Selasa, 30 September 2014

IDENTITAS NASIONAL



A.   Pengertian Ideintitas Nasional
Setiap bangsa memiliki karakter dan identitasnya masing-masing. Apabila mendengar kata Barat, tergambar masyarakat yang individualis, rasional,   dan   berteknologi   maju.   Mendengar   kata   Jepang   tergambar masyarakat yang berteknologi tinggi namun tetap melaksanakan tradisi ketimurannya.  Bagaimana  dengan  Indonesia?  Orang  asing  yang datang  ke Indonesia  biasanya  akan terkesan dengan keramahan dan kekayaan budaya kita.
Indonesia  adalah  negara yang memiliki keunikan  di banding  negara yang lain.  Indonesia adalah negara yang memiliki pulau terbanyak di dunia, negara  tropis  yang  hanya  mengenal  musim  hujan dan panas,  negara  yang memiliki   suku,  tradisi  dan  bahasa   terbanyak   di  dunia.   Itulah  keadaan Indonesia yang bisa menjadi ciri khas yang membedakan dengan bangsa yang lain.

Salah satu cara untuk memahami identitas suatu bangsa adalah dengan cara  membandingkan  bangsa  satu  dengan  bangsa  yang  lain  dengan  cara mencari  sisi-sisi  umum  yang  ada  pada    bangsa  itu.  Pendekatan  demikian dapat menghindarkan dari sikap kabalisme, yaitu penekanan yang terlampau berlebihan pada keunikan serta ekslusivitas  yang esoterik, karena tidak ada satu bangsapun di dunia ini yang mutlak berbeda dengan bangsa lain (Darmaputra, 1988: 1). Pada bab ini akan dibicarakan tentang pengertian identitas   nasional, identitas   nasional   sebagai   karakter   bangsa,   proses berbangsa dan bernegara dan politik identitas.
Identitas nasional (national  identity) adalah kepribadian nasional atau jati diri nasional yang dimiliki suatu bangsa yang membedakan bangsa satu dengan bangsa yang lain (Tim Nasional Dosen Pendidikan Kewarganegaraan, 2011:  66).  Ada  beberapa  faktor  yang  menjadikan  setiap  bangsa  memiliki identitas yang berbeda-beda. Faktor-faktor tersebut adalah: keadaan geografi, ekologi, demografi, sejarah, kebudayaan, dan watak masyarakat. Watak masyarakat di negara yang secara geografis mempunyai wilayah daratan akan berbeda dengan negara kepulauan.Keadaan alam sangat mempengaruhi watak masyarakatnya.
Bangsa Indonesia memiliki karakter khas dibanding bangsa lain yaitu keramahan  dan sopan santun.    Keramahan  tersebut  tercermin  dalam  sikap mudah menerima kehadiran orang lain. Orang yang datang dianggap sebagai tamu  yang  harus  dihormat i.  Sehingga  banyak  kalangan  bangsa  lain  yang datang ke Indonesia merasakan kenyamanan dan kehangatan tinggal di Indonesia.
Bangsa Indonesia  adalah bangsa  agraris. Sebagaian  besar penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani. Sistem kemasyarakatan secara umum  di  sebagian  besar  suku-suku  di  Indonesia  adalah  sistem Gemmeinschaaft (paguyuban/masyarakat sosial/bersama). Suatu sistem kekerabatan  dimana  masyarakat  mempunyai  ikatan  emosional  yang  kuat dengan kelompoknya etnisnya. Masyarakat Indonesia mempunyai kecenderungan  membuat  perkumpulan-perkumpulan  apabila  mereka  berada di luar daerah, misalnya: Persatuan Mahasiswa Sulawesi, Riau, Aceh, Kalimantan, Papua dan lain-lain   di Yoggjakarta . Ikatan kelompok ini akan menjadi lebih luas jika masyarakat Indonesia di luar negeri. Ikatan emosional yang terbentuk bukan lagi ikatan kesukuan, tetapi ikatan kebangsaan. Masyarakat  Indonesia  jika  berada  di  luar  negeri  biasanya  mereka  akan membuat organisasi paguyuban Indonesia di mana mereka tinggal. Inilah ciri khas  Bangsa  Indonesia  yang  bisa  membangun  identitas  nasional.  Nasional dalam  hal ini adalah dalam kontek  bangsa  (masyarakat),  sedangkan  dalam konteks  bernegara,   identitas  nasional  bangsa  Indonesia   tercermin  pada: bahasa nasional, bendera, lagu kebangsaan,  lambing negara gambar Garuda Pancasila dan lain-lain.
Identitas Nasional dalam konteks bangsa (masyarakat Indonesia) cenderung   mengacu   pada   kebudayaan   atau  kharakter   khas.   Sedangkan identitas  nasional  dalam  konteks  negara  tercermin  dalam  sombol-simbol kenegaraan.     Kedua  unsur  identitas  ini  secara  nyata  terangkum  dalam Pancasila.  Pancasila  dengan  demikian  merupakan  identitas  nasional  kita dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Bangsa   Indonesia   pada   dasarnya   adalah   bangsa   yang   religius, humanis,  menyukai persatuan/kekeluargaan,  suka bermusyawarah  dan lebih mementingkan  kepentingan  bersama.  Itulah watak dasar  bangsa  Indonesia. Adapun apabila terjadi   konflik sosial dan tawuran di kalangan masyarakat, itu sesungguhnya tidak menggambarkan keseluruhan watak bangsa Indonesia. Secara  kuantitas,  masyarakat  yang  rukun  dan  toleran  jauh  lebih  banyak daripada  yang  tidak  rukun  dan toleran.  Kesadaran  akan  kenyataan  bahwa bangsa  Indonesia   adalah  bangsa  yang  majemuk  adalah  sangat  penting. Apabila   kesadaran   tersebut  tidak  dimiliki,   maka  keragaman   yang  bisa menjadi potensi   untuk maju justru bisa menjadi masalah. Keragaman yang ada pada bangsa Indonesia semestinya tidak dilihat dalam konteks perbedaan namun  dalam  konteks  kesatuan.  Analogi  kesatuan  itu  dapat  digambarkan seperti tubuh manusia yang terdiri atas kepala, badan, tangan dan kaki, yang meskipun masing-masing organ tersebut berbeda satu sama lain, namun keseluruhan organ tersebut merupakan kesatuan utuh tubuh manusia. Itulah gambaran utuh kesatuan bangsa Indonesia yang diikat dengan semboyan Bhinneka  Tungkal  Ika,  meskipun  berbeda-beda  namun  tetap  satu,  sebagai dasar kehidupan bersama ditengah kemajemukan.
Selain faktor-faktor yang sudah menjadi bawaan sebagaimana disebut di atas,  identitas  nasional  Indonesia  juga diikat  atas dasar  kesamaan  nasib karena sama-sama mengalami penderitaan yang sama ketika dijajah. Kemajemukan  diikat  oleh kehendak  yang  sama  untuk  meraih  tujuan  yang sama yaitu kemerdekaan. Dengan demikian ada dua faktor penting dalam pembentukan identitas yaitu faktor primordial dan faktor kondisional. Faktor primordial adalah faktor  bawaan  yang bersifat  alamiah  yang  melekat  pada bangsa tersebut, seperti geografi, ekologi dan demografi, sedangan faktor kondisional     adalah  keadaan  yang  mempengaruhi  terbentuknya  identitas tersebut. Apabila bangsa Indonesia pada saat itu tidak dijajah oleh Portugis, Belanda dan Jepang bisa jadi negara Indonesia tidak seperti yang ada saat ini.
Identitas nasional tidak bersifat statis namun dinamis. Selalu ada kekuatan  tarik  menarik  antara  etnisitas  dan  globalitas.  Etnisitas  memiliki watak  statis,  mempertahankan  apa  yang  sudah  ada  secara  turun  temurun, selalu  ada  upaya   fundamentalisasi   dan  purifikasi,   sedangkan  globalitas memiliki  watak  dinamis,  selalu  berubah  dan  membongkar  hal-hal  yang mapan, oleh karena itu, perlu kearifan dalam melihat ini. Globalitas atau globalisasi adalah kenyataan yang tidak mungkin dibendung, sehingga sikap arif sangat diperlukan dalam hal ini. Globalisasi itu tidak selalu negatif. Kita bisa  menikmati  HP,  komputer,  transportasi  dan  teknologi  canggih  lainnya adalah karena globalisasi, bahkan kita mengenal dan menganut enam agama (resmi pemerintah) adalah proses globalisasi juga. Sikap kritis dan evaluatif diperlukan   dalam   menghadapi   dua   kekuatan   itu.   Baik   etnis   maupun globalisasi mempunyai sisi positif dan negatif. Melalui proses dialog dan dialektika  diharapkan  akan  mengkonstruk   ciri  yang  khas  bagi  identitas nasional kita. Sebagai contoh adalah pandangan  etnis seperti sikap (nrimo, Jawa)  yang artinya menerima apa adanya.  Sikap nrimo secara negatif bisa dipahami sikap yang pasif, tidak responsif bahkan malas. Sikap nrimo secara positif  bisa dipahami  sebagai  sikap  yang  tidak  memburu  nafsu,  menerima setiap hasil usaha keras yang sudah dilakukan. Sikap positif demikian sangat bermanfaat untuk menjaga agar orang tidak stres karena keinginannya  tidak tercapai. Sikap nrimo justru diperlukan dalam kehidupan yang konsumtif kapitalistik ini.

B.   Identitas Nasional Sebagai Karakter Bangsa
Setiap  bangsa  memiliki  identitasnya.  Dengan  memahami  identitas bangsa diharapkan akan memahami jati diri bangsa sehingga menumbuhkan kebanggaan sebagai bangsa. Dalam pembahasan ini tentu tidak bisa mengabaikan  pembahasan  tentang  keadaan  masa  lalu  dan  masa  sekarang, antara idealitas dan realitas dan antara das Sollen dan das Seinnya.
Karakter   berasal   dari   bahasa   latin   kharakter,   kharassein    atau kharax”, dalam bahasa Prancis “caracteredalam bahasa Inggris “character. Dalam arti luas karakter berarti sifat kejiwaan, akhlak,  budi pekerti, tabiat, watak yang membedakan seseorang dengan orang lain (Tim Nasional Dosen Pendidikan  Kewarganegaraan,    2011: 67). Sehingga  karakter  bangsa dapat diartikan tabiat atau watak khas bangsa Indonesia yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain.
Menurut Max Weber (dikutip Darmaputra, 1988: 3) cara yang terbaik untuk memahami  suatu masyarakat  adalah dengan memahami tingkah laku anggotanya. Dan cara memahami tingkah laku anggota adalah dengan memahami kebudayaan mereka yaitu sistem makna mereka. Manusia adalah makhluk yang selalu mencari makna terus menerus atas semua tindakannya. Makna  selalu  menjadi orientasi tindakan  manusia  baik disadari atau tidak. Manusia juga mencari dan berusaha menjelaskan logika dari tingkah laku sosial masyarakat tertentu melalui kebudayaan mereka sendiri.
Dalam masyarakat  berkembang  atau masyarakat  Dunia Ketiga, pada umumnya menghadsapi tiga masalah pokok yaitu nation-building,  stabilitas politik dan pembangunan ekonomi. Nation-building adalah masalah yang berhubungan dengan warsian masa lalu, bagaimana masyarakat yang beragam berusaha   membangun   kesatuan   bersama.   Stabilitas   politik   merupakan masalah yang terkait dengan realitas saat ini yaitu ancaman disintegrasi. Sedangkan  masalah  pembangaunan  ekonomi  adalah  masalah  yang  terkait dengan masa depan yaitu (dalam konteks Indonesia) masyarakat adil dan makmur (Darmaputra, 1988: 5).
Identitas  dan  modernitas  juga  seringkali  mengalami  tarik  menarik. Atas nama identitas seringkali menutup diri dari perubahan, ada kekhawatiran identitas  yang  sudah dibangun  oleh para  pendahulu  tercerabut  dan hilang. Sehingga  identitas  bukan  sesuatu  yang  hanya  dipertahankan    namun  juga selalu berproses mengalami perkembangan. Pembentukan identitas Indonesia juga mengalami  hal demikian.  Indonesia  yang memiliki  beribu etnis harus menyatukan diri membentuk satu identitas yaitu Indonesia, suatu proses yang sangat berat kalau tidak ada kelapangdadaan bangsa ini untuk bersatu. Bukan hanya etnik yang beragam, Indonesia juga terdiri atas kerajaan-kerajaan yang sudah establish  memiliki wilayah dan rajanya  masing-masing  dan bersedia dipersatukan dengan sistem pemerintahan baru yang modern yaitu demokrasi presidensial.
Dalam konteks ini Soekarno pernah mengatakan: Saja  berkata  dengan  penuh  hormat  kepada  kita  punja  radja-radja dahulu, saja berkata dengan beribu-ribu hormat kepada Sultan Agung Hanjokrosusumo,  bahwa  Mataram,  meskipun  merdeka,  bukan nationale  staat. Dengan perasaan hormat  kepada Prabu Siliwangi  di Padjajaran, saja berkata, bahwa keradjaannja bukan nationale staat, Dengan perasaan hormat kepada Prabu Sultan Agung Tirtajasa, saja berkata, bahwa keradjaannja di Banten, meskipun merdeka, bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Sultan Hasanoeddin di  Sulawesi,  jang  telah  membentuk  keradjaan  Bugis,  saja  berkata, bahwa tanah Bugis jang merdeka itu bukan nationale staat. (Dewan Pertimbangan Agung di kutip Darmaputra, 1988: 5).
Negara  bangsa  adalah  negara  yang  lahir  dari  kumpulan  bangsa- bangsa. Negara Indonesia sulit terwujud apabila para raja bersikukuh dengan  otoritas  dirinya  dan  ingin  mendirikan   negaranya  sendiri. Keadaan demikian  tentu  mengindikasikan  ada  hal yang  sangat  kuat yang   mampu   menyatukan   beragam   otoritas   tersebut.   Keadaan geografis  semata  tentu  tidak  cukup  mampu  menyatukannya  karena secara   geografis    sulit   membedakan   kondisi   wilayah   geografis Indonesia  dengan  Malaysia,  Pilipina,  Singapura  dan Papua  Nugini. Akan tetapi perasaan yang sama karena mengalami nasib yang sama kiranya menjadi faktor yang sangat kuat. Selain daripada itu apabila menggunakan pendekatan Weber sebagaimana tersebut di atas, maka kesatuan  sistem  makna  juga  menjadi  salah  satu  faktor  pemersatu. Sistem makna cenderung bersifat  langgeng dan tetap meskipun pola perilaku dapat berbeda atau berubah. Sistem makna yang membangun identitas Indonesia adalah nilai-nilai sebagaimana termaktub dalam Pancasila.  Nilai-nilai  Pancasila  mengandung  nilai-nilai  yang merupakan   sistem   makna   yang   mampu   menyatukan   keragaman bangsa Indonesia. Nilai-nilai tersebut hidup dalam sendi kehidupan di seluruh  wilayah  Indonesia.  Tidak  ada  literatur  yang  menunjukkan bahwa ada wilayah di Indonesia yang menganut paham ateis. Seluruh masyarakat memahami adanya Realitas Tertinggi yang diwujudkan dalam  ritual-ritual  peribadatan.  Ada  penyembahan  bahkan pengorbanan  yang  ditujukan  kepada  Zat  yang  Supranatural  yaitu Tuhan.   Masyarakat    tidak   menolak   ketika‘Ketuhanan’    dijadikan sebagai dasar fundamental negara ini.
Dari penjelasan   ini   dapatlah   dikatakan   bahwa   identitas   bangsa Indonesia adalah Pancasila itu sendiri, sehingga dapat pula dikatakan bahwa Pancasila adalah karakter bangsa. Nilai-nilai tersebut bersifat esoterik (substansial),  ketika terjadi proses komunikasi,  relasi dan interaksi dengan bangsa-bangsa lain realitas eksoterik juga mengalami perkembangan. Pemahaman dan keyakinan agama berkembang sehingga terdapat paham baru di luar keyakinan  yang sebelumnya  dianut.  Pemahaman  kemanusiaan  juga berkembang karena berkembangnya wacana tentang hak asasi manusia. Kecintaan pada tanah air kerajaannya dileburkan dalam kecintaan pada Indonesia. Pemerintahan yang monarkhi berubah menjadi demokrasi. Konsep keadilan juga melintasi tembok etnik.
Para pendiri bangsa melalui sidang BPUPKI berusaha menggali nilai- nilai yang ada dan hidup dalam masyarakat, nilai-nilai yang existing maupun nilai-nilai yang menjadi harapan   seluruh bangsa. Melalui pembahasan yang didasari   niat   tulus   merumuskan   pondasi   berdirinya   negara   ini   maka muncullah   Pancasila.   Dengan   demikian   karena   Pancasila   digali   dari pandangan  hidup bangsa,  maka Pancasila  dapat  dikatakan  sebagai karakter sesungguhnya bangsa Indonesia.
Pancasila dirumuskan melalui musyawarah bersama anggota BPUPKI yang diwakili oleh berbagai wilayah dan penganut agama, bukan dipaksakan oleh suatu kekuatan/rezim  tertentu.  Dengan  demikian  Pancasila  betul-betul merupakan  nilai  dasar  sekaligus  ideal  untuk  bangsa  Indonesia.  Nilai-nilai yang merupakan identitas sekaligus karakter bangsa (Kaelan, 2007: 52).
Lima nilai dasar yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan adalah realitas yang hidup di Indonesia. Apabila kita tinggal di luar negeri amatlah jarang kita mendengar suara lonceng gereja, adzan magrib atau suara panggilan dari tempat ibadah agama. Suara itu di Indonesia sudah amat biasa. Ada kesan nuansa religiusitas yang kental yang dalam kehidupan bangsa  kita,  sebagai  contoh  masyarakat  Bali setiap  saat  orang  melakukan upacara  sebagai  bentuk  persembahan  kepada  Tuhan  Yang  Maha  Kuasa, suasana sakralitas religius amatlah terasa karena
Gotong   royong   sebagai   bentuk   perwujudan   dari   kemanusiaan   dan persatuan juga tampak kental di Indonesia yang tidak ditemukan di negara lain. Kerjabakti bersama dan ronda, misalnya, adalah salah satu contoh nyata karakter yang membedakan  bangsa Indonesia dengan bangsa lain, bangsa yang komunal tanpa kehilangan hak individualnya.
C.   Proses berbangsa dan bernegara
Keberadaan  bangsa  Indonesia  tidak  lahir  begitu  saja,  namun  lewat proses panjang  dengan  berbagai  hambatan  dan rintangan.  Kepribadian,  jati diri serta identitas nasioanl Indonesia dapat dilacak dari sejarah terbentuknya bangsa  Indonesia   dari  zaman  kerajaan  Kutai,   Sriwijaya  serta  kerajaan- kerajaan  lain sebelum  kolonialisme  dan imperialisme  masuk ke Indonesia. Nilai-nilai Pancasila sudah ada pada zaman itu, tidak hanya pada era kolonial atau  pasca  kolonial.  Proses  terbentuknya  nasionalisme  yang  berakar  pada budaya  ini  menurut  Mohammad  Yamin  diistilahkan  sebagai  fase nasionalisme lama (Kaelan, 2007: 52).
Pembentukan nasionalisme modern menurut Yamin dirintis oleh para tokoh pejuang  kemerdekaan  dimulai dari tahun  1908 berdirinya  organisasi pergerakan  Budi  Utomo,  kemudian  dicetuskannya  Sumpah  Pemuda  pada tahun 1928.  Perjuangan  terus bergulir  hingga  mencapai  titik  kulminasinya pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai tonggak berdirinya  negara Republik Indonesia  (Kaelan,  2007:  53).  Indonesia  adalah  negara  yang  terdiri  atas banyak pulau, suku, agama, budaya maupun bahasa, sehingga diperlukan satu pengikat untuk menyatukan keragaman tersebut. Nasionalisme menjadi syarat mutlak bagi pembentukan identitas bangsa
1. Peristiwa proses berbangsa
Salah satu perkataan Soekarno yang sangat terkenal adalah jas merah  yang maknanya  jangan sampai melupakan  sejarah.  Sejarah akan membuat seseorang hati-hati dan bijaksana. Orang berati-hati untuk tidak melakukan kesalahan yang dilakukan pada masa lalu. Orang menjadi bijaksana karena mampu membuat perencanaan ke depan dengan seksama. Dengan belajar sejarah kita juga mengerti posisi kita saat ini bahwa ada perjalanan panjang sebelum keberadaan kita sekarang dan mengerti sebenarnya  siapa kita  sebenarnya,  siapa  nenek  moyang  kita,  bagaimana karakter mereka, apa yang mereka cita-citakan selama ini. Sejarah adalah ibarat   spion  kendaraan   yang  digunakan   untuk   mengerti  keadaan   di belakang kita, namun demikian kita tidak boleh terpaku dalam melihat ke belakang. Masa lalu yang tragis bisa jadi mengurangi semangat kita untuk maju.   Peristiwa   tragis   yang  pernah  dialami  oleh  bangsa   ini  adalah penjajahan yang terjadi berabad-abad, sehingga menciptakan watak bangsa yang minder wardeh (kehilangan kepercayaan diri). Peristiwa tersebut hendaknya  menjadi pemicu  untuk mengejar  ketertinggalan  dan berusaha lebih maju dari negara yang dulu pernah menjajah kita. Proses berbangsa dapat dilihat dari rangkaian peristiwa berikut:
a.       Prasasti Kedukan Bukit. Prasasti ini berbahasa Melayu Kuno dan berhuruf  Pallawa,  bertuliskan  marvuat  vanua  Sriwijaya siddhayatra  subhiksa, yang artinya kurang lebih adalah membentuk negara Sriwijaya  yang jaya, adil, makmur,  sejahtera dan sentosa. Prasasti  ini  berada  di bukit  Siguntang  dekat  dengan  Palembang yang  bertarikh  syaka  605  atau  683  Masehi.  Kerajaan  Sriwijaya yang dipimpin  oleh  wangsa  Syailendra  ini   merupakan  kerajaan maritim  yang  memiliki  kekuatan  laut  yang  handal  dan  disegani pada zamannya. Bukan hanya kekuatan maritimnya yang terkenal, Sriwijaya  juga sudah mengembangkan  pendidikan agama dengan didirikannya  Universitas  Agama Budha yang terkenal di kawasan Asia (Bakry, 2009: 88)
b.      Kerajaan Majapahit (1293-1525). Kalau Sriwijaya sistem pemerintahnnya dikenal dengan sistem ke-datu-an, maka Majapahit dikenal dengan sistem keprabuan.  Kerajaan  ini berpusat  di Jawa Timur di bawah pimpinan dinasti Rajasa, dan raja yang paling terkenal adalah Brawijaya. Majapahit mencapai keemasan pada pemerintahan     Raja  Hayam  Wuruk  dengan  Mahapatih  Gadjah Mada  yang tekenal dengan sumpah Palapa.  Sumpah tersebut  dia ucapkan dalam sidang Ratu dan Menteri-menteri di paseban Keprabuan Majapahit pada tahun 1331 yang berbumyi: Saya baru akan berhenti berpuasa makan palapa, jikalau seluruh Nusantara takluk di bawah kekuasaan negara, jikalau Gurun, Seram, Tanjungpura,  Haru, Pahang, Dempo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik sudah dikalahkan” (Bakry, 2009: 89).
c.       Berdirinya  organisasi  massa  bernama  Budi Utomo  oleh  Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang menjadi pelopor berdirinya organisasi-organisasi  pergerakan  nasional  yang  lain  di  belakang hari.  Di  belakang  Sutomo  ada  dr.  Wahidin  Sudirohusodo  yang selalu membangkitkan motivasi dan kesadaran berbangsa terutama kepada   para   mahasiswa   STOVIA   (School  tot   Opleiding   van Indische Artsen). Budi Utomo adalah gerakan sosio kultural yang merupakan awal pergerakan nasional yang merintis kebangkitan nasional menuju cita-cita Indonesia merdeka (Bakry, 2009: 89)
d.      Sumpah   Pemuda   yang  diikrarkan   oleh  para   pemuda   pelopor persatuan bangsa Indonesia dalam Kongres Pemuda di Jakarta pada 28 Oktober 1928. Ikrar tersebut berbunyi:

Pertama             :   Kami   putra   dan   puteri   Indonesia   mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia
Kedua             :   Kami   putra   dan   puteri   Indonesia   mengaku bertanah air yang satu, Tumpah Darah Indonesia.
Ketiga                :  Kami  putra  dan  puteri  Indonesia  menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
2. Peristiwa proses bernegara
Proses bernegara merupakan kehendak untuk melepaskan diri dari penjajahan, mengandung upaya memiliki kemerdekaan untuk mengatur negaranya   sendiri  secara   berdaulat   tidak  dibawah   cengkeraman   dan kendali bangsa lain. Dua peristiwa penting dalam proses bernegara adalah sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia  (BPUPKI)  dan sidang-sidang  Panitia  Persiapan  Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
a.       Pemerintah Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa   Indonesia   pada   tanggal   24   Agustus   1945.   Janji   itu disampaikan oleh Perdana menteri Jepang Jenderal Kunaiki Koisu (Pengganti Perdana Menteri Tojo) dalam Sidang Teikuku Gikoi (Parlemen   Jepang).   Realisasi   dari  janji   itu  maka  dibentuklah BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 29 April 1945 dan dilantik pada 28 Mei 1945 yang diketuai oleh Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat. Peristiwa inilah yang menjadi tonggak pertama proses Indonesia  menjadi  negara. Pada  sidang  ini  mulai  dirumuskan  syarat-syarat  yang  diperlukan untuk mendirikan negara yang merdeka (Bakry, 2009: 91).
b.      Pembentukan  PPKI  (Panitia  Persiapan  Kemerdekaan  Indonesia) setelah sebelumnya membubarkan BPUPKI pada 9 Agustus 1945. Ketua PPKI adalah Ir. Soekarno dan wakil ketua adalah Drs. Moh. Hatta. Badan yang mula-mula buatan Jepang untuk memersiapkan kemerdekaan Indonesia, setelah Jepang takluk pada Sekutu dan setelah diproklamirkan Kemerdekaan Indonesia, maka badan ini mempunyai sifat ‘Badan Nasional yang mewakili seluruh bangsa Indonesia.  Dengan  penyerahan  Jepang  pada  sekutu  maka  janji Jepang tidak terpenuhi, sehingga bangsa Indonesia dapat memproklamirkan diri menjadi negara yang merdeka.
c.       Proklamasi    kemerdekaan    Indonesia    17    Agustus    1945    dan penetapan   Undang   undang   Dasar   Negara   Republik   Indonesia Tahun 1945 pada sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Peristiwa ini  merupakan  momentum  yang  paling  penting  dan  bersejarah karena  merupakan  titik  balik  dari  negara  yang  terjajah  menjadi negara yang merdeka.
D.   Politik Identitas
Politik identitas adalah nama untuk menjelaskan situasi yang ditandai dengan kebangkitan  kelompok-kelompok  identitas sebagai tanggapan untuk represi  yang  memarjinalisasikan   mereka  di  masa  lalu.  Identitas  berubah menjadi politik identitas ketika menjadi basis perjuangan aspirasi kelompok (Bagir, 2011: 18).
Identitas bukan hanya persoalan sosio-psikologis  namun juga politis. Ada politisasi atas identitas. Identitas yang dalam konteks kebangsaan seharusnya  digunakan  untuk  merangkum  kebinekaan  bangsa  ini,  namun justru mulai tampak penguaan identitas-identitas sektarian baik dalam agama, suku, daerah dan lain-lain.
Identitas  yang  menjadi  salah  satu  dasar  konsep  kewarganegaraan (citizenship) adalah kesadaran atas kesetaraan manusia sebagai warganegara. Identitas sebagai warganegara ini menjadi bingkai politik untuk semua orang, terlepas dari identitas lain apapun yang dimilikinya seperti identitas agama, etnis, daerah dan lain-lain (Bagir, 2011: 17).
Pada era reformasi,  kebebasan  berpikir,  berpendapat  dan kebebasan lain dibuka. Dalam perkembangannya  kebebasan (yang berlebihan) ini telah menghancurkan    pondasi   dan   pilar-pilar    yang   pernah   dibangun   oleh pemerintah sebelumnya. Masyarakat tidak lagi kritis dalam melihat apa yang perlu  diganti  dan  apa  yang  perlu  dipertahankan.   Ada  euphoria   untuk mengganti semua. Perkembangan lebih lanjut adalah menguatnya wacana hak asasi  manusia  dan  otonomi  daerah  yang  memberikan  warna  baru  bagi kehidupan berbangsa dan bernegara yang menunjukkan sisi positif dan negatifnya.
Perjuangkan menuntut hak asasi menguat. Perjuangan tersebut muncul dalam berbagai bidang dengan berbagai permasalahan seperti: kedaerahan, agama dan partai politik. Mereka masing-masing ingin menunjukkan identitasnya, sehingga tampak kesan ada perang identitas. Munculnya istilah
putra daerah, organisasi keagamaan baru, lahirnya partai-partai polit ik yang begitu banyak, kalau tidak hati-hati dapat memunculkan ‘konflik identitas.
Sebagai  negara -bangsa,  perbedaan-perbedaan  tersebut  harus dilihat sebagai realitas yang wajar dan niscaya. Perlu dibangun jembatan-jembatan relasi  yang  menghubungkan   keragaman   itu  sebagai   upaya  membangun konsep kesatuan dalam keragaman. Kelahiran Pancasila   diniatkan untuk itu yaitu sebagai alat pemersatu. Keragaman adalah mozaik yang mempercantik gambaran   tentang   Indonesia   secara   keseluruhan.   Idealnya   dalam   suatu negara-bangsa,   semua   identitas   dari   kelompok   yang   berbeda-beda   itu dilampaui, idealitas terpenting adalah identitas nasional (Bagir, 2011: 18).
Politik identitas bisa bersifat positif maupun negatif. Bersifat positif berarti menjadi dorongan untuk mengakui dan mengakomodasi adanya perbedaan,  bahkan  sampai  pada  tingkat  mengakui  predikat  keistimewaan suatu daerah terhadap daerah lain karena alasan yang dapat dipahami secara historis dan logis. Bersifat negatif ketika terjadi diskriminasi antar kelompok satu  dengan   yang   lain,   misalnya   dominasi   mayoritas     atas   minoritas. Dominasi bisa lahir dari perjuangan kelompok tersebut, dan lebih berbahaya apabila dilegitimasi oleh negara. Negara bersifat mengatasi setiap kelompok dengan segala kebutuhan dan kepentingannya  serta mengatur dan membuat regulasi untuk menciptakan suatu harmoni (Bagir, 2011: 20).