Jumat, 19 September 2014

DISIPLIN KELAS, DISIPLIN GURU DAN SISWA



A.  PENDAHULUAN
Disiplin sangat penting artinya bagi guru dan siswa. Karena itu ia harus ditanamkan secara terus menerus kepada mereka. Dengan penanaman yang terus menerus, maka disiplin tersebut akan menjadi kebiasaan bagi mereka. Orang-orang yang berhasil dalam bidangnya masing-masing, umumnya mempunyai kedisiplinan yang tinggi. Sebaliknya orang yang gagal, umumnya tidak disiplin.
Pada tulisan ini akan dibahas tentang: (1) konsep disiplin, (2) disiplin kelas (3) pembinaan disiplin guru, (4) disiplin kerja guru di Indonesia, dan (5) disiplin siswa.

 B.  DISIPLIN KELAS
            Disiplin kelas adalah :
”keadaan tata tertib dalam suatu kelas yang di dalamnya tergabung guru dan siswa taat kepada tata tertib yang telah ditetapkan. Disiplin dalam arti luas, pendidikan adalah suatu proses bersama proses itu anak bertumbuh  dan berkembang dalam belajar.”[1]
1.      Cara /Tehnik Membina Disiplin Guru[2]
a.       Pendekatan yang digunakan
(1).       Pemberian bimbingan
Guru hendaknya memberikan kesempatan bagi siswa untuk berbuat dan menumbuhkan gagasan/ ide-ide baru secara wajar sesuai dengan tingkat kelasnya. Dalam hubungan ini siswa siswa perlu dibimbing dan penyuluhan untuk memahami  dan mengenali diri sendiri.
(2).       Evaluasi pada diri pribadi.
Guru hendaknya memberikan kesempatan pada siswa untuk mengevaluasi tingkah lakunya berdasarkan peraturan tata tertib yang ditetapkan
b.      Tehnik-Tehnik Yang Digunakan
(1)   Tehnik keteladanan guru
Guru hendaknya memberikan contoh teladan terhadap sikap dan prilaku yang baik kepada siswanya.
(2)   Tehnik Bimbingan Guru.
Guru hendaknya senantiasa memberikan bimbingan dan penyuluhan untuk meningkatkan kedisiplinan  para siswanya.
(3)   Tehnik Pengawasan bersama
Disiplin kelas yang baik mengandung pula kesadaran akan tujuan bersama, guru dan siswa menerimanya sebagai pengendali, sehingga situasi kelas menjadi tertib.
Dalam mewujudan tujuan bersama beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam proses desain kelas sebagai berikut:
a.       Mengadakan perencanaan bersama antara para guru dengan siswa.
b.      Mengembangkan kepemimpinan dan tanggungjawab pada siswa.

C.  KONSEP DISIPLIN KERJA GURU
            The Liang Gie (1972) memberikan pengertian disiplin sebagai berikut:
”Disiplin adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung  dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati”.
Good’s (1959) dalam Dictionary of Education mengartikan disiplin sebagai berikut:
  1. Proses atau hasil pengarahan atau pengendalian keinginan, dorongan atau kepentingan guna mencapai maksud atau untuk mencapai tindakan yang lebih sangkil.
  2. Mencari tindakan terpilih dengan ulet, aktif dan diarahkan sendiri, sekalipun menghadapi rintangan.
  3. pengendalian perilaku secara langsung dan otoriter dengan hukuman atau hadiah.
  4. pengekangan dorongan dengan cara yang tak nyaman dan bahkan menyakitkan.[3]

Webster’s New Wold Dictionary (1959) memberikan batasan disiplin sebagai: Latihan untuk mengendalikan diri, karakter dan keadaan secara tertib dan efisien.
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut kiranya jelas, bahwa disiplin adalah suatu keadaan dimana sesuatu itu berada dalam keadaan tertib, teratur dan semestinya, serta tiada suatu pelanggaran-pelanggaran baik secara langsung maupun tidak langsung.
      Adapun pengertian disiplin kerja guru adalah suatu keadaan tertib dan teratur yang dimiliki oleh guru dalam bekerja di sekolah, tanpa ada pelanggaran-pelanggaran yang merugikan baik secara langsung maupun tidak langsung.

D.  MACAM-MACAM DISIPLIN
      Ada tiga macam disiplin:[4]
1.      Disiplin yang yang dibangun berdasarkan konsep otoritarian.
Menurut kacamata konsep ini, guru disekolah dikatakan mempunyai disiplin tinggi manakala mau menurut saja terhadap perintah dan anjuran pejabat dan atau pembina tanpa banyak menyumbangkan pikiran-pikirannya. Guru diharuskan mengiyakan saja terhadap apa yangdikehendaki pejabat atau pembina. Dan tidak boleh membantahnya. Dengan demikian pejabatdan pembina disekolah bebas memberikan tekanan kepada guru dan memang harus menekan mereka. Dengan demikian, guru takut dan terpaksa mengikuti apa yang diingini oleh pejabat atau pembina di sekolah.
2.      Disiplin yang dibangun berdasarkan konsep permissive.
Menurut konsep ini, guru haruslah diberikan kebebasan seluas-luasnya di dalam kelas dan sekolah. Aturan-aturan disekolah dilonggarkan dan tidak perlu mengikat kepada guru. Guru dibiarkan berbuat apa saja sepanjang itu menurutnya baik. Konsep permissive ini merupakan anti tesa dari konsep autoritarian. Keduanya sama-sama berada dalam kutub ekstrem.
3.      Disiplin yang dibangun berdasarkan konsep kebebasan yang terkendali, atau kebebasan yang bertanggung jawab. Disiplin demikian, memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada guru untuk berbuat apa saja; tetapi konsekuensi dari perbuatan itu, haruslah ia tanggung. Karena ia yang menabur, maka ialh yang menuai. Konsep ini merupakan konvergensi dari konsep otoritarian dan permissive di atas.

Menurut konsep kebebasan terkendali ini, guru memang diberi kebebasan, asal yang bersangkutan tidak menyalahgunakan kebebasan yang diberikan. Sebab, tidak ada kebebasan mutlak di dunia ini, termasuk dinegara liberar sekalipun.
Kebebasan jenis ketiga ini juga lazim dikenal dengan kebebasan terbimbing. Terbimbing oleh karena dalam menerapkan kebebasan tersebut, diaksentuasikan kepada hal-hal yang konstruktif. Dan, manakala arah tersebut berbalik atau berbelok ke hal-hal yang destruktif, maka dibimbing kembali ke arah yang konstruktif.

E.  TEKNIK-TEKNIK PEMBINAAN DISIPLIN
Berdasarkan tiga konsep disiplin diatas, kemudian dikemukakan teknik-teknik alternatif pembinaan disiplin guru:
1.      Teknik External Control.[5]
Teknik ini ialah suatu teknik dimana disiplin guru haruslah dikendalikan dari luar. Teknik ini meyakini kebenaran akan teori X, yang mempunyai asumsi-asumsi yang tidak baik mengenai manusia. Karena tidak baik mereka harus senantiasa diawasi dan dikontrol terus, agar tidak terjerembab kedalam kegiatan-kegiatan yang destruktifdan tidak produktif.
Menurut teknik external control ini, guru harus terus menerus di disiplinkan, dan kalau perlu ditakuti dengan ancaman dan ditawari dengan ganjaran. Ancaman diberikan kepada guru yang tidak disiplin, sementara ganjaran diberikan kepada guru yang mempunyai disiplin tinggi.
2.      Teknik inner control atau internal control.
Teknik adalah merupakan kebalikan dari teknik di atas. Teknik ini mengupayakan agar guru dapat mendisiplinkan diri mereka sendiri. Guru disadarkan akan arti pentingnya disiplin. Sesudah sadar, ia akan mawas diri dan berusaha mendisiplinkan diri sendiri. Jika teknik ini dapat dikembangkan dengan baik, maka akan mempunyai kekuatan yang lebih  hebat dibandingkan dengan teknik external control.
Jika teknik inner control ini dipilih oleh pembina haruslah bisa menjadi teladan dalam hal kedisiplinan.  Sebab, pembina tidak akan dapat mendisiplinkan guru, tanpa ia sendiri harus berdisiplin. Pembina harus punya self  control dan inner  control yang baik.
3.      Teknik cooperative control.
Menurut teknik ini, antara pembina dan guru harus saling bekerja sama dengan baik dalam menegakkan disiplin. Pembina dan guru lazimnya membaca setiap kontrak perjanjian yang berisi aturan-aturan kedisiplinan yang harus ditaati bersama-sama. Sangsi atas pelanggaran disiplin juga ditaati dan di buat bersama.



F.   DISIPLIN KERJA GURU DI INDONESIA
            Sebagian besar guru-guru diindonesia adalah pegawai negeri sipil. Oleh karena mereka adalah pegawai negeri sipil, maka ia wajib menjalankan disiplin sebagaimana peraturan perundang-undangan yang sedang berlaku. Undang-undang pokok kepegawaian nomor 8 tahun 1974 mengatur hal ini. Pada undang-undang tersebut, antara lain disebutkan aturan-aturan sebagai berikut:
1.      Setiap pegawai negeri wajib setiadan taat sepenuhnya kepada pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, negara dan pemerintah.
2.      Setiap pegawai negeri wajib menaati setiap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3.      Setiap pegawai negeri wajib melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh pengabdian kesadaran dan tanggungjawab.
4.      Setiap pegawai negeri wajib menyimpan rahasia jabatan.
5.      Setiap pegawai negeri wajib bekerja secara jujur, tertib, cermat dan bersemangat.[6]
Selain undang-undang nomor 8 tahun 1974, disiplin pegawai negeri juga diatur dengan peraturan pemerintah nomor tiga puluh tahun 1980 (bab II pasal 2 tentang kewajiban dan pasal 3 tentang pelayanan). Peraturan yang lainnya adalah peraturan pemerintah nomor 10 tahun 1980 mengenai konduite pegawai negeri.
            Yang dimaksud dengan peraturan disiplin pegawai negeri  sipil adalah peraturan yang mengatur kewajiban, larangan dansanksi apabila kewajiban tidak ditaati atau larangan di langgar. Yang dimaksud dengan pelanggaran disiplin adalah setiap ucapan, tulisan atau perbuatan pegawai negeri sipil yang melanggar ketentuan peraturan pegawai negeri sipil, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja. Yang dimaksud dengan hukuman disiplin adalah hukuman yang dijatuhkan kepada pegawai negeri sipil karena melanggar peraturan disiplin  pegawai negeri sipil.
            Adapun pejabat yang berwenang menghukum adalah pejabat yang diberi wewenang menjatuhkan hukuman disiplin pegawai negeri sipil.
Tingkat-tingkat hukuman disiplin pegawai negeri sipil terdiri atas:[7]
1.      Hukuman disiplin ringan.
2.      Hukuman disiplin sedang.
3.      Hukuman disiplin berat.
Hukuman disiplin ringan terdiri atas:
1.      Teguran lisan.
2.      Teguran tertulis.
3.      Pernyataan tidak puas secara tertulis.
Hukuman disiplin sedang adalah:
1.      Penundaan kenaikan gaji berkala untuk paling lambat selama 1 tahun.
2.      Penundaan gaji sebesar satu kali kenaikan gaji berkala untuk paling lama satu tahun.
3.      Penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama satu tahun.
Jenis hukuman disiplin berat terdiri atas:
1.      Penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah untuk paling lama satu tahun.
2.      Pembebasan dari jabatan.
3.      Pemberhentian dengan hormat tidak  atas permintaan sendiri sebagai pegawai negeri sipil.
4.      Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai pegawai negeri sipil.

Guna peningkatan disiplin pegawai negeri sipil, mereka setiap tahun senantiasa dinilai oleh atasannya, dengan menggunakan format DP3 (Daftar Penilaian Pelaksana Pekerjaan).

G.  DISIPLIN SISWA
            Disiplin pada hakikatnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam bentuk tindak melakukan sesuatu tindakan yang tidak sesuai dan bertentangan dengan sesuatu yang telah ditetapkan dan melakukan sesuatu yang mendukung dan melindungi sesuatu yang telah ditetapkan.
            Siswa adalah peserta didik dalam proses pembelajaran formal yang merupakan salah satu bagian penting komponen sekolah dan serta sebagai tolak ukur kesuksesan proses pembelajaran. Maka dalam hal ini guru harus benar-benar mampu menanamkan sifat disiplin kepada siswanya dengan berbagai teknik dan konsep-konsep yang terbaik bagi siswa-siswanya.
            Latihan permulaan disiplin, sangat baik dilakukan sejak masih bayi.[8] Kebiasaan kebiasaan bertingkah laku dan bertutur kata secara teratur, sudah tertanam sejak ia masih kecil sekali, sehingga anak-anak dalam masa pra sekolah sudah memiliki pola tingkah laku dan tutur kata yang dapat mempermudah tugas guru dalam masa sekolah selanjutnya. Maka dalam hal ini orang tualah yang berperan penting dalam hal mendidiknya di lingkungan keluarga.
Mengenai disiplin ini, dalam kehidupan sehari-hari dikenal disiplin diri, disiplin belajar, dan disiplin kerja. Seseorang dikatakan memiliki disiplin diri yang kuat bila ia dapat mengendalikan dirinya sendiri. Kerugian akibat dilanggarnya disiplin lazimnya tidak langsung, tetapi berjangka panjang. Karena itu orang yang berdisiplin diri adalah orang yang memiliki  kemampuan untuk menjangkau kedepan akibat tindakannya, bukan hanya pada akibat langsung, melainkan sampai kepada konsekuensi tingkat kedua ataupun ketiga. Demikian juga dengan disiplin belajar, yang merupakan kemampuan seseorang untuk secara teratur belajar dan tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan tujuan akhir dari proses belajarnya.[9]
             Para siswa sering ada yang berprilaku sedemikian rupa hingga mendatangkan masalah bagi guru dan teman-temannya. Dan bagi guru, hal ini dapat menimbulkan masalah yang serius. Mereka tidak dapat menutup mata terhadap pelanggaran disiplin baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah.
            Pendekatan tentang disiplin ini merupakan suatu cara baru bagi hampir semua guru. Ketika guru masuk kedalam kelas, merekasebenarnya ingin mengajar, bukan disiplin. Para guru baru kebanyakan berharap tidak akan menghadapi maslah yang menyangkut disiplin, sebab sebagai guru mereka yakin bahwa mereka kompeten dan percaya bahwa masalah disiplin tidak akan muncul. Sedangkan dilain pihak, guru yang telah berpengalaman sering menekankan perlunya membina disiplin. Dimulai dari pihak guru sendiri, sebab mereka yakin bahwa disiplin perlu ditegakkan dimana-mana, sebab anak-anak disekolah tidak cukup disiplin. Sebagai guru, mereka ingin melihat agar murid belajar.
            Apa yangsalah? Mengapa begitu banyak waktu yang terbuang untuk mempertahankan disiplin di dalam kelas ? jawabnya adalah bahwa guru terlalu banyak menggantungkan diri pada disiplin dengan menggunakan ancaman dan hukuman sungguhan, kata-kata yang menyakitkan hati, menyalahkan sehingga cara ini tidak dapat bekerja dengan baik. Metode dengan menggunakan kekerasan sudah pasti mengundang sikap defensif, pemberontakan dan dendam dikalangan anak-anak. Kekerasan memang dapat mengubah perilaku anak, namun perilaku itu segera berganti lagi kembali keperilaku semula begitu guru meninggalkan kelas atau bahkan begitu ia pergi menuju ke papan tulis.[10]
            Penulis menyarankan para guru untuk menggantikan cara tersebut dengan cara lain yang lebih dapat memberikan pengaruh kepada anak-anak. Seperti anak-anak diundang menghadiri rapat kelas yang diselenggarakan guru untuk menetapkan peraturan  kelas. Dengan melibatkan anak-anak tersebut, mereka akan merasa ikut dimotivasi untuk mematuhi atau  mengikuti peraturan yang disusun mereka sendiri, dan bukan semata-mata ditentukan oleh guru. Keuntungan lainnya adalah bahwa guru hanya kehilangan  waktu sedikit agar peraturan  tersebut dipatuhi murid-murid.
            Bilamana guru telah menjadi terampil dalam penggunaan metode tanpa kekerasan untuk mencapai disiplin, maka murid-murid akan menggunakan  bahasa yang sama tentang disiplin.
            Demikian pula tindakan guru disekolah akan terbagi pula kedalam dua hal yang bertentangan dan bersifat destruktif dalam hubungan antara manusia. Yaitu pendekatan secara ”menang-kalah”. Guru yang menyukai kekuasaan penuh, disiplin tinggi, pengawasan ketat dan lain-lain, ini berarti guru yang menang da murid yang kalah. Sedangkan guru yang permisif memberikan kebebasan penuh kepada murid-muridnya, berarti memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menggunakan kekuasaan mereka. Hal ini menyebabkan gurudan kepala sekolah diabaikan murid-muridnya. Ini berarti murid yang menang dan guru yang kalah.
            Untuk memperbaiki metode ini penulis menawarkan sebuah metode lain dari metode kalah menang. Yaitu metode yang akan mengajarkan guru bagaimana menyelesaikan konflik dan menegakkan aturan di dalam kelas tanpa menggunakan kekuasaan. Dan dengan metode ini tidak ada lagi sifat otoritatifdan permisif yang dapat menggantikan metode kalah menang yaitu penggunaan metode tanpa kalah.
            Penulis memahami betapa pentingnya disiplin bagi setiap orang, dan menyimpulkan bahwa sikap disiplin merupakan sikap awal calon orang yang sukses. Dan kebenaran yang tidak teratur sistematis dan tidak disiplin bisa dikalahkan oleh kebohongan yang disiplin teratur dengan sistematis.
            Maka Guru dalam tugasnya mendidik dan mengajar murid-muridnya adalah berupa membimbing memberi petunjuk, teladan, bantuan, latihan, penerangan, pengetahuan, pengertian, kecakapan, nilai-nilai, norma-norma, kesusilaan, kejujuran, sikap-sikap,[11] maka ia berkewajiban juga mengarahkan siswanya agar disiplin. Dan menteransfer budaya yang baik kepada anak didiknya.
            Sehingga sekolah sebagai salahsatu sarana sosialiosasi anak diharapkan mengarahkan anak agar disiplin. Dan hal-hal dalam mendisiplinkan anak bisa dilakukan seorang guru dengan cara memfungsionalkan prinsip-prinsip dan teori pendidikan dan bekerja sama dengan seluruh guru-guru, staf pegawai, atasan dan masyarakat sekolah. Sehingga disiplin bisa membudaya dalam pribadi peserta didik dan seluruh masyarakat sekolah.

H.  TUJUAN DISIPLIN SISWA
Dalam rangka peningkatan disiplin, siswa berusaha agar:
a.       Hadir disekolah selambat-lambatnya 10 menit sebelum pelajaran dimulai dan berbaris dengan teratur di depan kelasnya setelah tanda masuk kelas dibunyikan.
b.      Mengikuti semua kegiatan belajar mengajar dengan bijak dan aktif.
c.       Mengerjakan tugas-tugas dengan baik.
d.      Mengikuti kegiatan ekstrakulikuler yangdipilihnya.
e.       Memiliki kelengkapan belajar misalnya mengajar dengan baik dan aktif.
f.       Mengikuti upacara peringatan hari besar agama/ nasional serta acara lain yang diadakan  sekolah.
g.      Berperan serta melaksanakan 5 K
h.      Tidak meninggalkan sekolah/ kelas sebelum mendapat izin kepala sekolah/ guru yang bersangkutan.
i.        Mengikuti senam yang diselenggarakan sekolah.[12]

 Lihat/ download filenya disini!
DAFTAR PUSTAKA

Gordon, Thomas, Guru Yang Efekti Cara untuk mengatasi Kesulitan Dalam Kelas, Jakarta: Rajawali, 1990.
Imron, Ali, Drs., M.Pd., Pembinaan Guru Di Indonesia, Jakarta :PT Dunia Pustaka Jaya, 1995.
Samsuddin, Drs., Diktat Strategi Belajar Mengajar, Padangsidimpuan: Stain Press, 2005.
Soedijarto, Dr., M.A., Menuju Pendidikan Nasional yang Relevan Dan Bermutu, Jakarta: Balai Pustaka, 1993.
Sutadipura, Balnadi, Drs. H., Naeka Problema Keguruan, Bandung: Angkasa, 1982.
Team Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik IKIP Surabaya, Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM, Jakarta:  PT.Grafindo Persada, 1995.


[1] Drs. Samsuddin, Diktat Strategi Belajar Mengajar, (Padangsidimpuan: Stain Press, 2005), hlm. 133.
[2] Ibid., hlm. 133-135.
[3] Drs. Ali Imron, M.Pd., Pembinaan Guru Di Indonesia, (Jakarta :PT Dunia Pustaka Jaya, 1995), hlm. 182.
[4] Ibid, hlm. 183.
[5] Ibid, hlm. 184.
[6] Ibid, hlm. 186.
[7] Ibid,.
[8] Drs. H.Balnadi Sutadipura, Naeka Problema Keguruan, (Bandung: Angkasa, 1982), hlm. 93.
[9] Dr. Soedijarto, M.A., Menuju Pendidikan Nasional yang Relevan Dan Bermutu, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), hlm. 164
[10] Thomas Gordon, Guru Yang Efekti Cara untuk mengatasi Kesulitan Dalam Kelas, (Jakarta: Rajawali, 1990), hlm. 19.
[11] Team Pembina Mata Kuliah Didaktik Metodik IKIP Surabaya, Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM,(Jakarta:  PT.Grafindo Persada, 1995), hlm. 13
[12] Drs. Samsuddin, Op.cit., hlm. 137