Jumat, 19 September 2014

ISLAM JAWA (Judul Asli: Islam in Java: Normative Piety and Misticism)- (RESENSI BUKU)

A.      IDENTITAS BUKU
Pengarang:           : Mark R. Woodward
Judul Buku           : Islam Jawa: Kesalehan normatif versus kebatinan
                               (Judul Asli: Islam in Java: Normative Piety and Misticism).
Penerbit/T.T.      : LKis Yogyakarta: 2006
Ukuran/Jlh.Hlm : 412 Halaman: 14,5 x21 cm 
Peresensi           : Miftahul Husni

B.       LATAR BELAKANG
Mark Woodward adalah seorang etnolog, dan untuk menyempurnakan sebagai seorang etnolog maka dia melakukan penelitian lapangan, ia memilih Islam Jawa, yamg menurut dia masih tetap memesona dan ia bertekad menambah dan menyempurnakan penelitian yang di lakukan beberap peneliti yang terdahulu seperti Crawfurd, orang inggris yang menjadi penduduk Yokyakarta selama pemerintahan Raffles ( 1811-1815n) dan sebelumnya berpengalaman tinggal dikalangan muslim india, menyebutkan bahwa Islam Jawa sebagai “ortodoks” kendati mereka sedikit agak berifat longgar dalam hal kepatuhan terhadap larangan-larangan Islam terhadap minum, judi, dan menghirup ganja. Berbeda dengan pandangan Clifford Geertz tahun 1950-an, yang mengatakan bahwa Islam tidak pernah benar-benar dipeluk di Jawa terkecuali dikalangan komunitas kecil para pedagang, dan hampIr tidak ada sama sekali dalam lingkungan Kraton dan ia membagi masyarakat Jawa kedalam tiga golongan antara lain: pertama santri, yang merupakan santri ortodoks, kedua priayi, kalangan bangsawan yang di pengaruhi tradisi-tradisi Hindu-Jawa, ketiga abangan, masyarakat desa penganut atau pemeluk animism, meskipun teorinya ini telah banyak mendapat kritik dari para sarjana Belanda dan Indonesia.
Dan pada akhirnya menerima teori Geerz dengan sejumlah perubahan dengan mengamati priayi lebih memiliki makna sebagai kelas sosial kebangsawanan baik Kraton dan non Kraton dan santri juga  termasuk dalam kelas ini, dan Mark R woodward sependapat dengan suparlan bahwa priayi dan abangan adalah Islam Jawa dan dan orang-orang kebatinan (mystics) sebagai kejawen.
Dalam penelitian ini ia ingin menelusuri lebih khusus asal mula Kraton Jawa dan agama rakyat dan berbagai prototipe Indinya, ia memilih Yokyakarta sebagai tempat penelitiannya dengan berbagai alasan teoritis. Tepat empat hari sebelum di gelar garabeg maulud, upacara ritual Kraton untuk mempringati kelahiran Nabi Muhammad Saw. Ia mencoba menoropong unsur-unsur Hindu dari idiologi dan modalitas ritual tersebut, tapi ikhtiarnya nihil, kemudian dia lanjutkan untuk menemukan prototipe-prototipe Hindu-Budha dalam mistisme tradisional Jawa juga sama mengecewakan.
Dalam kandungannya tidak ada system Teravada, Mahayana, Siva atau Vaisnava yg sebelumnya ia pelajari kecuali hanya kesamaan sepele, ia menjadi kecil hati, dan ia ingin memulai jalur lain yakni mempelajari doktrin dan ritual Islam, dan ia bersandar pendapat seorang informan, ia melontarkan pendapat bahwa ritual-ritual Kratondan system mistik kejawen diderivasi dari Islam, kendati memang tidak murni dari ruh ajaran Muhammad , namun tetap Islam.
Studi ini merupakan upaya untuk menjawab pertanyaan Hodgson mengapa keberhasilan Islam begitu sempurna. Disebutkan bahwa Islam merupakan kekuatan dominan didalam ritus-ritus dan kepercayaan-kepercayaan orang Jawa Tengah, dan bahwa ia turut membentuk krakter interaksi social dan kehidupan sehari-hari seluruh lapisan masyarakat Jawa. Argumentasi  ini tentu memerlukan penjelasan yang rinci, perbandingan titik demi titik  berbagai bahan mengenai jawa, termasuk  teks-teks suci maupun  data etnografi, dengan gambaran tradisi Islam yang lebih besar.
Di antara bahan-bahan non Jawa yang bisa di pelajari  adalah Alquran dan hadist, risalah-risalah mistik Sufi, karya-karya ilmuan barat maupun Islamisis Asia Selatan mengenai ritual, sejarah, dan hukum, studi-studi etnografi mengenai Islam di Arab, Afrika, Utara, Persia dan India.

C.      PENDEKATAN DAN TEORI YANG DI GUNAKANKAN
Mark Woodward menggunakan pendekatan Antropologi dalam penelitian ini. Masalah-masalah teoritis  yang dibahas dalam studi ini mencakup  hubungan antara teks-teks keagamaan, agama rakyat, organisasi sosial, wacana sosial, dan keagamaan. Uasaha yang dilakukan adalah menyatukan teori neo-Tylorian bahwa agama merupakan suatu system penjelasan (explanatory system) dengan antropologi kognitif kontemporer  yang di sebut Ortner sebagai “ teori praktek “ (practice theory). Hal ini bisa di capai melalui analisis kebudayaan sebagai suatu system pengetahuan aksiomatik. Upaya ini akan memberikan penyelesaian teoritis, baik historis maupun etnografis.

D.      KAJIAN DAN TEMUAN
Terkait dengan pendekatan yang sudah di jelaskan di atas maka Mark R Woodward akan meneliti beberapa aspek-aspek yang perlu di kaji antara lain:
1.      Teks Dan Etnografi Dalam Islam
Anlisis teks-teks itu penting dalam medan umum pengetahuan budaya, Mark R Woodward menjelaskan bahwa teks-teks tersebut kegunaannya untuk memecahkan terhadap problem-problem dan penjelasan-penjelasan yang sulit berkaitan dengan pokok-pokok doktrin, filsafat, sejarah, dan ritual. Disamping satra Kraton, masih banyak terdapat buku-bukuIslam, rumusan-rumusan magis, filsafat, dan petunjuk-petunjuk melakukan ritual. Sastra Kraton bisa di perluas melalui seni pertunjukan, tyerutama wayang dan tembang.
Ziarah adalah alat penting lainnya yang menyebarkan sastra, situs ziarah paling penting di Jawa Tengah dengan beberapa cara di hubungkan dengan tokoh-tokoh yang di lukiskan dalam babat tanah Jawa dan teks-teks sejarah lainnya.
Selain teks-teks asli lokal yang sangat penting adalah Alquran, karena banyak orang Jawa membaca dan menghapalnya dan mempercayainya sebagai firman Allah, dan pada kenyataannya teks-teks non lokal berfungsi sebagai bagian yang mendasari penulisan dan penyusunan tradisi-tradisi lisan yang tertulis lokal, lewat penafsiran ini teks asing dilokalkan dan di satukan kedalam pengetahuan keagamaan dan kebudayaan lokal.


2.      Jawa Dan Tradisi Islam
Sejarah awal Islam Jawa masih kabur, artinya ada bebrapa versi menjelaskan tentang masuknya Islam atau penyebaran Islam di Asia Tenggara yang tidak pernah di tuntaskan secara utuh karena kurangnya sumber-sunber yang bisa di percaya. Sejarah Islam Jawa tidak hanya sekadar konversi saja, tetapi penegaran Islam sebagai agama kerajaan, suatu proses yangt mengakibatkan penghancuran banyak kebudayaan Hindu-Budha yang ada dan subordinasi ulama atas kekuasaan Kraton.
Tradisi Islam tidak lepas dari mistisme dan ortodoksi, keduanya saling tejadi perdebatan antara penganut mistik dan ulama, ada dua isu yang di pertaruhkan dalam perdebatan ini antara lain: pertama, dasar-dasar sejarah mistisme Islam. Kedua, pada tingkat mana sufisme dari inti doctrinal dan ritual Islam. Maka kedua persoalan tersebut mengasumsikan adanya suatu formulasi tradisi yang murni dan orisinal yang bisa di gunakan sebagai standar.
Sehingga Islmolog-Islamolog orentalis Barat dalam tulisan mereka bahwa sufisme adalah suatu kebangkitan agama asli, ada juga yang berpandapat bahwa sufisme itu adalah aliran campuran (neoplatonisme), ada juga yg berpendapat dengan versi Kristen yang terselubung dan mistisme hindu.
Sebagaimana dalam penafsiran Alquran dan juga pendapat para tokoh Islam dan sebagian para orientalis Barat, bahwa praktek-praktek atau ritual sufisme itu di dasari  dan pernah di praktekkan oleh  Nabi Muhammad dan memberikan pradigma perkembangan sufisme.
3.      Sufisme Dan Kesalehan Normatif Di Kalangan Santri Tradisional
Makna inti kata santri adalah, pelajar sekolah Islam. Kendati demikian,  kata itu juga bisa menunjukkan  pentingnya kesalehan normatif (shalat lima waktu, puasa ramadhan, berhaji ke Makkah, dan lain-lain) dan mempelajari teks-teks kkkeagamaan berbahasa Arab.
Secara garis besar santri menerima ritual-ritual yang berbau mistis yang di anggap kaum pembaharu dan gerakan fundamentalis, akan tetapi santri tradisional bersifat akamodasi, ada pengecualian. Santri tradisional cendrung pada syari’at sebagaimana sebagaimana sufi timur tengah, mereka berkeyakinan bahwa seluruh persyaratan kesalehan normatif harus di penuhi dulu sebelum memasuku ranah mistis atau sufi. Dan mereka juga yakin bahwa unsure batin dari kehidupan keagamaan lebih penting daripada bentuk lahir, namun keshalehan merupakan ekspresi iman dan batin dan cara memperkukuh spritualitas.
Namun santri tradisional dan kaum modernis tetap bepegang teguh terhadap Alquran dan Hadist yang literaturnya sangat banyak menyentuh semua aspek kehidupan duniawi maupun keagamaan, dari masalah ritual hingga hubungan keluarga dan tetangga, berbagai tata cara dan bahkan cara untuk menggosok gigi. Yang menjadi perdebatan antara keduanya  bahwa ritual-ritual yang di lakukan tradisionalis di topang oleh literatur hadist yang lemah sanadnya yang langsung kepada Nabi.
4.      Agama Kraton dan agama kampung : interpretasi sosial sufisme
Formulasi Kraton dan kampung mengenai Islam Jawa sama-sama menekankan praktek dan pengalaman mistik, ritual, dan pemujaan wali. Baik bangsawan maupun warga kampung biasa yang kejawen tidak menaruh perhatian pada kesalehan normatif. Sehingga sebagian mereka beranggapan hal itu merupakan bentuk keagamaan yang lebih cocok kepada santri dan menurut mereka itu tidak perlu bahkan tidak menyukainya.
Penduduk nonsantri dan penduduk kampung tidak menaruh minat terhadap kesalehan normative disbanding kan kalangan bangsawan. Mereka kabanyakan enggan mengikuti kegiatan-kagiatan di mesjid lokal dan tidak bisa membaca bahkan banyak yang tidak mengerti bahasa Arab Alquran. Tetapi bukan berarti agama rakyat itu animistic, ia lebih mengikiti jejak apa yang ada di Kraton
Babad Tanah Jawa dan Serat Cebolek meupakan contoh riil dari interpretesi sosial terhadap doktrin. Serat Cebolek menaruh perhatian pada hubungan hukum antara kesalehan normative dan pengetahuan mistik. Bagian dari Babad Tanah Jawa yang berkaitan dengan pendirian Mataram mengilustrasikan pentingnya kaitan praktek mistik dan kekuasaan dalam suatu wadah kesalehan normative.
5.      Kraton Yokyakarta Dan Struktur Jalan Mistik
Kraton memainkan peran yang demikian penting  dalam kehidupan Negara Jawa bahkan penguasa terhada kawasan, penduduk,  dan sumber-sumber. Kraton menghabiskan area 14 ribu meter persegi, termasuk alun-alun, pohon, bangunan, pavilion terbuka, tembok, pintu gerbang, masing-masingnya memiliki satu atau lebih makna keagamaan yang berbeda.
Kraton Yokyakarta merupakan model varian Jawa  dari teori sufi mengenai sifat manusia, asal muasalnya, hubungan dengan Allah,  dan takdir akhirnya. Ia merupakan suatu model badan manusia sempurna, lengkap dengan tiga singgasana/ atau tempat perlindungan. Simbolisme Kraton membentuk suatu model sufi dan teori Islam normative mengenai kehidupan sesudah mati.
6.      Unsur-unsur Hindu Dalam Islam Jawa Dan Persoalan Syirik
Sepanjang sejarah Islam, kaum sufi mengekspresikan kesediaan dan keterbukaan paling besar terhadap istilah-istilah dari kepercayaan dan ritus-ritus nonmuslim  dibandingkan para ulama, akomodasi ini difasilitasi oleh teori kesatuan wujud (wahdah al-wujud), dalam beberapa hal mirip dengan filsafat Vedanta.
Kendati demikian, ada beberapa aspek Hindu dan Budha yang jarang, meskipun mungkin ada diteima dikalangan sufi. Diantara aspek ini adalah  teori kelajiran kembali, system kasta, dan penyangkalan Budha terhadap keberadaan jiwa. Sementara aspek-aspek tradisi keagamaan Asia Selatan yang paling cendrung mereka masukkan kedalam system mereka sendiri adalah kekuatan sihir yogi, tasbih dan latihan-latihan penguasaan napas.
Secara umum, kaum sufi  Asia Selatan bersedia menerima unsur-unsur  tradisi Hindu dan Budha, yang dalam istilah mereka, bersifat zahir dan menolak unsur-unsur yang hanya bisa diinterpretasiakn sebagai batin. Demikian juga mereka cendrung tidak menerima doktrin-doktrin kosmologis, sebagai lawan mitologis dari agama asia selatan.
Mark R Woodward banyak membirikan perhatian pada penafsiran doktrin, praktek, dan mitos Hindu-Jawa dan penilaian teradisi tersebut berpusat pada persoalan syirik. Dari banyak tradisi Hindu-Jawa yang masih tetap bertahan dua diantaranya perlu di bicarakan: teori kesaktian dan praktek yang di hubungkan dengan tapa, baik ia sihir dan tradisi wayang,  memang itu semua adalah tradisi dari Hindu-Jawa akan tetapi bisa di rebut dan di Islamisasikan.

E.       KESIMPULAN
Dari berbagai banyak objek kajian yang telah di teliti oleh Mark R Woodward mulai dari mengkaji hubungan antara teks-teks keagamaan, agama rakyat, organisasi sosial, wacana sosial, dan keagamaan, ia mengambil kesimpulan, bahwa Islam Jawa pada dasarnya juga Islam, artinya Islam Jawa itu masih tetap dalam koridor dan rel-rel yang telah di tetapkan dalam Islam itu sendiri, dan Islam Jawa bukan Hindu dan Budha, sebagaimana yang di tuduhkan kalangan Islam puritan dan banyaksejarawan-antropolog (kolonial).
Islam Jawa bukanlah penyimpangan dari Islam akan tetapi merupakan varian dari Islam  sebgaiman kita temukan  ada Islam India, Islam Syria, Islam Maroko, dan mungkin lebih lanjut mari kita telusuri bersama.