Senin, 29 September 2014

Nasib Malang di Malang Islamic Book Fair 2013


Bajar buku Islam telah hadir lagi di Balai Kota. Tapi uang kami hanya cukup untuk beli Sawi dan kacang, makanan yang biasa kami nikmati sehari-hari.
Jun : Mumpung malam minggu ini kita dapat pinjaman motor Ramzi dan kamu juga punya pinjaman tulang, ayolah jalan-jalan ke Book Fair, refreshing dikit gitulah sambil liat-liat buku.”
Sein : Kamu punya uang Jun?
Jun : Tidak bro, tapi kita ke kos Romzi saja dulu, saya mau pinjam uangnya buat beli buku.
Andi si pecandu buku menatap si Jun dengan semangat, dan berkata:

Andi : “Ohh ya, Bagaimana teman kalau kita pergi ke Book Fair usai sholat Isa?
Jun : Ya! Saya sepakat”, karena antara magrib dan Isa saya diundang pak Min untuk memimpin do’a di acara syukuran Bayinya.
Sein : Oke deh, saya ikut kalian saja.
Usai sholat isa kami gelar di Mushalla Al-Amin kami pun ganti pakaian dan langsung meluncur ke kos Ramzi dan mengajaknya ikut ke Book Fair. 30 menit kemudian, keramaian spanduk dan anak muda pun mulai menunjukkan bahwa kami sudah sampai di Book Fair. Akhirnya saya langsung mencari tempat parkir.
Jun : Waduhhh...
Sein : Kenapa Jun?? (Sambil menoleh Jun yang duduk diboncengan motor) Yaaa... sandal jepitmu putuss. Bisa kamu perbaiki nggak?
Jun : “kamu ada bawa jarum atau kencing gambo?
Sein : “Nggk Jun, kayaknya kamu harus beli baru nih, Coba bawa dulu motor ini untuk mencari penjual sandal jepit di sekitar lingkungan ini. Punya uang Jun?” (sambil mengorek saku)
Jun : “Tidak Sein, uangku yang dikasih ramzi tadi pecahannya Rp 100.000.
Sein : “ Ohh..., hati-hati ya Jun! (sambil memberikan uang ribuan dan kunci motor yang ditangannya).
Sein, Ramzi dan Andi pun langsung mengelilingi toko buku yang berbaris rapat di lorong-lorong Book Fair sambil menoleh-noleh buku harga buku yang paling murah. Harga buku di Book Fair ini ternyata cukup bervariasi, mulai dari buku yang berharga Rp 5000, 10.000, 15.000/ 2 buku sampai kepada buku yang berharga jutaan rupiah.
Sein : Andi!!, buku lima ribuan ini bagus-bagus juga lo, ada nih yang tebal dan pengarangnya doktor pula (Sambil membongkar-bongkar buku yang berserakan di bawah rak buku).
Andi : Iya, saya juga mau beli nih.
10 menit kemudian Jun pun datang menghampiri kami yang sedang sibuk memilih buku-buku mutas alias murah dan berkualitas.
Sein : yehhh,,, mantap jun (sambil memberi acungan jumpol pada sandal jepit barunya).
Jun : “ heheheh...
Sein : ”Jun, kok toko-toko itu mulai menutup bukunya dengan kain??
Jun.   : Hahahhh???? Kayaknya bazar buku ini sudah mau tutup nih, Ya!!?? Lampu toko yang dipojok sana sudah mati bro. Ayo segera pulang, besok lusa kita harus lebih awal lagi kesini.
Andi dan Jun pun tercengang melihat toko buku yang satu-persatu mulai menutup tokonya dan wajahnya kelihatan menyesal dengan keterlambatan kami.
Sein : “Ayo lahhh, agar tidak rugi di ongkos beli saja buku yang paling diperlukan dan yang harganya murah... ! Hehee..
Andi pun jadi membeli buku yang dipegangnya dan kami bertiga pun langsung pulang ke parkiran sambil mencari Ramzi yang hilang entah kemana.
Andi : Itu, Ramzi (Sambil menunjuk ke tempat parkiran).
Sein : Sudah lama nunggu di sini mas???
Ramzi : Hehehe. Kalian sih, udah lihat toko bukunya mau nutup masih saja kalian milih-milih buku. (Ramzi meledek kami bertiga sambil menggeleng-gelngkan kepalanya).
Andi : Ya dong, rugikan??? Klo kita kesini tidakbeli sama sekali.
Sein : “Ya, ayolah pulang, besok kita ke sini lagi lebih awal.
Andi : “Sebelum pulang, kita santai-santailah dulu di bawah Tugu kota itu untuk mencari ide brilian!.
Kami berempat pun pergi ke taman Tugu yang tepatnya di depan lokasi Bazar buku. Walau taman tugu kota ini berhadapan dengan lokasi Bazar buku Islam, tapi pemandangan alam dan style manusia di taman ini sungguh berbeda dengan suasana di bazar buku. Di taman ini kami melihat tumpukan buku2 yang dikelilingi individu-individu yang berbusana muslim sedangkan di taman ini kami melihat tumpukan manusia lawan jenis yang sedang memadu kasih di bawah pohon bunga dengan ditemani suara air mancur yang menambah sejuknya udara malam ini. Dengan sedikit iri namun tetap percaya diri keempat jomblo pun membuka leptopnya untuk mencari ide tulisan yang akan digarap bulan depan.
Setelah merasa cukup lama ngobrol-ngobrol di taman, satu persatu cacing perutku pun mulai mengajak pulang krn belum dikasih makan malam. Oleh karena itu, kami pun kembali ke tempat parkiran menemui sepeda motor kami yang mulai kedinginan.
Kriukk..ukk "suara perut terdengar Saat Sein menyelakan Sepeda Motornya, Namun Sein merasa ada yang anehh dengan sepeda motor ini:
Sein: “ Sepeda motornya kok stiurnya berat Jun??? Coba cek Bannya.>!!
Jun: “ WaduhhhHHH??? Bocor Sein!”
Sein: : "wah bahaya nih, perut lapar bocor ban", Lengkap sudah penderitaan!
Sein pun minta bantuan Ramzi untuk mencarikan tukang tambal ban terdekat dengan menggunakan sepeda motornya.
Ramzi: “Tukang Tambal Ban terdekat 1 Km dari sini Sob.
Sein: Waouu... Tapi tidak apa-apalah, Ini sudah jadi nasib malang di Islamic Malang Book Fair.
Sambil berusaha melupakan rasa lapar, saya dan Jun pun terpaksa berjalan kaki sambil bergantian mendorong sepeda motor sepanjang 1 Km. Setiba disana, Kami pun harus rela mengantri sambil menahan rasa Laparrr yang melebihi seperti Puasa Ramadhan. Ingin rasanya membeli makanan ringan, tapi sayang uang saku sudah jadi buku.

To be continued...