyakinan bahwa leluhur berada di sisi Allah melahirkan keyakinan bahwa mereka biasa menjadi wasilah kepada Allah. Dalam objektivasi terjadi pembiasaan dan pelambangan. Denga proses ini ritual-ritual keagamaan akan berjalan secara mekanis dan tidak perlu memberikan pemaknaan terhadap ritual yang dilakukan. 
Internalisasi
Momen penyingkapan terhadap realitas objektif
Penyikapan terhadap makhluk halus. Tradisi lokal dan interpretasi terhadap teks-teks suci oleh pemuka agama menyebabkan masyarakat Gunung Sari terbelah menjadi tiga rombongan: NU, Muhammadiyah dan Islam Tauhid. Untuk menunjukkan eksistensi golongannya merela memproduksi klaim-klaim paling benar, seperti dremis, pangane asu atau demit, Islam TK dan Islam Perguruan Tinggi, ora duwe Akhlaq dan lain sebagainya.

Ringkasan proses konstruksi Islam yang tertera pada tabel di atas, merupakan momen yang secara dinamis mengkonstruksi heterogenitas wajah Islam dan memproduksi bermacam-macam jenis orang taat. Proses konstruksi sosial keagamaan tersebut dipenagruhi oleh peran aktif aktor (pemuka agama). Di Gunung Sari, peran aktor sangat nampak dari keneradaan tiga ekspresi kebergamaan yang terhimpun dalam tiga rombongan sosial-keagmaan seperti telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya.

H.    Kesimpulan
Pada awalnya masayarakat Gunung Sari adalah masyarakat Islam NU, ketunggalan paham keagamaan di Gunung Sari hanya sampai pada tahun 1980-an. Setelah itu terdapat tiga wajah islam yang timbul karena pengaruh masuknya tokoh-tokoh yang mempunyai pemahaman baru terhadap teks-teks keislaman.
Mengenai sejarah masuknya tiga aliran Islam ini (NU, Muhammadiyah dan Islam Tauhid) ke Gunung Sari dapat dipahami dengan jelas, hanya saja NU tidak diketahui kapan waktu yang pasti berada sudah berada di Gunung Sari, Islam Tauhid dibawa masuk ke Gunung Sari dari daerah Degan, Kulon Progo oleh ibu maimunah murid KH SS Widarso, dan Bapak Adnan Widarso yang nota bene adalah generasi kedua dalam Islam Tauhid.
Paham baru yang datang bersamaan dengan Islam Tauhid adalah Muhammadiyah. Keberadaan Muhammadiyah di Gunung Sari dibawa oleh pemuda-pemuda Gunung Sari yang belajar di sekolah-sekolah di bawah naungan yayasan Muhammadiyah yaitu Mujimin dan Tukiman. Di sekolah ini, mereka mendapatkan pengetahuan tetntang islam yang sesuai dengan Muhammadiyah. Di sini, mereka mendapatkan penyadaran bahwa Islam yang selama ini dipraktekkan adalah islam yang kurang benar dan berniat untuk memperbaikinya.
Pola pembentukan wajah Islam oleh tokoh-tokoh agama dipengharuhi oleh jalur transmisi keilmuannya.
1.    Jalur transmisi keilmuanrombongan NU berasal dari pondok pesantren Krapyak Yogyakarta. Pondok ini mempunyai peran sentral dalam perkembangan NU di Gunung Sari pada khususnya dan Daerah Itimewa Yogyakarta pada umumnya. Sikap keberagamaan NU yang ramah terhadap tradisi lokal merupakan suatu hal yang lumrah dalam tradisi NU, karena bagi mereka adat adalah hukum (aladatu muhkamatun).
2.    Jalur transmisi keilmuan Muhammadiyah berasal dari sekolah-sekolah modern, sehingga seringkali kelompok ini disebut modernis.
3.    Transmisi keilmuan Islam Tauhid berasal dari daerah Degan, Kulon Progo. Pendiri rombongan ini, pernah menjadi anggota Muhammadiyah dan anggota DPRD dari partai Masyumi. Oleh karena itu, islam yang dibentuk hampir sama dengan Muhammadiyah yaitu mempunyai persamaan dalam shalat jumat, tarawih dan shalat subuh tidak memakai qunut. Perbedaan Islam Tauhid ini dengan dua rombongan lain di Gunung Sari adalah penyikapan terhadap tradisi lokal.
Berdasarkan pembahasan pada buku yang diresensi, ada beberapa catatan penting yang dianggap sebagai inti dari buku tersebut, yaitu:  
1.    Semua kegiatan keagamaan seperti pelaksanaan shalat subuh dengan qunut atau tidak, shalat tarawih dan witir 21 ata 11 rakaat, shalat jumat dengan dua atau satu adzan, membaca puji-pujian setelah adzan, membaca shalawatan, pemberian sesajen kepada tempat-tempat wingit, dan lai sebagainya merupakan bentuk tanggapan terahadap apa yang dipahami sebagai realitas mutlak (Ultimate Reality) dan merupakan ekspresi keberagamaan masyarakat Gunung Sari.
2.    Perbedaan rombongan keagamaan mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap interaksi sosial keagamaan masyarakay Gunung Sari.
3.    Keberadaan wajah Islam lokal sangat ditentukan oleh tokoh pembentuknya, pemahaman terhadap teks-teks agama, penyikapan terhadap tradisi lokal dan faktor sosial politik.