Jumat, 19 September 2014

ANTROPOLOGI ALQURAN: MODEL DIALEKTIKA WAHYU DAN BUDAYA (RESENSI BUKU)



A.  Identitas Buku
Judul Buku               : Antropologi Alquran: Model Dialektika Wahyu dan   Budaya)
Penulis                     : Ali Sodiqin
Penerbit                   : Ar-Ruzz Media
Jumlah Halaman       : 234 Halaman
Peresensi                 : Ade Suhendra

B.  Latar Belakang
Islam adalah agama dengan ajarannya yang universal sekaligus rahmat bagi sekalian alam. Artinya, akan selalu relevan dan kontekstual pada setiap zaman dan tempat, sehingga bisa mengayomi kehidupan seluruh umat manusia. Adanya persinggungan budaya dengan alam manusia kemudian memunculkan wacana autentisitas Al-Qur an sebagai kalam ilahi. Al-Qur an turun adakalanya menjadi respons terhadap permasalahan manusia waktu itu, tentu Al-Qur an akan merevisi, menolak, dan bahkan memperkuat dan melanjutkan tradisi dan kebudayaan yang ada pada zaman tersebut, sehingga wacana keautentikan Al-Qur an menjadi dipertanyakan.
Sehingga penelitian dalam buku ini, akan membahas secara mendalam tentang masalah keautentikan dalam Al-Qur an, jika dikaitkan dengan terjadinya persinggungan Al-Qur an itu sendiri dengan budaya masyarakat Islam saat itu.

C.  Wacana Autentisitas Al-Qur an
Perdebatan tentang status Al-Qur an, apakah bersifat qadim atau hadits, apakah bersifat ‘azali ataukah diciptakan (makhluk) sudah terjadi sejak masa klasik. Sehingga perbedaan pandangan ini meruncing di antara dua kelompok Islam (mutakallimun), kelompok Mu’tazilah dan ahlus sunnah wal hadits. Kelompok Mu’tazilah beranggapan bahwa Al-Qur an adalah sesuatu yang diciptakan Tuhan sehingga bersifat hadits, sedangkan kelompok ahlus sunnah wal hadits beranggapan bahwa Al-Qur an sudah ada sejak zaman ‘azali sehingga bersifat qadim.
Secara empiris, Al-Qur an diturunkan di tengah-tengah masyarakat yang memiliki kebudayaan yang mengakar. Artinya, secara historis Al-Qur an tidak turun dalam ruang hampa yang tanpa konteks. Sebagai pesan Tuhan, wahyu memiliki objek sasaran yaitu masyarakat Arab pada abad ke-VII Masehi. Dengan demikian, melepaskan wahyu dari konteks sosial budayanya adalah pengabaian terhadap historisitas dan realitas. Para ulama ahli Al-Qur an juga mengakui keterkaitan wahyu dengan konteks dengan memunculkan konsep makkiah-madaniyah, asbab al-nuzul, dan nasikh mansukh.
Proses penurunan Al-Qur an mengindikasikan penggunaan pendekatan budaya dari pemberi pesan (Tuhan) kepada penerima pesan. Pertama, penggunaan bahasa Arab sebagai media penyampai pesan Tuhan tentu memiliki pertimbangan efektivitas komunikasi dan transformasi dari pemberi pesan (Tuhan) kepada penerima pesan. Kedua, pemilihan Muhammad sebagai rasul penyampai pesan Al-Qur an. Muhammad berasal dari suku Quraisy, suku yang paling mulia dan dihormati oleh suku-suku Arab. Ketiga, adanya budaya-budaya lokal yang diapresiasi, dikoreksi, diakomodasi, diinovasi oleh Al-Qur an. Perbedaan respon tersebut menunjukkan adanyaa enkulturasi nilai-nilai Al-Qur an ke dalam kebiasaan masyarakat. Al-Qur an ingin menata dan mengorganisasikan masyarakat melalui tradisi mereka. Dengan demikian, hal tersebut menunjukkan adanya pola hubungan antara Al-Qur an sebagai wahyu dengan budaya lokal. Bentuk hubungan tersebut berupa dialektika dan respon wahyu terhadap budaya masyarakat.

D.  Masalah Penelitian
Adanya proses enkulturasi antara wahyu dengan budaya lokal Arab menimbulkan permasalahan mengenai keautentikan dan ke-qat’iy-an aturan-aturan Al-Qur an. Budaya lokal yang telah diserap, diakomodasi, dan diinovasi dalam Al-Qur an akan menimbulkan pertanyaan bagaimana statusnya. Penetapan dan pengaturan tradisi tersebut dalam Al-Qur an, apakah secara otomatis menjadikannya sebagai aturan atau hukum yang berlaku secara universal. Meskipun asalnya adalah praktik lokal Arab, tetapi karena diatur oleh Al-Qur an, maka berlaku juga di masyarakat Islam non-Arab, meski dengan budaya yang tidak sama.

E.   Teori-Teori yang Digunakan dalam Penelitian
1.    Teori Models of Reality dan Models for Reality Clifford Geertz
Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa agama adalah suatu sistem simbol di mana simbol-simbol tersebut bersatu membentuk pola-pola budaya yang pada gilirannya membentuk model. Model of reality dimaknai sebagai adaptasi terhadap pola-pola budaya atau realitas. Proses ini kemudian berlanjut dengan model for reality, di mana agama memberikan konsep atau doktrin untuk realitas. Al-Qur an yang diwahyukan kepada Nabi menawarkan konsep ideal dan universal yang kemudian diaplikasikan ke dalam masyarakat Arab.
2.    Teori Asbab al-Nuzul
Teori ini digunakan untuk memahami teks dan menghasilkan maknanya, karena pengetahuan sebab akan menghasilkan pengetahuan mengenai akibat (musabab). Teori ini dipergunakan untuk menganalisis mengapa sebuah aturan diterapkan dan kaitannya dengan realitas.
3.    Teori Enkulturasi Budaya
Teori ini berpandangan bahwa suatu kompleks unsur-unsur asing seluruhnya dapat diterima hanya bila kompleks unsur-unsur itu dapat disesuaikan dengan bentuk tingkah laku yang lama dan cocok dengan sikap-sikap emosional yang sudah ada. Menurut Kroeber, suatu unsur kebudayaan asli tidak mudah diganti, apabila unsur itu telah diintegrasikan, diolah menjadi satu ke dalam suatu sistem ide yang terorganisasi, dan terjalin dengan butir-butir budaya lainnya ke dalam suatu pola yang lebih luas.

F.   Kerangka Teoretik dan Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan historis-antropologis. Pendekatan ini digunakan untuk melihat secara holistik di mana agama tidak dapat dilihat secara otonom yang tidak terpengaruh oleh praktik-praktik sosial lainnya. Agama dan praktik sosial akan dilihat secara bersama-sama. Dalam antropologi, agama dipandang sebagai salah satu unsur kebudayaan yang dapat dipelajari dari perspektif evolusi, fungsi, dan peranannya dalam masyarakat. Demikian juga Islam yang turun atau diwahyukan dalam masyarakat Arab yang sudah memiliki tradisi yang mapan. Pengaruh antara nilai Islam yang tertera dalam Al-Qur an dengan tradisi tersebut terlihat dalam interaksi di antara keduanya.

G.  Hasil Penelitian
Analisis terhadap formasi ideal yang dilakukan Al-Qur an, melalui peran Nabi Muhammad di dalamnya, dilakukan untuk melihat bagaimana Al-Qur an membagun tatanan masyarakat yang sudah berbudaya tanpa harus menghilangkan kebudayaannya. Metode Al-Qur an ini dapat dijadikan sebagai kerangka berfikir membentuk  masyarakat Qurani. Disamping itu, juga dapat digunakan untuk memilah mana ajaran Al-Qur an yang fundamental dan mana yang instrumental. Kerangka berfikir inilah yang dapat diaplikasikan pada konteks kekinian. Ajaran fundamental yang dimaksud adalah ajaran pokok yang merupakan nilai unversal dari ajaran Al-Qur an yang harus diberlakukan di mana pun dan pada waktu kapan pun. Ajaran ini bersifat abadi keberlakukannya dan tidak dapat dipengaruhi oleh atau tunduk pada sistem sosial atau istiadat yang berlaku.
Ajaran yang bersifat instrumental adalah bentuk-bentuk ajaran yang memiliki keterkaitan dengan adat istiadat yang sudah ada. Atau ajaran yang dibangun dengan menggunakan simbol budaya sebelumnya. Pemilahan antara ajaran fundamental dari perspektif historis-antropologi akan membantu dalam upaya melakukan dialog agama dan budaya. Sikap Al-Qur an terhadap tradisi Arab tidak selamanya bersifat destruktif, terdapat sikap akomodatif bahkan apresiatif.
Sikap Al-Qur an dalam merespon keberadaan tradisi Arab dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu tahmil (menerima atau membiarkan tradisi), seperti tradisi sistem perdagangan, penghormatan terhadap bulan-bulan haram; tahrim (melarang keberadaan tradisi), seperti tradisi berjudi, minum khamar, praktik riba, perbudakan; dan taghyir (menerima dan merekonstruksi tradisi), seperti pakaian dan aurat perempuan, lembaga perkawinan, hukum waris, pengangkatan anak (adopsi), dan hukum qishas-diyat.
Ajaran Al-Qur an yang berhubungan dengan budaya lokal ibarat pisau bermata dua, sisi pertama Al-Qur an mengoreksi, memodernisasi, dan menjustifikasi keberadaan pranata-pranata lama. Tujuannya adalah untuk menyelesaikan problem sosial budaya masyarakat saat itu sesuai dengan kebiasaan yang sudah ada. Sisi kedua adalah Al-Qur an meletakkan nilai-nilai baru yang universal dalam menyelesaikan persoalan umat manusia. Dalam konteks ini, nilai yang dienkulturasikan bersifat substansial, karena berupa prinsip dasar yang universal dan dapat diaplikasikan sepanjang masa.
Al-Qur an diwahyukan kepada Nabi Muhammad dan diteruskan kepada umatnya sebagai pedoman hidup. Risalahnya tidak hanya berisi aturan-aturan hidup saja, tetapi juga metode bagaimana menata atau mengorganisasikan kehidupan. Untuk itu, ayat-ayat Al-Qur an tidak hanya dipahami arti tekstualnya, tetapi juga harus dipelajari bagaimana metode enkulturasinya sebagai solusi masalah sosial waktu itu. Ajaran Al-Qur an bagi masyarakat Arab saat itu adalah model bagi tatana ideal yang kemudian ditransformasikan Nabi ke dalam sistem sosial masyarakat.
Enkulturasi Al-Qur an terhadap tradisi Arab menghasilkan konsep Reproduksi Kebudayaan. Melalui enkulturasi nilai-nilai universalnya, Al-Qur an mereproduksi budaya Arab berdasarkan worlview-nya, yaitu tauhid atau monoteisme dan etika sosial atau moralitas.

H.  Sumbangan Pemikiran Penulis
Munculnya wacana yang mempertanyakan keautentikan Alquran ketika telah bersinggungan dengan budaya masyarakat yang secara historis muncul sesuai konteks masyarakat Arab, sehingga menarik minat penulis untuk menelaahnya lebih jauh dengan melalui berbagai analisis memunculkan sebuah pemikiran yang setidaknya mampu menjawab keraguan tersebut dan terus menjaga keautentikan Alqurn tersebut.
Dalam buku ini, penulis menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan pengadopsian berbagai tradisi arab sebagai bukti adanya persinggungan antara Aquran dengan tradisi Arab, maka yang autentik bukanlah simbol atau pranata yang berasal dari budaya Arab tersebut. Tradisi-tradisi ini hanya menjadi media bagi transformasi (made of transfer) ajaran-ajaran universal Alquran bagi masyarakat Arab saat itu. Keautentikan wahyu terletak pada sifatnya yang universal dan transendental. Dimensi universal ini memberikan nilai-nilai yang sangat umum dan nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui ruang dan waktu.
Hal inilah yang menjadi sumbangan pemikiran penulis yang mampu menjawab keraguan terhadap keautentikan AlQuran tersebut.