Jumat, 19 September 2014

PARADIGMA TAFSIR PEREMPUAN DI INDONESIA (RESENSI BUKU)



A.       Pendahuluan
Bahasa Alquran memiliki karakteriktik dan keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang lain, baik dari stuktur yang digunakan maupun dari  makna eksplisit yang terkandung di dalamnya. Alquran, meskipun secara bentuk ungkapan sudah dianggap selesai, akan tetapi masih bersifat terbuka terhadap interpretasi beragam yang sesuai dengan konteks.
Seiring dengan perkembangan zaman, akhir-akhir ini masalah perempuan dan gender mendapat tanggapan yang luar biasa baik dari kalangan akademisi, intelektual, mauapun agamawan di dunia Islam. Kajian tentang perempuan dan kaitannya dengan agama juga tidak lepas dari
pengamatan mereka. Tulisan-tulisan mereka ternyata telah memancing para peneliti dan pemerhati masalah perempuan lain untuk lebih intens dalam melakukan penelitian baik dalam bidang fiqih, hadits, tafsir, maupun Alquran itu sendiri. Pada umumnya mereka ingin mempertanyakan ulang mengenai konsep Islam tentang kedudukan dan peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Apakah Islam menghendaki perempuan berperan seperti apa yang telah dijelaskan dan ditafsirkan oleh para Ulama’ dalam kitab mereka? Ataukah Islam (Alquran) memiliki keinginan lain yang disalah tafsirkan oleh Ulama’ dan mufassir Islam terdahulu?.
Alquran sebagai teks, memang mengundang banyak interpretasi. Tuhan sebagai pencipta teks, telah mengeluarkan suatu wacana yang bisa difahami oleh pembacanya dengan pemahaman yang berbeda-beda. Demikian terjadi karena dalam kacamata Hermeneutika Romantis Scheiermacher dikatakan bahwa penafsiran bertugas untuk merekonstruksi pikiran pengarang. Tujuan pemahaman bukan makna yang diperoleh subyek, tetapi lebih merupakan makna yang muncul dalam pandangan pengarang yang telah direkonstruksi tersebut. Jadi interpretasi yang benar, menurut Scheiermacher, tidak saja melibatkan pemahaman konteks kesejarahan dan budaya pengarang, tetapi juga pemahaman terhadap subyektivitas pengarang.
Menurut perspektif ini, ada lima unsur yang terlibat dalam upaya memahami wacana atau teks, masing-masing adalah penafsir, teks, maksud pengarang, konteks historis dan konteks kultural. Penafsir yang hendak memahami suatu wacana selain mencermati teks, juga meletakkannya dalam konteks historis. Makna teks, sejauh mengikuti perspektif ini, diidentikan dengan maksud pengarang. Dengan demikian, bagi Schleiermacher, disamping faktor gramatikal (tata bahasa), faktor kondisi dan motif pengarang sangat penting untuk memahami makna suatu teks.
Di Indonesia kajian tentang perempuan dan gender juga mendapat sambutan yang luar biasa. Sejak tahun-90an, literatur dan kajian tentang perempuan digalakkan sehingga memunculkan sejumlah peneliti seperti Mansour Fakih, Masdar Mas’udi, Nurul Agustina dan lain sebagainya, yang mencoba menerlusuri lebih lanjut berbagai macam literatur, baik klasik maupun modern yang ada kaitannya dengan masalah perempuan. Salah satu bidang yang menjadi titik perhatian mereka adalah kitab kuning khususnya tafsir Alquran.
Disisi lain Indonesia merupaka Negara Muslim yang pemeluk Islamnya menduduki peringkat paling banyak tidak saja di Asia, tetapi juga diseluruh dunia. Ini menggambarkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia muslim yang melimpah dan ikut terlibat dalam kancah pengembangan keilmuan Islam di dunia.
B.       MASALAH PENELITIAN
Dari hasil pelacakan penulis terhadap literatur yang membahas tentang masalah tafsir perempuan, paling tidak ada dua pendapat yang berseberangan. Pertama, mereka berpendapat bahwa seluruh kajian tafsir Alquran, baik klasik maupn modern, melihat perempuan lebih rendah dari laki-laki dan ayat-ayat tentang perempuan ditafsirkan secara sepihak oleh laki-laki sehingga menyebabkan bias gender dan perlu ditafsirkan ulang agar sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang terus berkembang. Kedua, meraka perpendapat bahwa para penafsir telah mendudukan perempuan pada posisinya yang luhur tanpa diskriminasi. Para Mufassir telah berusaha menafsirkan ayat Alquran itu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Alquran itu sendiri, bukan seperti apa yang dimaui manusia.
Dari sini seharusnya para pemikir Islam utamanya para mufassir menghidupkan teks-teks Alquran dalam dunia yang berubah-ubah dari waktu kewaktu. Permasalahan ini berdasarkan pada asumsi bahwa penafsiran Alquran muncul karena tidak memadainya teks secara literal. Sementara keadaan semakin berubah dan membutuhkan jawaban yang legitimate dari Alquran.
Terjadinya pergeseran makna yang pada akhirnya merambah kepada pergeseran paradigma tafsir perempuan adalah menjadi masalah yang perlu untuk ditemukan jalan keluarnya. Agar kita tidak mudah menyalahkan salah satu tafsir yang dihasilkan tersebut.

C.       TEORI DAN PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN DALAM PENELITIAN
Tujuan penulisan buku tersebut adalah untuk menemukan bentuk pergeseran  paradigma tafsir perempua di Indonesia dan faktor-faktor yang menyebabkan adanya pergeseran paradigma tersebut. Bila ditinjau dari pendekatan Hermeneutika Gadamerian.
Bagi Martin Heidegger dan Hans George Gadamer, Hermeneutika adalah untuk merefleksikan apa-apa yang berada dibalik berbagai metode dan keterbatasan setiap klaim kebenaran manusia.
Perpektif hermeneutika Gadamerian, seperti yang dikutip oleh Bapak Mudjia Rahardjo (2005) menempatkan makna wacana bukan pada maksud (intention) penutur seperti pada hermeneutika intern-sionalisme(pragmatics) atau Hirschian, tetapi pada penerimaan (perception) pendengar atau pembaca.
D.       KERANGKA TEORI dan DINAMIKA TAFSIR PEREMPUAN DALAM DUNIA KONTEMPORER
Kerangka teori yang dijadikan landasan dalam kajian ini, yaitu gambaran tentang tafsir perempuan dan perkembangannya dalam dunia modernitas. Dari sini seharusnya para pemikir Islam utamanya para mufassir menghidupkan teks-teks Alquran dalam dunia yang berubah-ubah dari waktu kewaktu. Permasalahan ini berdasarkan pada asumsi bahwa penafsiran Alquran muncul karena tidak memadainya teks secara literal. Sementara keadaan semakin berubah dan membutuhkan jawaban yang legitimate dari Alquran.
Seiring dengan perkembangan zaman serta perkembangan cara berfikir dan cara menginterpretasi terhadap teks Alquran. Maka, tafsir terhadap perempuan pun mengalami perkembangan mulai dari periode klasik sampai trend baru dalam interpretasi yang biasa disebut dengan tafsir perempuan kontemporer.
Ciri khas dari masing-masing tafsir tersebut adalah tafsir klasik lebih bercorak tradisional dan penafsiran ayat lebih bersifat parsial dan atomistik (tahlili), serta kurang mengaitkan penafsirannya dengan situasi dan kondisi yang ada. Sedangkan pada tafsir kontemporer (trend baru dalam interpretasi), lebih di tandai oleh tiga prinsip yang saling berkaitan, yaitu : Pertama, adanya usaha menginterpretasi Alquran dalam rangka pikir dan metodologi ilmiah. Kedua, adanya usaha-usaha untuk membebaskan Alquran dari cerita-cerita, legenda, ide-ide primitif, cerita-cerita tahayul, magis, dan khurafat. Penafsiran simbol menjadi sarana utama untuk jalan keluar semacam ini.ketiga, adanya usaha-usaha untuk merasionalisasikan doktrin yang ada dalam atau dijastifikasi oleh Alquran. Keempat, tafsir kontemporer biasanya lebih banyak berkecimpung dalam isu-isu budaya, politik dan ekonomi, serta kurang tertarik dengan aspek teologis dan bahasa. Adapun tokoh-tokoh dalam tafsir model ini adalah :
1.         Muhammad Abduh adapun teorinya adalah untuk mengatasi kemunduran masyarakat Islam adalah dengan kembali kepada kemurnian agama dan memperbaruinya, yang salah satunya adalah dengan melakukan pembaharuan dan interpretasi Alquran.
2.         Mahmud Syaltut (W.1963). dia adalah tokoh modernis mesir dan rektor Univesitas Al-Azhar dari tahun1958-1963. Yang memperkenalkan penulisan tafsir dengan metode yang berbeda dengan sebelumnya, yaitu metode tematik. Menurut Syaltut bahwa teks Alquran adalah bersifat satu padu di mana ayat-ayat yang membicarakan satu permasalahan yang sama memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya. Menurut Syaltut hadits-hadits yang menceritakan tentang asbabunnuzul dapat digunakan untuk mengklarifikasi maksud yang sesungguhnya dari hukum Alquran, namun demikian ia tetap mengakui bahwa Alquran berlaku umum bagi semua umat Islam disepanjang zaman. Maka dari itu untuk memahaminya diperlukan penafsiran baru yang menyadari konteks Alquran yang berbeda dengan cara pemahaman tafsir klasik yang menggunakan metode atomistik.
3.         Fazlurrahman (1982:7). Dia berpendapat bahwa pengetahuan yang obyektif tentang masa lalu bisa diketahui melalui penalaran terhadap sistem nilai Alquran secara historis, “dimensi transendental”, kemudian sistem nilai itu ditransformasikan kedalam kontekstual.
4.         Ismail Razi Al-Faruqi, menurutnya teks Alquran tidak hanya dilihat dari bunyi literalnya, tetapi harus lebih dilihat pada aspek ruh dan makna tertinggi yang dikehendaki teks tersebut. Karena itu tugas seorang mufassir adalah melakukan derivasi (pemerasan) terhadap teks ayat, lalu hasil derivasi itu disusun berdasarkan hirarki dari yang terendah hingga yang tertinggi.
5.         Amina Wadud Muhsin. Dia membagi penafsiran tersebut menjadi tiga kategori : Pertama, tradisional, yang metodologinya menggunakan atomistik (tahlili), yang menjadi perhatian utamanya dalam tafsir tradisional adalah unsur ekslusivismenya, yaitu hanya pengalaman kaum pria saja yang diakomodasikan dalam unsur penafsiran. Sementara pengalaman, visi, perpestif, keinginan, dan kebutuhan kaum wanita ditafsirkan menurut pandangan kaum pria. kedua, tafsir reaktif adalah tafsir yang isinya terutama mengenai reaksi para pemikir modern terhadap sejumlah besar hambatan yang dialami wanita, yang diaggap berasal dari Alquran. Dan yang ketiga yaitu tafsir holistik adalah tafsir yang mempertimbangkan kembali seluruh metode penafsiran dan mengaitkannya dengan berbagai persoalan sosial, moral, ekonomi, dan politik yang ada di era modern, termasuk masalah wanita. Menurutnya kategori ketiga ini termasuk kategori yang terbaik, yang mana ia ingin menempatkan dirinya dalam kategori ini.
E.       ANALISA TERHADAP KAJIAN TAFSIR PEREMPUAN DALAM KONTEKS INDONESIA MODERN
Sejarah perkembangan negara Indonesia Modern dan keterkaitannya dengan wacana tafsir perempuan, karakter sosial-politik pemerintah, perkembangan pendidikan Islam dan wacana pemikiran keislaman yang berkembang.
Paling tidak ada empat tahap yang bisa disimpulkan dari perkembangan kajian tafsir Alquran di Indonesia. Pertama, Tahap peletakan fondasi (Abad ke-20-1960an), pada tahap ini, daslam benak masyarakat muslim, ada semacam anggapan bahwa penerjemahan atau penafsiran Alquran kedalam bahasa Indonesia dianggap tabu bahkan haram hukumnya. Untuk bisa menerjemahkan atau menafsirkan, seseorang harus memiliki kualifikasi yang tidak mudah dipenuhi keculi oleh orang-orang tertentu saja. Untuk literatur tentang tafsir yang berkembang pada saat itu masih berupa pengantar ilmu tafsir yang bersifat bukan praktis. Kedua, Tahap penerjemahan (bermula sekitar tahun 60an), dimana para penafsir Alquran di Indonesia meneruskan usahanya untuk menerjemahkan Alquran secara lengkap yang telah mereka mulai sejak tahap peletakan fondasi. Pada tahap ini biasanya penerjemahan terhadap ayat-ayat perempuan khususnya dan ayat-ayat lain pada umumnya, dilengkapi dengan beberapa catatan kaki, terjemahan kata per kata, dan kadang-kadang disertai dengan suatu indeks yang sederhana. Ketiga, Tahap penafsiran Parsial (Sekitar 1970-an), yang ditandai dengan adanya buku-buku tafsir yang memberikan komentar-komentar yang lebih luas terhadap teks beserta terjemahannya. Menurut Federspiel, karya-karya tafsir pada tahap ini lebih menekankan arti Alquran dari pada ilmunya, atau dengan kata lain mereka lebih menekankan pada penerjemahannya. Pada tahap ini pula mulai adanya penekanan ajaran Alquran dan konteksnya dalam memahami ayat-ayat perempuan, walaupun masih dikategorikan tafsir tradisional. Keempat, Tahap Pengembangan, maksudnya adalah suatu tahap dimana para mufassir tidak hanya menggunakan satu metodologi saja dalam menafsirkan Alquran, melainkan menggunakan banyak metodologi dan pendekatan sehingga pemahaman yang diperolehnya lebih holistik (AminaWadud Muhsin). Juga pada tahap ini ditandai dengan adanya tafsir perempuan yang menggunakan seluruh metodologi penafsiran dan mengaitkannya dengan berbagai persoalan sosial, moral, ekonomi, dan politik yang ada diera modern. Namun demikian, diantara tulisan-tulisan pada tahap ini, khususnya karya feminis dan rasionalis, masih bersifa reaktif, yaitu analisis yang digunakan adalah analisis kritis-modern seperti feminisme, akan tetapi tidak dibarengi dengan analisis yang komprehensif terhadap ayat-ayat yang bersangkutan.
F.        SUMBANGAN PEMIKIRAN DALAM PENGEMBANGAN KEILMUAN
1.      Perempuan dalam Takaran Tafsir Indonesia Kontemporer Kajian Paradigmatik
Gelombang perkembangan gerakan perempuan dalam bentuk yang ilmiah, menurut Mansour Fakih, secara sederhana dapat dibagi menjadi tiga dasawarsa : Dasawarsa pertama (1975-1985), adalah tahapan “pelecehan”, hampir semua aktivis LSM menganggap masalah gender bukan menjadi masalah penting, bahkan banyak yang melakukan cemoohan dan pelecehan terhadap masalah gender. Dasawarsa kedua (1985-1995), pada dasawarsa ini pada dasarnya merupakan dasawarsa pengenalan dan pemahaman dasar tentang apa yang dimaksud dengan analisis gender dan mengapa gender menjadi masalah pembangunan. Pada dasawarsa ini beberapa kalangan cendekiawan muslim Indonesia mulai dirintis usaha-usaha Ijtihan baru, untuk mendapatkan penafsiran yang lebih adil dan sejajar dalam soal isu-isu perempuan ini. Adapun gelombang ketiga (dari tahun1996-dan seterusnya). Pada masa ini menurut Mansour Fakir merupakan masa kematangan, di mana suatu saat gerakan feminisme di Indonesia akan mencapai klimaksnya. Di satu sisi, pada periode ini muncul dukungan yang luar biasa dari pemerintah dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, yang didukung para funding yang bermacam-macam. Akan tetapi di sisi lain, pada periode ini juga akan muncul berbagai macam tantangan gerakan kilas balik dari aktivis, baik dari kalangan kaum laki-laki maupun kaum perempuan sendiri. Salah satu reaksi yang akan muncul adalah bahwa masalah gender dianggap bukan masalah lagi karena masyarakat sudah tidak membutuhkannya lagi.
2.      Paradigma Tafsir Perempuan di Indonesia
Secara umum perkembangan isu-isu gender dalam tafsir, dapat diklasifikasikan menjadi tiga paradigma yang berbeda yaitu : Paradigma Klasik Tradisional, paradigma modern, dan paradigma neo-modern. Ketiga paradigma tersebut dapat di bedakan dalam tabel berikut:
Paradigma
Metode
Pendekatan
Sikap Adaptasi terhadap Modernitas
Hasil Penafsiran
Pandangan Dunia
Klasik Tradisional (Inferioritas Kaum permpuan)
Atomistik (tahlili)
Tekstual
Pasif
Parsial
Kedudukan Perempuan, lebih rendah dari laki-laki
Modern (upaya mencari tafsir gender yang adil)
Tematik
Kontekstual
Kritis-reaktif
Semi komprehensif
Kedudukan permpuan hampir sama dengan laki-laki
Neo Modern (persamaan antara laki-laki dan perempuan)
Holistik tematik, Hermeneutik Historis
Kontekstual
Kritis-analistis
Komprehensif
Kedudukan perempuan sama dengan laki-laki