Jumat, 19 September 2014

NALAR PENDIDIKAN ANAK (RESENSI BUKU)

JUDUL BUKU: NALAR PENDIDIKAN ANAK
PENULIS: MIFTAHUL HUDA

A. Latar Belakang Penulisan Buku
1.      Persoalan epistemologi pendidikan anak dalam masyarakat muslim didominasi oleh pemikiran pakar pendidikan barat,
2.      Fakta akademik pendidikan tingkat dasar yang memprihatinkan,
3.      Fakta empirik “krisis pendidikan anak, dan
4.      Al-Qur’an memuat dasar-dasar filosofis dan praktis pendidikan anak.
Secara historis, al-Qur’an diantara isinya mengabadikan berbagai fenomena kehidupan - termasuk di dalamnya adalah kehidupan manusia- untuk dijadikan ‘ibrah bagi kehidupan manusia itu sendiri. Fakta-fakta historis pendidikan keluarga banyak sekali dituangkan dalam rekaman ayat dalam berbagai surat di dalam al-Qur’an.

Beberapa di antaranya memiliki kesessuaian dengan proses pembentukan keilmuan pendidikan, semisal pendidikan yang dilakukan oleh Luqman al-Hakim, nabi Nuh as., nabi Ibrahim as., nabi Ya’qub as., dan Maryam. Tokoh-tokoh tersebut telah memainkan peran penting dalam interaksi pendidikan dalam lingkup keluarga, yakni pendidikan dilakukan terhadap anaknya.
Profil Luqman Hakim secara epistemologis menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tertumpu kepada pendidik yang memiliki kompetensi hikmah. Hikmah tidak saja difahami sebagai pendidik yang bijaksana saja, tetapi juga ada kesesuaian antara kata hati nurani yang bersih dan prilaku yang benar. Kesatuan kata dan prilaku menggambarkan betapa pendidik merupakan figure ideal yang patut dicontoh pikirann, perkataan dan perbuatannya.
Pendidikan tidak cukum hanya mengarah pada pemberdayaan kognitif saja, tetapi juga afektif dan psikomotor. Ketajaman dan kecerdasan berfikir anak didik menjadi pintu utama untuk melahirkan sikap dan prilaku yang benar. Dengan kata lain, tujuan utama pendidikan yaitu kebenaran sikap dan prilaku yang didasarkan atas cara logika dan cara berfikir yanag benar pula.
Profil nabi Nuh as. dalam nalar epistemology menunjukkan bahwa tidak ada keterkaitan langsung antara nasab dan nasib keilmuan anak. Secara geneologi, pendidikan tidak bisa dan tidak terbiasa untuk diwariskan melalu jalur keturunan secara berkelanjutan. Kelahiran boleh saja mengikat seseorang dalam tali persaudaraan hubungan darah, tetapi tidak dalam hubungan warisan keilmuan secara otomatis.
Oleh karena itu setiap anak yang lahir pasti dalam keadaan fitrah, yakni kosong dari segala potensi bawaan. Bayi sikaya sama fitrah-nya dengan bayi simiskin, pun demikian pula antara bayi sialim dengan bayi sibodoh. Hal ini menjadikan idiologi pendidikan sebagai agent of change bagi peradaban manusia.
Nabi Ibrahim mengandaikan epistemologi pendidikan demokratis. Pendidikan hadir dalam proses interaksi yang humanis dan dialogis, sehingga terbebas dari tindak otoritatip sang pendidik. Anak didik dijadikan “mitra agency” dalam menentukan kebenaran sebuah prilaku.
Signifikansinya, rumusan materi dan tujuan pendidikan tidak saja didasarkan pada interest pendidik untuk menggapainya, tetapi juga mempertimbangkan keinginan anak didik. Anak didik diberi porsi secara proporsional untuk terlibat mendesain kebenaran pendidikan. Hal inilah yang ditunjukkan dalam interaksi Ibrahaim as terhadap Ismail dalam proses penawaran risalah tuhan untuk tugas penyembelihan.
Epistemologi problem solving dalam pendidikan ditafsirkan dari narasi interaksi dalam keluarga nabi Ya’qub as. pendidikan hadir dalam upaya memecahkan permasalahn yang dihadapi oleh anak didik. Dalam hal ini mengandaikan bahwa hidup dipandang secara problematik yang memerlukan solusi bijak bagi anak manusia.
Pada gilirannya bagaimana kontribusi pendidikan mampu mengatasi problematika kehidupan yang dihadapi oleh anak manusia dari setiap fase kehidupannya mulai dari sejak lahir, dewasa bahkan sampai tua. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan mampu membangun prestasi individu peserta didik dalam memecahkan permasalah hidupnya, dan bukan sebaliknya menjadi beban bagi peserta didik karena memiliki kompetensi keilmuan yang tidak membantu dalam penyelesaian kehidupannya.
Pendidikan “kodrati” dinalar dari peristiwa kehidupan nabi Isa as. Isa as. diwaktu kecil mampu menghadirkan fakta kebenaran sebagai jawaban atas permasalahan yang dihadapi oleh ibunya Maryam. Ketika itu, Maryam profil wanita salehah itu dikejutkan dengan kehadiran malaikat yang membawa perintah Allah akan kelahiran Isa dari rahimnya tanpa proses manusiawi, yakni tanpa suami. Kelahiran Isa yang dijanjikan itulah jenyebabkan kekacauan dimasyarakat, sehingga kaumnya menuduh Maryam telah melakukan przinaan. Atas peristiwa itu, hinaan dan tekanan yang dihadapi Maryam dirasa di luar batas untuk menerimanya, pada akhirnya Isa menghadirkan kebenaran baru yang membuktikan bahwa ibunuya tidak melakkukan apa yang mereka tuduhkan.
Di sinilah terlihat bahwa sumber pendidikan bukunlah otoritas subyektif, melainkan otoritas obyektif yang mampu menenghadirkan fakta kebenaran sejati. Bisa jadi akumulasi fakta subyektifitas pendidikan secara komunal menjustifikasi obyektifitas pendidikan.

B. Hasil ekplorasi tulisan ini menunjukkan beberapa poin berikut:

  1. Kontruksi epistemologi pendidikan anak dipengaruhi oleh sosio-kultural. Pendidikan anak terjadi sebagai problem solving permasalahan yang dihadapi oleh anak didik dan atau pendidik dalam interaksinya dengan anak didik.
  2. Materi pendidikan anak meliputi aspek akidah, syari’ah dan akhlak.
  3. Tujuan pendidikan anak untuk penanaman spiritual dan pemberdayaan intelektual serta emosional.
  4. Pendidik anak memiliki kompetensi dasar bijak, sabar, demokratis, psikolog, dan intuitif.
  5. Sifat patuh, komunikatif dan kritis anak didik mendukung keberhasilan pendidikan.
  6. Efektifitas interaksi pendidikan menggunakan metode dialogis dan komunikatif dengan mempertimbangkan emosional anak didik.
 C. Kesimpulan
Allah begitu empiris mendata fakta social sebagai pengetahuan pendidikan dalam kitab suci.manusia dangan akalnya diberi kesempatan untuk merespon pengetahuan pendidikan yang diberikan oleh Allah.
Hal ini berarti kitab suci mengakomodasikan peengetahuan manusia dengan mempertimbangkan factor situasi dan kondisi masyarakat pada umumnya.Dengan demikian,konstuksi epistemology pendidikan anak dipengaruhi oleh kondisi social budayaanak.
Pendidikan anak dalam Al-Quran ini menggadaikan temuan epistemology pada aspek sumber pengetahuan pendidikancara memperoleh,dan mendidikannya.Buku hanya memfokoskan pada pelaku sejarah yang memiliki interaksi pendidikan terhadap anak.Interaksi tersebut baik pasif maupun aktif,monolog(searah)maupun dialogis,harus mengandung unsure komunikasi pendidik terhadap anak didik.

.Tabel 1 Materi dan Tujuan Pendidikan dalam Al-Quran
                                                    
No
Subjek Pendidikan
Materi Pendidikan
Tujuan Pendidikan
1.
Luqman Hakim dan anaknya
a.Akidah:iman kepada Allah
b.Syari’ah:shalat
c.Akhlak:berbakti pada orang tua,dakwah,sabar,tidak sombong dan bertutur baik
Transendensi

Takwa kepada Allah
Kesalehan sosial
2
Nabi Nuh a.s. dan Kan’an
a.Akidah:iman kepada Allah
b.Akhlak:bergaul dengan orang shalih.
Transendasi

Humanisasi
3.
Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma’il a.s.
a.Akidah iman kepada Allah.
b.Syari’ah:berkurban

c.Akhlak:berbakti kepada orang tua
Transendasi

Takwa kepada Allah
Humanisasi
4.
Nabu Ya’kub a.s dan Yusuf a.s.
a.Akidah:iman kepada Allah
b.Akhlak interaksi kekeliargaan
Transendasi

Humanisasi
5.
Maryam dan Isa a.s.
a.Akidah:iman kepada Allah dan Rasul
b.Syari’ah:Zakat dan Shalat
c.Akhlak:berbakti pada orang tua dan berbuat baik pada sesama
Kesalehan personal
Takwa kepa Allah
Kesalehan sosial







 Tabel 2 Metode Pendidikan

No
Subjek pendidikan
Metode Pendidikan
Interaksi
Peran pendidik
Peran anak didik
1.
Luqman dan anaknya
nasehat
searah
Aktif
Pasif
2.
Nabi Nuh a.s. dan anaknya
Dialogis-rasionalis
Interaktif
Aktif
Aktif
3.
Nabi Ibrahim dan anaknya
Dialogis-rasionalis
Interaktif
Aktif
Pasif
4.
Nabi Ya’kub dan anaknya
Dialogis -rasionalis
Interaktif
Aktif
Pasif