Minggu, 28 September 2014

PANCASILA SEBAGAI DASAR NILAI PENGEMBANGAN ILMU



 A. Pendahuluan
Andaikan  para  ilmuwan dalam  pengembangan  ilmu konsisten akan janji awalnya ditemukan ilmu, yaitu untuk mencerdaskan manusia, memartabatkan manusia dan mensejahterakan manusia, maka pengembangan ilmu yang didasarkan pada kaidah-kaidah keilmuannya sendiri tak perlu menimbulkan ketegangan-ketegangan antara ilmu (teknologi) dan masyarakat.
Fakta yang  kita saksikan saat ini  ilmu-ilmu  empiris mendapatkan tempatnya yang sentral dalam kehidupan manusia karena dengan teknologi modern yang dikembangkannya dapat memenuhi kebutuhan praktis hidup   manusia. Ilmu-ilmu empiris   tersebut tumbuh dan berkembang  dengan  cepat    melebihi  ritme  pertumbuhan dan perkembangan peradaban manusia. Ironisnya tidak diimbangi kesiapan mentalitas sebagian masyarakat, khususnya di Indonesia.

Teknologi telah merambah berbagai bidang kehidupan manusia secara ekstensif dan mempengaruhi sendi-sendi kehidupan manusia secara intensif,   termasuk merubah pola pikir dan budaya manusia, bahkan nyaris menggoyahkan  eksistensi  kodrati  manusia  sendiri (Iriyanto,  2005).    Misalnya,  anak-anak  sekarang  dengan alat-alat permainan yang serba teknologis seperti playstation, mereka sudah dapat terpenuhi hasrat hakikat kodrat sosialnya hanya dengan memainkan alat permainan tersebut secara sendirian. Mereka tidak sadar dengan kehidupan yang termanipulasi teknologi menjadi manusia individualis.   Masih   terdapat   banyak   persoalan   akibat teknologi yang dapat disaksikan, meskipun secara nyata manfaat teknologi tidak dapat dipungkiri.
Problematika  keilmuan  dalam  era  millenium  ketiga ini tidak terlepas dari sejarah perkembangan ilmu pada masa-masa sebelumnya. Karena itu untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif perlu dikaji aspek kesejarahan dan aspek-aspek lainnya terkait dengan ilmu dan teknologi. Dari sini,   problematika keilmuan dapat segera diantisipasi dengan merumuskan kerangka dasar nilai bagi pengembangan ilmu. Kerangka dasar nilai ini harus  menggambarkan  suatu   sistem  filosofi  kehidupan yang dijadikan prinsip kehidupan masyarakat, yang sudah mengakar  dan  membudaya dalam  kehidupan masyarakat Indonesia, yaitu nilai-nilai Pancasila.
B. Ilmu dalam perspektif historis
Ilmu   pengetahuan   berkembang   melangkah   secara bertahap menurut dekade waktu dan menciptakan jamannya, dimulai dari jaman Yunani Kuno, Abad Tengah, Abad  Modern, sampai Abad Kontemporer.
Masa Yunani Kuno (abad ke-6 SM-6M) saat ilmu pengetahun lahir, kedudukan ilmu pengetahuan identik dengan filsafat memiliki corak mitologis. Alam dengan berbagai  aturannya  diterangkan  secara  theogoni,  bahwa ada peranan para dewa yang merupakan unsur penentu segala sesuatu yang ada. Bagaimana pun corak mitologis ini telah  mendorong  upaya  manusia  terus  menerobos  lebih jauh dunia pergejalaan, untuk mengetahui adanya sesuatu yang eka, tetap, dan abadi, di balik yang bhineka, berubah dan sementara ( T. Yacob, 1993).
Setelah  timbul  gerakan  demitologisasi  yang dipelopori filsuf pra-Sokrates, yaitu dengan kemampuan rasionalitasnya maka filsafat telah mencapai puncak perkembangan,  seperti  yang  ditunjukkan  oleh  trio  filsuf besar : Socrates, Plato dan Aristoteles. Filsafat yang semula bersifat mitologis berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang meliputi berbagai macam bidang. Aristoteles membagi ilmu menjadi ilmu pengetahuan poietis (terapan), ilmu pengetahuan praktis (etika, politik) dan ilmu pengetahuan teoretik. Ilmu pengetahuan teoretik dibagi menjadi ilmu alam, ilmu pasti dan filsafat pertama atau kemudian disebut metafisika.
Memasuki   Abad   Tengah   (abad   ke-5   M),   pasca Aristoteles filsafat Yunani Kuno menjadi ajaran praksis, bahkan mistis, yaitu sebagaimana diajarkan oleh Stoa, Epicuri,   dan   Plotinus.   Semua   hal   tersebut   bersamaan dengan pudarnya kekuasaan Romawi yang mengisyaratkan akan datangnya tahapan baru, yaitu filsafat yang harus mengabdi kepada agama (Ancilla Theologiae). Filsuf besar yang berpengaruh saat itu, yaitu Augustinus dan Thomas Aquinas, pemikiran mereka memberi ciri khas pada filsafat Abad Tengah. Filsafat Yunani Kuno yang sekuler kini dicairkan dari antinominya dengan doktrin gerejani, filsafat menjadi bercorak teologis. Biara tidak hanya menjadi pusat kegiatan agama, tetapi juga menjadi pusat kegiatan intelektual.  Bersamaan  dengan  itu  kehadiran  para  filsuf Arab tidak kalah penting, seperti: Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Gazali, yang telah menyebarkan filsafat Aristoteles dengan membawanya ke Cordova (Spanyol) untuk kemudian diwarisi oleh dunia Barat melalui  kaum Patristik dan kaum Skolastik. Wells dalam karyanya The Outline of History (1951) mengatakan, “Jika orang Yunani adalah  Bapak metode ilmiah, maka orang muslim  adalah Bapak angkatnya”.
Muncullah Abad Modern (abad ke-18-19 M) dengan dipelopori  oleh  gerakan  Renaissance di  abad  ke-15  dan dimatangkan oleh gerakan Aufklaerung di abad ke-18, melalui langkah-langkah revolusionernya filsafat memasuki tahap baru  atau  modern. Kepeloporan revolusioner yang telah dilakukan oleh anak-anak Renaissance dan Aufklaerung seperti: Copernicus, Galileo Galilei, Kepler, Descartes dan Immanuel Kant, telah memberikan implikasi yang amat luas dan mendalam. Di satu pihak otonomi beserta segala kebebasannya telah dimiliki kembali oleh umat manusia, sedang di lain pihak manusia kemudian mengarahkan hidupnya ke dunia sekuler, yaitu suatu kehidupan pembebasan dari kedudukannya yang semula merupakan koloni dan subkoloni agama dan gereja. Agama yang semula menguasai dan manunggal dengan filsafat segera ditinggalkan oleh filsafat. Masing-masing berdiri mandiri dan berkembang menurut dasar dan arah pemikiran sendiri (Koento Wibisono, 1985)
Dalam perkembangan berikutnya filsafat ditinggalkan oleh ilmu-ilmu cabang yang dengan metodologinya masing- masing mengembangkan spesialismenya sendiri-sendiri secara intens. Lepasnya ilmu-ilmu cabang dari batang filsafatnya diawali oleh ilmu-ilmu alam atau fisika, melalui tokoh-tokohnya:
1)  Copernicus     (1473-1543)     dengan     astronominya menyelidiki putaran benda-benda angkasa. Karyanya de Revolutionibus Orbium Caelistium yang  kemudian dikembangakan oleh Galileo Galilei (1564-1642) dan Johanes  Kepler  (1571-1630), ternyata  telah menimbulkan revolusi tidak hanya di kawasan ilmu pengetahuan saja, tetapi juga di masyarakat dengan implikasinya yang amat jauh dan mendalam.
2)  Versalius (1514 -1564) dengan karyanya De Humani Corporis  Fabrica  telah melahirkan  pembaharuan persepsi dalam bidang anatomi dan biologi.
3)     Isaac Newtown (1642-1727) melalui Philosopie Naturalis Principia Mathematica    telah  menyumbangkan  bentuk definitif bagi mekanika klasik.
Perkembangan   ilmu   pengetahuan   alam   dan   ilmu sosial   dengan   gaya   semacam   itu   mencapai   bentuknya secara  definitif  melalui  kehadiran  Auguste  Comte  (1798-1857) dengan Grand Theory-nya yang digelar dalam karya utama  Cours  de  Philosophie Positive  yang  mengajarkan bahwa cara berfikir manusia dan juga masyarakat di mana pun akan mencapai puncaknya pada tahap positif, setelah melampaui  tahap  teologik  dan  metafisik.  Istilah  positif diberi arti eksplisit dengan muatan filsafati, yaitu untuk menerangkan bahwa yang benar dan yang nyata haruslah konkret, eksak, akurat, dan memberi kemanfaatan (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM, 1997).
Metode   observasi,   eksperimentasi,   dan   komparasi yang dipelopori Francis Bacon (1651-1626) telah semakin mendorong pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan. Semua   itu   memberi   isyarat   bahwa   dunia   Barat   telah berhasil melakukan tinggal landas untuk mengarungi dirgantara ilmu pengetahuan yang tiada bertepi.
Battle cry-nya Francis Bacon yang menyerukan bahwa “knowledge is  power”  bukan  sekedar  mitos,  melainkan sudah menjadi etos, telah melahirkan corak dan sikap pandang manusia yang meyakini kemampuan rasionalitasnya untuk menguasai dan meramalkan masa depan, dan dengan optimismenya menguasai, berinovasi secara kreatif untuk membuka rahasia-rahasia alam. Didukung oleh roh kebebasan Renaissance dan Aufklaerung, menjadikan masyarakat Barat sebagai masyarakat yang tiada hari tanpa temuan-temuan baru, muncul secara historis kronologis berurutan dan berdampingan sebagai alternatif.
Revolusi ilmu pengetahuan memasuki Abad Kontemporer (abad ke-20-sekarang) berkat teori relativitas Einstein yang telah  merombak filsafat Newton (semula sudah mapan) di samping teori kuantumnya yang telah  mengubah  persepsi  dunia  ilmu  tentang  sifat-sifat dasar dan perilaku materi. Sedemikian rupa sehingga para pakar dapat melanjutkan penelitian-penelitiannya, dan berhasil mengembangkan ilmu-ilmu dasar seperti: astronomi, fisika, kimia, biologi molekuler, hasilnya seperti yang dapat dinikmati oleh manusia sekarang ini (Sutardjo, 1982).
Optimisme bersamaan dengan pesimisme merupakan sikap manusia masa kini dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dengan penemuan-penemuan spektakulernya. Di satu pihak telah meningkatkan fasilitas hidup yang berarti menambah kenikmatan. Namun di pihak lain gejala-gejala adanya malapetaka, bencana alam (catastrophe) menjadi semakin meningkat dengan akibat- akibat yang cukup fatal.
Berdasarkan   gejala   yang   dihadapi   oleh   masing- masing cabang ilmu, Auguste Comte dalam sebuah Ensiklopedi menyusun hirarki ilmu pengetahuan dengan meletakkan matematika sebagai dasar bagi semua cabang ilmu.  Di  atas  matematika  secara  berurutan  ditunjukkan ilmu astronomi, fisika, kimia, biologi dan fisika sosial atau sosiologi. Ia menjelaskan bahwa sampai dengan ilmu kimia, suatu tahapan positif telah dapat dicapai, sedangkan biologi dan fisika sosial masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai theologis dan metafisis.
Pemikiran Auguste Comte tersebut hingga kini menjadi semakin aktual dan relevan untuk mendukung sikap pandang yang meyakini bahwa masyarakat industri sebagai tolok ukur bagi tercapainya modernisasi, maka harus  disiapkan  melalui  penguasaan  basic  science, yaitu matematika, fisika, kimia, dan biologi dengan penyediaan dana dan fasilitas dalam skala prioritas utama (Koento Wibisono, 1985).
Bersamaan dengan itu logico positivisme, yaitu sebuah model epistemologi yang dalam langkah-langkah progresinya menempuh jalan : observasi, eksperimentasi, dan komparasi, sebagaimana diterapkan dalam penelitian ilmu  alam,  mendapatkan  apresiasi  yang  berlebihan sehingga model ini juga mulai dikembangkan dalam penelitian-penelitian ilmu-ilmu sosial.
Logico positivisme merupakan  model  atau  teknik penelitian yang menggunakan presisi, verifiabilitas, konfirmasi, dan eksperimentasi dengan derajat optimal, bermaksud  agar sejauh mungkin dapat melakukan prediksi dengan derajat ketepatan optimal pula. Dengan demikian keberhasilan dan kebenaran ilmiah diukur secara positivistik. Dalam arti yang benar dan yang nyata haruslah konkret, eksak, akurat, dan memberi kemanfaatan. Akibatnya adalah bahwa dimensi-dimensi kehidupan yang abstrak dan kualitatif yang justru menjadi basis eksistensi kehidupan manusia menjadi terabaikan atau terlepas dari pengamatan. Kebenaran dan kenyataan diukur serta dimanipulasikan secara positivistitik kuantitatif. Keresahan dan  penderitaan  seseorang  atau  masyarakat  tidak tersentuh. Masalah objektivitas menjadi tema-tema unggulan dalam kehidupan keseharian manusia saat ini, dengan  mengandalkan  penjelasan validitas kebenarannya secara matematis melalui angka-angka statistik. Langkah metodis semacam  ini  sering penuh dengan rekayasa dan kuantifikasi yang dipaksakan sehingga tidak   menjangkau akar-akar permasalahannya
Kritik dan koreksi terhadap positivisme banyak dilancarkan, karena sifatnya yang naturalistik dan deterministik. Manusia dipandang hanya sebagai dependent variable, dan bukan sebagai independent variable. Manusia bukan lagi pelaku utama yang menentukan, tetapi objek yang diperlakukan oleh ilmu dan teknologi.
Wilhelm Dilthey (1833-1911) mengajukan klasifikasi, membagi  ilmu  ke  dalam  Natuurwissenchaft dan Geisteswissenchaft.  Kelompok  pertama  sebagai  Science of the World menggunakan metode Erklaeren, sedangkan kelompok kedua adalah Science of Geist menggunakan metode Verstehen. Kemudian  Juergen Habermas, salah seorang tokoh mazhab Frankfrut (Jerman) mengajukan klasifikasi lain lagi dengan the basic human interest sebagai dasar,  dengan  mengemukakan  klasifikasi  ilmu-ilmu empiris-analitis,   sosial-kritis   dan   historis-hermeneutik, yang masing-masing menggunakan metode empiris, intelektual  rasionalistik,  dan  hermeneutik  (Van  Melsen, 1985).
Adanya faktor heuristik mendorong lahirnya cabang-cabang ilmu yang baru seperti : ilmu lingkungan, ilmu komputer, futurologi, sehingga berapapun jumlah pengklasifikasian pasti akan kita jumpai, seperti yang kita lihat dalam kehidupan perguruan tinggi dengan munculnya berbagai macam fakultas dan program studi yang baru.
Ilmu  pengetahuan dalam  perkembangannya dewasa ini beserta anak-anak kandungnya, yaitu teknologi bukan sekedar sarana bagi kehidupan umat manusia. Iptek kini telah menjadi sesuatu yang substansial, bagian dari harga diri  (prestige) dan  mitos,  yang  akan  menjamin  survival suatu   bangsa,   prasyarat   (prerequisite) untuk   mencapai kemajuan (progress) dan kedigdayaan  (power) yang dibutuhkan dalam hubungan antar sesama bangsa. Dalam kedudukannya yang substansif tersebut, Iptek telah menyentuh semua segi dan sendi kehidupan secara ekstensif, dan pada gilirannya mengubah budaya manusia secara intensif. Fenomena perubahan tersebut tercermin dalam masyarakat kita yang dewasa ini sedang mengalami masa transisi simultan, yaitu:
1) Masa transisi masyarakat berbudaya agraris-tradisional menuju masyarakat dengan budaya industri modern. Dalam masa transisi ini peran mitos mulai diambil alih oleh logos (akal pikir). Bukan lagi melalui kekuatan kosmis yang secara mitologis dianggap sebagai penguasa alam sekitar, melainkan sang akal pikir dengan kekuatan penalarannya yang handal dijadikan kerangka acuan untuk meramalkan dan mengatur kehidupan. Pandangan mengenai ruang dan waktu, etos kerja, kaidah-kaidah normatif  yang  semula  menjadi  panutan,  bergeser mencari format baru yang dibutuhkan untuk melayani masyarakat yang berkembang menuju masyarakat industri. Filsafat “sesama bus kota tidak boleh saling mendahului” tidak berlaku lagi. Sekarang yang dituntut adalah prestasi, siap pakai, keunggulan kompetitif, efisiensi dan produktif-inovatif-kreatif.
2) Masa transisi budaya etnis-kedaerahan menuju budaya nasional  kebangsaan.  Puncak-puncak  kebudayaan daerah mencair secara konvergen menuju  satu kesatuan pranata kebudayaan demi tegak-kokohnya suatu negara kebangsaan (nation state) yang berwilayah dari Sabang sampai Merauke. Penataan struktur  pemerintahan, sistem pendidikan, penanaman nilai-nilai etik dan moral secara intensif merupakan upaya serius untuk membina dan mengembangkan jati diri sebagai satu kesatuan bangsa.
3) Masa   transisi    budaya   nasional-kebangsaan    menuju budaya global-mondial. Visi, orientasi, dan persepsi mengenai nilai-nilai universal seperti hak azasi, demokrasi, keadilan, kebebasan, masalah lingkungan dilepaskan dalam ikatan fanatisme primordial kesukuan, kebangsaan atau pun keagamaan, kini mengendor menuju ke kesadaran mondial dalam satu kesatuan sintesis yang lebih konkret dalam tataran operasional.

Batas-batas sempit menjadi terbuka, eklektis, namun tetap mentoleransi adanya pluriformitas sebagaimana digerakkan oleh paham post-modernism.
Implikasi globalisasi menunjukkan pula berkembangnya suatu standarisasi yang sama dalam kehidupan di berbagai bidang. Negara atau pemerintahan di  mana  pun,  terlepas  dari  sistem  ideologi  atau  sistem sosial   yang   dimiliknya.   Dipertanyakan   apakah   hak-hak azasi dihormati, apakah demokrasi dikembangkan, apakah kebebasan dan keadilan dimiliki oleh setiap warganya, bagaimana lingkungan hidup dikelola.
Nyatalah  bahwa  implikasi  globalisasi  menjadi semakin kompleks, karena   masyarakat hidup dengan standar ganda. Di satu pihak sementara orang ingin mempertahankan nilai-nilai budaya lama yang diimprovisasikan untuk melayani perkembangan baru yang kemudian disebut sebagai lahirnya budaya sandingan (sub- culture), sedang  di  lain  pihak  muncul  tindakan-tindakan yang   bersifat   melawan   terhadap   perubahan-perubahan yang dirasakan sebagai penyebab kegerahan dan keresahan dari mereka yang merasa dipinggirkan, tergeser dan tergusur dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu, yang disebut sebagai budaya tandingan (counter-culture).

C. Beberapa aspek penting  dalam ilmu pengetahuan
Melalui kajian historis tersebut yang pada hakikatnya pemahaman tentang sejarah kelahiran dan perkembangan ilmu pengetahuan, dapat dikonstatasikan bahwa ilmu pengetahuan itu mengandung dua aspek, yaitu aspek fenomenal dan aspek struktural.
Aspek fenomenal menunjukan bahwa ilmu pengetahuan mewujud/memanifestasikan dalam bentuk masyarakat, proses, dan produk. Sebagai masyarakat, ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai suatu masyarakat atau kelompok elit yang dalam kehidupan kesehariannya begitu mematuhi kaidah-kaidah ilmiah yang menurut partadigma Merton disebut universalisme, komunalisme, dan  skepsisme yang  teratur  dan terarah.  Sebagai proses, ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai aktivitas atau kegiatan kelompok elit tersebut dalam upayanya untuk menggali dan mengembangkan ilmu melalui penelitian, eksperimen, ekspedisi, seminar, konggres. Sedangkan sebagai produk, ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai hasil kegiatan kelompok elit tadi berupa teori, ajaran, paradigma, temuan-temuan lain sebagaimana disebarluaskan melalui karya-karya publikasi yang kemudian diwariskan kepada masyarakat dunia.
Aspek struktural menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan di dalamnya terdapat unsur-unsur sebagai berikut.
1)     Sasaran     yang     dijadikan     objek     untuk     diketahui (Gegenstand)
2)     Objek sasaran ini terus-menerus dipertanyakan dengan suatu cara (metode) tertentu tanpa mengenal titik henti. Suatu  paradoks  bahwa  ilmu  pengetahuan  yang  akan terus berkembang justru muncul permasalahan- permasalah baru yang mendorong untuk terus menerus mempertanyakannya.
3)     Ada alasan dan motivasi mengapa gegenstand itu terus- menerus dipertanyakan.
4)     Jawaban-jawaban   yang   diperoleh   kemudian  disusun dalam suatu kesatuan sistem (Koento Wibisono, 1985).

Dengan Renaissance dan Aufklaerung ini, mentalitas manusia Barat mempercayai akan kemampuan rasio yang menjadikan mereka optimis, bahwa segala sesuatu dapat diketahui, diramalkan, dan dikuasai. Melalui optimisme ini, mereka selalu berpetualang untuk melakukan penelitian secara kreatif dan inovatif.
Ciri khas yang terkandung dalam ilmu pengetahuan adalah rasional, antroposentris, dan cenderung sekuler, dengan suatu etos kebebasan (akademis dan mimbar akademis).
Konsekuensi yang timbul adalah dampak positif dan negatif.  Positif,  dalam  arti  kemajuan  ilmu  pengetahuan telah  mendorong  kehidupan manusia ke suatu  kemajuan (progress, improvement) dengan  teknologi  yang dikembangkan dan telah menghasilkan kemudahan- kemudahan yang semakin canggih bagi upaya manusia untuk meningkatkan kemakmuran hidupnya secara  fisik- material.
Negatif dalam arti ilmu pengetahuan telah mendorong berkembangnya  arogansi  ilmiah  dengan  menjauhi  nilai- nilai agama,  etika,  yang  akibatnya  dapat menghancurkan kehidupan manusia sendiri.
Akhirnya  tidak  dapat  dipungkiri,  ilmu  pengetahuan
dan   teknologi   telah   mempunyai   kedudukan   substantif dalam kehidupan manusia saat ini. Dalam kedudukan substantif itu ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjangkau kehidupan manusia dalam segala segi dan sendinya secara ekstensif, yang pada gilirannya ilmu pengetahuan dan teknologi merubah kebudayaan manusia secara intensif.

D. Pilar-pilar penyangga bagi eksistensi ilmu pengetahuan
Melalui  teori  relativitas  Einstein  paradigma kebenaran  ilmu  sekarang  sudah berubah dari  paradigma lama yang dibangun oleh fisika Newton yang ingin selalu membangun teori absolut dalam kebenaran ilmiah. Paradigma sekarang ilmu bukan sesuatu entitas yang abadi, bahkan ilmu tidak pernah selesai meskipun ilmu itu didasarkan pada kerangka objektif, rasional, metodologis, sistematis,  logis  dan  empiris.  Dalam  perkembangannya ilmu tidak mungkin lepas dari mekanisme keterbukaan terhadap koreksi. Itulah sebabnya ilmuwan dituntut mencari alternatif-alternatif pengembangannya melalui kajian, penelitian eksperimen, baik mengenai aspek ontologis epistemologis, maupun ontologis.
Karena setiap pengembangan ilmu paling tidak validitas (validity) dan reliabilitas (reliability) dapat dipertanggungjawabkan, baik berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan (context of justification) maupun berdasarkan sistem nilai masyarakat di mana ilmu itu ditemukan/dikembangkan (context of discovery).
Kekuatan   bangunan   ilmu   terletak   pada   sejumlah pilar-pilarnya, yaitu pilar ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiga pilar tersebut dinamakan pilar-pilar filosofis keilmuan. Berfungsi sebagai penyangga, penguat, dan bersifat integratif serta prerequisite/saling mempersyaratkan. Pengembangan ilmu selalu dihadapkan pada persoalan ontologi, epistemologi dan aksiologi.

1. Pilar ontologi (ontology)
Selalu menyangkut problematika tentang keberadaan (eksistensi).
a)     Aspek  kuantitas  :  Apakah  yang  ada  itu  tunggal,  dual atau plural (monisme, dualisme, pluralisme)
b)     Aspek kualitas (mutu, sifat) : bagaimana batasan, sifat, mutu dari sesuatu (mekanisme, teleologisme, vitalisme dan organisme).

Pengalaman ontologis dapat memberikan landasan bagi penyusunan asumsi, dasar-dasar teoritis, dan membantu terciptanya komunikasi interdisipliner dan multidisipliner. Membantu pemetaan masalah, kenyataan, batas-batas ilmu dan kemungkinan kombinasi antar ilmu. Misal masalah krisis moneter, tidak dapat hanya ditangani oleh ilmu ekonomi saja. Ontologi menyadarkan bahwa ada kenyataan lain yang tidak mampu dijangkau oleh ilmu ekonomi, maka perlu bantuan ilmu lain seperti politik, sosiologi.

2. Pilar epistemologi (epistemology)
Selalu menyangkut problematika teentang sumber pengetahuan, sumber kebenaran, cara memperoleh kebenaran, kriteria kebenaran, proses, sarana, dasar-dasar kebenaran, sistem, prosedur, strategi.     Pengalaman epistemologis dapat memberikan sumbangan bagi kita : (a) sarana  legitimasi  bagi  ilmu/menentukan  keabsahan disiplin ilmu tertentu (b) memberi kerangka acuan metodologis pengembangan ilmu (c) mengembangkan ketrampilan proses (d) mengembangkan daya kreatif dan inovatif.

3. Pilar aksiologi (axiology)
Selalu berkaitan dengan problematika pertimbangan nilai (etis, moral, religius) dalam setiap penemuan, penerapan  atau  pengembangan  ilmu.  Pengalaman aksiologis  dapat  memberikan  dasar  dan  arah pengembangan ilmu, mengembangkan etos keilmuan seorang  profesional  dan  ilmuwan  (Iriyanto  Widisuseno, 2009).
Landasan    pengembangan    ilmu    secara    imperatif mengacu ketiga pilar filosofis keilmuan tersebut yang bersifat  integratif  dan  prerequisite. Berikut  ilustrasinya dalam bagan 1.

Bagan 1. Landasan Pengembangan
Ilmu Pengetahuan




E. Prinsip-prinsip berpikir ilmiah

1.     Objektif:    Cara    memandang    masalah    apa    adanya, terlepas dari faktor-faktor subjektif (misal : perasaan, keinginan, emosi, sistem keyakinan, otorita) .
2.      Rasional:    Menggunakan    akal    sehat    yang    dapat dipahami dan diterima oleh orang lain. Mencoba melepaskan unsur perasaan, emosi, sistem keyakinan dan otorita.
3.     Logis:       Berfikir       dengan       menggunakan       azas logika/runtut/  konsisten,  implikatif.  Tidak mengandung unsur pemikiran yang kontradiktif. Setiap pemikiran logis selalu rasional, begitu sebaliknya yang rasional pasti logis.
4.     Metodologis:  Selalu  menggunakan  cara  dan  metode keilmuan  yang  khas  dalam  setiap  berfikir  dan bertindak (misal: induktif, dekutif, sintesis, hermeneutik, intuitif).
5.      Sistematis:     Setiap     cara     berfikir     dan     bertindak menggunakan tahapan langkah prioritas yang jelas dan saling terkait satu sama lain. Memiliki target dan arah tujuan yang jelas.


F. Masalah  nilai dalam  IPTEK

1. Keserbamajemukan ilmu pengetahuan dan persoalannya
Salah satu kesulitan terbesar yang dihadapi manusia dewasa ini adalah keserbamajemukan ilmu itu sendiri. Ilmu pengetahuan  tidak  lagi  satu,  kita  tidak  bisa  mengatakan
inilah  satu-satunya  ilmu  pengetahuan  yang  dapat mengatasi  problem manusia dewasa ini. Berbeda dengan ilmu  pengetahuan  masa  lalu  lebih  menunjukkan keekaannya daripada  kebhinekaannya. Seperti pada awal perkembangan ilmu pengetahuan berada dalam kesatuan filsafat.
Proses perkembangan ini menarik perhatian karena justru bertentangan dengan inspirasi tempat pengetahuan itu sendiri, yaitu keinginan manusia untuk mengadakan kesatuan di dalam   keserbamajemukan   gejala-gejala   di dunia kita ini. Karena yakin akan kemungkinannya maka timbullah ilmu pengetahuan. Secara metodis dan sistematis manusia mencari azas-azas sebagai dasar untuk memahami hubungan antara gejala-gejala yang satu dengan yang lain sehingga bisa ditentukan adanya keanekaan di dalam kebhinekaannya. Namun dalam perkembangannya ilmu pengetahuan   berkembang   ke   arah   keserbamajemukan ilmu.

a) Mengapa timbul  spesialisasi?
Mengapa spesialisasi ilmu semakin meluas? Misalnya dalam ilmu kedokteran dan ilmu alam. Makin meluasnya spesialisasi ilmu dikarenakan ilmu dalam perjalanannya selalu mengembangkan macam metode, objek dan tujuan. Perbedaan metode dan pengembangannya itu perlu demi kemajuan  tiap-tiap  ilmu.  Tidak  mungkin  metode  dalam ilmu alam dipakai memajukan ilmu psikologi. Kalau psikologi mau maju dan berkembang harus mengembangkan metode, objek dan tujuannya sendiri. Contoh ilmu yang berdekatan, biokimia dan kimia umum keduanya memakai hukum” yang dapat dikatakan sama, tetapi seorang sarjana biokimia perlu pengetahuan susunan bekerjanya organisme-organisme yang tidak dituntut oleh seorang ahli kimia organik. Hal ini agar supaya biokimia semakin maju dan mendalam, meskipun tidak diingkari antara keduanya masih mempunyai dasar-dasar yang sama.
Spesialisasi ilmu memang harus ada di dalam satu cabang ilmu, namun kesatuan dasar azas-azas universal harus diingat dalam  rangka spesialisasi. Spesialisasi ilmu membawa persoalan banyak bagi ilmuwan sendiri dan masyarakat.   Ada   kalanya   ilmu   itu   diterapkan   dapat memberi manfaat bagi manusia, tetapi bisa sebaliknya merugikan manusia. Spesialisasi di samping tuntutan kemajuan ilmu juga dapat meringankan beban manusia untuk menguasai ilmu dan mencukupi kebutuhan hidup manusia. Seseorang tidak mungkin menjadi generalis, yaitu menguasai dan memahami semua ilmu pengetahuan yang ada (Sutardjo, 1982).

b) Persoalan yang timbul  dalam  spesialisasi
Spesialisasi     mengandung  segi-segi  positif,  namun juga dapat menimbulkan segi negatif. Segi positif ilmuwan dapat lebih fokus dan intensif dalam melakukan kajian dan pengembangan ilmunya. Segi negatif, orang yang mempelajari ilmu spesialis merasa terasing dari pengetahuan lainnya. Kebiasaan cara kerja fokus dan intensif  membawa  dampak  ilmuwan  tidak  mau bekerjasama dan menghargai ilmu lain. Seorang spesialis bisa berada dalam bahaya mencabut ilmu pengetahuannya dari  rumpun  keilmuannya  atau  bahkan  dari  peta  ilmu, kemudian  menganggap  ilmunya  otonom  dan  paling lengkap. Para spesialis dengan otonomi keilmuannya sehingga tidak tahu lagi dari mana asal usulnya, sumbangan apa yang harus diberikan bagi manusia dan ilmu-ilmu lainnya,  dan  sumbangan  apa  yang  perlu  diperoleh  dari ilmu-ilmu lain demi kemajuan dan kesempurnaan ilmu spesialis yang dipelajari atau dikuasai.
Bila keterasingan yang timbul akibat spesialisasi itu hanya mengenai ilmu pengetahuan tidak sangat berbahaya. Namun   bila   hal   itu   terjadi   pada   manusianya,   maka akibatnya bisa mengerikan kalau manusia sampai terasing dari  sesamanya  dan  bahkan  dari  dirinya  karena terbelenggu oleh ilmunya yang sempit. Dalam praktik- praktik   ilmu spesialis kurang memberikan orientasi yang luas terhadap kenyataan dunia ini, apakah dunia ekonomi, politik, moral, kebudayaan, ekologi dll.
Persoalan tersebut bukan berarti tidak terpecahkan, ada kemungkinan merelativisir jika ada kerjasama ilmu- ilmu pengetahuan dan terutama di antara ilmuwannya. Hal ini tidak akan mengurangi kekhususan tiap-tiap ilmu pengetahuan, tetapi akan memudahkan penempatan tiap- tiap ilmu dalam satu peta ilmu pengetahuan manusia. Keharusan kerjasama ilmu sesuai dengan sifat sosial manusia  dan  segala  kegiatannya.  Kerjasama  seperti  itu akan membuat para ilmuwan memiliki cakrawala pandang yang luas dalam menganalisis dan melihat sesuatu. Banyak segi akan dipikirkan sebelum mengambil keputusan akhir apalagi bila keputusan itu menyangkut manusia sendiri.

2. Dimensi moral  dalam pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan
Tema  ini  membawa  kita  ke     arah  pemikiran:  (a) apakah ada kaitan antara moral atau etika dengan ilmu pengetahuan,  (b)    saat  mana  dalam  pengembangan  ilmu memerlukan pertimbangan moral/etik? Akhir-akhir ini banyak   disoroti   segi   etis   dari   penerapan   ilmu   dan wujudnya yang paling nyata pada jaman ini    adalah teknologi, maka pertanyaan yang muncul adalah mengapa kita mau mengaitkan soal etika dengan ilmu pengetahuan? Mengapa ilmu pengetahuan yang makin diperkembangkan perlu ”sapa menyapa     dengan etika? Apakah ada ketegangan ilmu pengetahuan, teknologi dan moral?
Untuk  menjelaskan  permasalahan  tersebut  ada  tiga tahap yang perlu ditempuh. Pertama, kita melihat kompleksitas permasalahan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kaitannya dengan manusia. Kedua, membicarakan dimensi etis serta kriteria etis yang diambil. Ketiga,  berusaha  menyoroti  beberapa  pertimbangan sebagai semacam usulan jalan keluar dari permasalahan yang muncul.

a) Permasalahan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Kalau   perkembangan   ilmu   pengetahuan   sungguh-sungguh menepati janji awalnya 200 tahun yang lalu, pasti orang tidak akan begitu mempermasalahkan akibat perkembangan ilmu pengetahuan. Bila penerapan ilmu benar-benar merupakan sarana pembebasan manusia dari keterbelakangan  yang  dialami  sekitar  1800-1900-an dengan menyediakan ketrampilan know how yang memungkinkan   manusia   dapat   mencari   nafkah   sendiri tanpa bergantung pada pemilik modal, maka pendapat bahwa ilmu pengetahuan harus dikembangkan atas dasar patokan-patokan ilmu pengetahuan itu sendiri (secara murni)  tidak akan mendapat kritikan tajam seperti  pada abad ini.
Namun dewasa ini  menjadi nyata adanya keterbatasan ilmu pengetahuan itu menghadapi masalah- masalah  yang  menyangkut  hidup  serta  pribadi  manusia. Misalnya, menghadapi soal transplantasi jantung, pencangkokan genetis, problem mati hidupnya seseorang, ilmu pengetahuan menghadapi keterbatasannya. Ia butuh kerangka pertimbangan nilai di luar disiplin ilmunya sendiri. Kompleksitas   permasalahan   dalam   pengembangan ilmu dan teknologi kini menjadi pemikiran serius, terutama persoalan keterbatasan ilmu dan teknologi dan akibat- akibatnya  bagi  manusia.  Mengapa  orang  kemudian berbicara soal etika dalam ilmu pengetahuan dan teknologi?

b) Akibat  teknologi pada perilaku manusia
Akibat   teknologi   pada   perilaku   manusia   muncul dalam fenomen penerapan kontrol tingkah laku (behaviour control). Behaviour control merupakan kemampuan untuk mengatur orang melaksanakan tindakan seperti yang dikehendaki oleh si pengatur (the ability to get some one to do one’s bidding). Pengembangan teknologi yang mengatur perilaku manusia ini mengakibatkan munculnya masalah- masalah etis seperti berikut.
(1)  Penemuan  teknologi  yang  mengatur  perilaku  ini menyebabkan kemampuan perilaku seseorang diubah dengan   operasi   dan   manipulasi  syaraf  otak  melalui psychosurgery’s infuse”  kimiawi,   obat   bius   tertentu. Electrical stimulation of the brain (E S B) : shock listrik tertentu. Teknologi baru dalam bidang psikologi seperti dynamic  psychoteraphy mampu   merangsang   secara baru bagian-bagian penting, sehingga kelakuan bisa diatur dan disusun. Kalau begitu kebebasan bertindak manusia sebagai suatu nilai diambang kemusnahan.
(2)  Makin   dipacunya   penyelidikan   dan   pemahaman mendalam tentang kelakuan   manusia, memungkinkan adanya  lubang  manipulasi,  entah  melalui  iklan  atau media lain.
(3)  Pemahaman  njlimet”  tingkah  laku  manusia  demi tujuan ekonomis, rayuan untuk menghirup kebutuhan baru sehingga bisa mendapat untung lebih banyak, menyebabkan penggunaan media (radio, TV) untuk mengatur kelakuan manusia.
(4)  Behaviour control memunculkan  masalah  etis  bila kelakuan seseorang dikontrol oleh teknologi dan bukan oleh si subjek itu sendiri. Konflik muncul justru karena si pengatur memperbudak orang yang dikendalikan, kebebasan bertindak si kontrol dan diarahkan menurut kehendak si pengontrol.
(5)  Akibat  teknologi pada  eksistensi manusia dilontarkan  oleh  Schumacher.  Bagi  Schumacher eksistensi sejati manusia adalah bahwa manusia menjadi manusia justru karena ia bekerja. Pekerjaan bernilai tinggi bagi manusia, ia adalah ciri eksistensial manusia, ciri kodrat    kemanusiaannya. Pemakaian teknologi modern condong mengasingkan manusia dari eksistensinya sebagai pekerja, sebab di sana manusia tidak mengalami kepuasan dalam bekerja. Pekerjaan tangan dan otak manusia diganti dengan tenaga-tenaga mesin, hilanglah kepuasan dan kreativitas manusia (T. Yacob, 1993).

3. Beberapa pokok  nilai yang perlu diperhatikan dalam  pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Ada  empat  hal  pokok  agar  ilmu    pengetahuan  dan teknologi dikembangkan secara konkrit, unsur-unsur mana yang tidak boleh dilanggar dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat agar masyarakat itu tetap manusiawi.
a)    Rumusan hak azasi  merupakan  sarana  hukum  untuk menjamin penghormatan terhadap manusia. Individu-individu perlu dilindungi dari pengaruh penindasan ilmu pengetahuan.
b)  Keadilan  dalam  bidang  sosial,  politik,  dan  ekonomi sebagai   hal   yang   mutlak.   Perkembangan   teknologi sudah membawa akibat konsentrasi kekuatan ekonomi maupun politik. Jika kita ingin memanusiawikan pengembangan ilmu dan teknologi berarti bersedia mendesentralisasikan  monopoli  pengambilan keputusan dalam bidang politik, ekonomi. Pelaksanaan keadilan harus memberi pada setiap individu kesempatan yang sama menggunakan hak-haknya.
c)    Soal lingkungan hidup. Tidak ada seorang pun berhak menguras/mengeksploitasi sumber-sumber alam dan manusiawi   tanpa   memperhatikan   akibat-akibatnya pada seluruh masyarakat. Ekologi mengajar kita bahwa ada kaitan erat antara benda yang satu dengan benda yang lain di alam ini.
d)   Nilai   manusia   sebagai   pribadi.   Dalam   dunia   yang dikuasai teknik, harga manusia dinilai dari tempatnya sebagai   salah   satu   instrumen   sistem   administrasi kantor tertentu. Akibatnya manusia dinilai bukan sebagai pribadi tapi lebih dari sudut kegunaannya atau hanya dilihat sejauh ada manfaat praktisnya bagi suatu sistem. Nilai sebagai pribadi berdasar hubungan sosialnya, dasar kerohanian dan penghayatan hidup sebagai manusia dikesampingkan. Bila pengembangan ilmu  dan  teknologi  mau  manusiawi,  perhatian  pada nilai manusia sebagai pribadi tidak boleh kalah oleh mesin. Hal ini penting karena sistem teknokrasi cenderung dehumanisasi ( T. Yacob, 1993).

G. Pancasila sebagai  Dasar Nilai Dalam Strategi
Pengembangan ilmu pengetahuan dan Teknologi Karena  pengembangan  ilmu  dan  teknologi  hasilnya selalu bermuara pada kehidupan manusia maka perlu mempertimbangan   strategi   atau   cara-cara,   taktik   yang tepat, baik dan benar agar pengembangan ilmu dan teknologi memberi manfaat mensejahterakan dan memartabatkan manusia.
Dalam   mempertimbangkan  sebuah  strategi  secara imperatif kita meletakkan Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.  Pengertian  dasar  nilai  menggambarkan Pancasila suatu sumber orientasi dan arah pengembangan ilmu. Dalam konteks Pancasila sebagai dasar nilai mengandung dimensi ontologis, epistemologis dan aksiologis. Dimensi ontologis berarti ilmu pengetahuan sebagai  upaya  manusia  untuk  mencari  kebenaran  yang tidak  mengenal  titik  henti,  atau  an  unfinished journey”. Ilmu   tampil   dalam   fenomenanya   sebagai   masyarakat, proses dan produk. Dimensi epistemologis, nilai-nilai Pancasila   dijadikan   pisau   analisis/metode   berfikir   dan tolok ukur kebenaran. Dimensi aksiologis, mengandung nilai-nilai  imperatif  dalam  mengembangkan  ilmu  adalah sila-sila   Pancasila   sebagai   satu   keutuhan.   Untuk   itu ilmuwan dituntut memahami Pancasila secara utuh, mendasar, dan kritis, maka diperlukan suatu situasi kondusif   baik   struktural   maupun   kultural.   Ilustrasinya dapat dilihat pada bagan 2 berikut ini.

Bagan 2. Strategi Pengembangan IPTEK Pancasila Sebagai  Dasar Nilai


Peran  nilai-nilai  dalam  setiap  sila  dalam  Pancasila adalah sebagai berikut.
1.    Sila   Ketuhanan   Yang   Maha   Esa:   melengkapi   ilmu pengetahuan menciptakan perimbangan antara yang rasional dan irasional, antara rasa dan akal. Sila ini menempatkan  manusia dalam  alam sebagai  bagiannya dan bukan pusatnya.
2.    Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab: memberi arah dan mengendalikan ilmu       pengetahuan.       Ilmu dikembalikan pada fungsinya semula, yaitu untuk kemanusiaan, tidak hanya untuk kelompok, lapisan tertentu.
3.    Sila Persatuan  Indonesia: mengkomplementasikan universalisme dalam sila-sila yang lain, sehingga supra sistem tidak    mengabaikan sistem dan sub-sistem. Solidaritas   dalam   sub-sistem   sangat   penting   untuk kelangsungan keseluruhan individualitas, tetapi tidak mengganggu integrasi.
4.    Sila kerakyatan yang  dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, mengimbangi otodinamika ilmu pengetahuan dan teknologi berevolusi sendiri dengan leluasa. Eksperimentasi penerapan dan penyebaran ilmu pengetahuan harus demokratis dapat dimusyawarahkan secara perwakilan, sejak dari kebijakan, penelitian sampai penerapan massal.
5.    Sila   keadilan   sosial   bagi   seluruh   rakyat   Indonesia, menekankan ketiga keadilan Aristoteles: keadilan distributif, keadilan kontributif, dan keadilan komutatif. Keadilan sosial juga menjaga keseimbangan antara kepentingan individu dan masyarakat, karena kepentingan individu tidak     boleh terinjak oleh kepentingan semu. Individualitas merupakan landasan yang memungkinkan timbulnya kreativitas dan inovasi.

Pengembangan   ilmu    pengetahuan   dan   teknologi harus senantiasa berorientasi pada nilai-nilai Pancasila. Sebaliknya Pancasila dituntut terbuka dari kritik, bahkan ia merupakan  kesatuan  dari  perkembangan  ilmu  yang menjadi tuntutan peradaban manusia. Peran Pancasila sebagai paradigma pengembangan ilmu harus sampai pada penyadaran, bahwa fanatisme kaidah kenetralan keilmuan atau kemandirian ilmu   hanyalah akan menjebak diri seseorang pada masalah-masalah yang tidak dapat diatasi dengan semata-mata berpegang pada kaidah ilmu sendiri, khususnya mencakup pertimbangan etis, religius, dan nilai budaya yang bersifat mutlak bagi kehidupan manusia yang berbudaya.

Daftar  Pustaka

Iriyanto,  Ws,    2009,         Bahan    Kuliah    Filsafat    Ilmu, Pascasarjana, Semarang
Kunto    Wibisono,    1985,    Arti    Perkembangan   Menurut Positivisme, Gadjah Mada Press, Yogyakarta.
Sutardjo,      1992,      Problematika     Perkembangan     Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Tarsito, Bandung.
T.  Yacob,  1993,  Manusia,  Ilmu  dan  Teknologi, PT.  Tiara Wacana, Yogyakarta.
Tim  Dosen  Filsafat  Ilmu  UGM,  1997,  Pengantar  Filsafat Ilmu, Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.
Van Melsen, 1985, Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita, Kanisius, Yogyakarta.
Van  Peursen,  1987,  Susunan Ilmu Pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta