Senin, 29 September 2014

APA YANG KAMU LAKUKAN DI BAWAH GUNDUKAN ITU?


"Rasulullah SAW. bersabda; (اكثروا ذكر هادم اللذات)
“Perbanyaklah mengingat pemutus seluruh kenikmatan (kematian).” (H.R. At-Tirmidzi)

Pagi hari ini terasa biasa saja, setelah mandi aku mulai mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus, Namun saat tanganku menghampiri jam tangan yang di atas rak meja tiba-tiba kedipan Hand Phone (HP) mengalihkan pandanganku. Alangkah tersentaknya hatiku saat membaca pesan yg menyatakan telah  wafat pagi ini teman yg biasa memboncengku ke kampus.
Perasaan tidak tentu pun menghampiriku hingga saya ingin langsung memastikan kebenaran pesan tersebut dengan menelpon pengirimnya, namun ternyata takdir Tuhan telah benar-benar berlaku padanya. Saya pun langsung bergegas menyalakan sepeda motor bapak untuk menuju ke rumah duka yg cuma 2000 meter dari rumahku.
Saat mendekati rumah duka, saya mulai mendengar tangisan sanak keluarga yang sepertinya sedang mengelilingi seseorang yang sedang tertidur lelap. Karena penasaran dengannya, saya pun menarik selimutnya untuk mengintip wajah sobatku yg hobi sepak bola itu, namun aku sungguh tidak sanggup melihat bekas kecelakaan yang masih melekat di wajahnya. Menurut cerita, dia mengalami kecelakaan tersebut terjadi pada kemarin sore, yakni saat dia menabrak  melaju menabrak wanita tua yang hendak melintasi jalan raya  dengan kecepatan di atas rata-rata, hingga dia bersama boncengannya yg sekarang masih koma di rumah sakit terbanting dari sepeda motor yang merenggut nyawa wanita tua tersebut.
Setelah memanjatkan doa dan memberikan nasihat sabar kepada orangtuanya saya puj berpaling menghampiri sepeda motorku, namun  di tengah perjalanan tiba-tiba saya merasakan suatu guncangan jiwa yg membuat jemariku gemetar dan kaku saat terbayang wajah biru mayat sahabatku yg biasa menemaniku di atas sepeda motornya.
Sesampai di rumah sayapun segera makan pagi dan langsung berangkat ke kampus dengan menaiki sebuah angkutan umum. Setelah sampai di kelas saya pun melaporkan kematian sobatku tersebut kepada teman2 yang lain. Akhirnya kami pun sefakat untuk izin dari kelas dengan alasan ingin mengumpulkan infak dari mahasiswa dan mempersiapkan bus untuk melayat ke rumah duka.
Sambil menyogohkan kotak infak kepada mahasiswa dan dosen, kamipun mulai teringat kenangan minggu terakhir bersama sobat kami yg baru menhadap Tuhan.
Husein berkata: kamu masih ingat nggak Dan kelakuan Almarhum saat kita makan bareng di warung huta koje,
Hamdan: iya bro, dia mengangkat lauk ikan masnya sambil mengatakan bahwa ikannya masih hidup. Hehehe...
Setelah menjelajahi beberapa kelas dan pojok2 kampus, Akhirnya dana tatusan ribu pun terkumpul dan bus yg akan mengantar teman2ku pun siap meluncur ke rumah duka sebelum sholat jenazah dilaksanakan.
Setelah selesai menyolatkan dan mengubur mayat sahabat karibku yersebut, tiba-tiba aku terpikir terhadap apa uang kulakukan, sekarang saya menguburnya, mungkin besok saya yang berbaring disana untuk dikubur. Klo secara hukum alam, bapak temanku itulah yang seharusnya wafat lebih dulu. Namun itulah kuasa Tuhan, ternyata ajal bisa saja menjemput orang tua dan juga orang muda, bahkan anak kecil sekalipun. ebih pantas ruginya aku bila wafat dalam keadaan lalai kepada Allah. Akhirnya akupun sadar bahwa Allah lah yang meniupkan Ruh manusia dan dia pula yang berhak memanggilnya kapanpun ia suka.
Sayapun mulai takut dan gelisah sebab tidak siap bila Allah tiba2 mencabut nyawaku. Sekarang ini saya masih layak disebut pemalas dan tidak ikhlas. Orang yang melaksanakan sholat subuh saat matahari mulai terbit dan melaksanakan sholat asar saat matahari sudah mulai terbenam. Begitupula nongkrong dan ngafalin tempat makan dan warungkopi masih menjadi kebiasaanku. Saya merasa 20 ribu tidaklah mahal untuk sekali nongkrong, tapi 10 ribu sangatlah mahal untuk diberikan pada peminta-minta.
Air mataku mulai berlinang saat memikirkan kebodohanku dalam menyia2 kan umurku dan kealpaanku dalam mengingat Tuhanku. Saya pun mulai menyadari bahwa kematian akan terjadi pada semua manusia, bahkan manusia sebenarnya setiap hari telah mengalami kematian, yakni saat dia tertidur dan saat sel-sel tubuhnya yang mati gugur dan digantikan dengan sel-sel yang baru.
Hati saya pun bertanya, jika kematian itu adalah jembatan yang dibutuhkan jiwa untuk mengangkat dirinya dari “tanah bumi” menuju langit. Maka apakah penduduk langit akan menerimaku? Sungguh, mengingat mengingat mati telah mulai melumpuhkan kerakusanku dan kecintaanku pada harta dunia, jabatan profesi, penghormatan dan keluarga yang kumiliki. Karena pikiranku selalu bertanya; apa yang sedang terjadi pada orang shalih dan orang jahat yang tinggal sendirian di dalam kuburannya?

____//____