Selasa, 30 September 2014

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SEBAGAI MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN



A.   PENDAHULUAN
Keberadaan Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Mata Kuliah Pengembangan  Kepribadian  (MPK)  ditetapkan  melalui:  (1)  Kepmendiknas No.   232/U/2000,   tentang   Pedoman   Penyusunan   Kurikulum   Pendidikan Tinggi   dan   Penilaian   Hasil   Belajar   Mahasiswa,    menetapkan    bahwa Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan merupakan kelompok  Mata Kuliah Pengembangan  Kepribadian  yang wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi/kelompok program studi. (2) Kepmendiknas No.045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi menetapkan  bahwa  Pendidikan  Agama,  Pendidikan  Pancasila,  dan Pendidikan  Kewarganegaraan  merupakan  kelompok  Mata  Kuliah Pegembangan Kepribadian yang wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi/kelmpok program studi. (3) Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas No. 43/Dikti/Kep/2006 tentang rambu-rambu pelaksanaan pembelajaran kelompok mata kuliah pengembangan kepribadian di perguruan tinggi, menetapkan  status  dan  beban  studi kelompok  mata  kuliah  Pengembangan Kepribadian.
   Bahwasannya   beban  studi  untuk  Mata  Kuliah  Pendidikan Agama, Kewarganegaraan dan Bahasa masing-masing sebanyak 3 sks. Berdasarkan uraian di atas dapat diperoleh gambaran bahwa Pendidikan Kewarganegaraan  sebagai  MPK  karena  PKn  merupakan  bagian  kelompok MPK. Pertanyaan yang muncul di sini yaitu mengapa Pendidikan Kewarganegaraan    diposisikan sebagai MPK ? Apa urgensi Pendidikan Kewarganegaraan sebagi MPK?
MPK  adalah  suatu  program  pendidikan   nilai  yang  dilaksanakan melalui  proses  pembelajaran  di  Perguruan  Tinggi  dan    berfungsi  sebagai model  pengembangan  jati diri dan kepribadian  para  mahasiswa,  bertujuan membangun manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mantap, dan mandiri, serta mempunyai  rasa  tanggungjawab  kemasyarakatan  dan kebangsaan  (Iriyanto Ws, 2005:2 ).
Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian termasuk Pendidikan Kewarganegaraan   yang termuat dalam Kurikulum Pendidikan Tinggi  tahun  akademik  2002-2003  dirancang  berbasis  kompetensi.  Secara umum  Kurikulum  Berbasis  Kompetensi  selalu  menekankan  kejelasan  hasil didik sebagai seorang yang memiliki kemampuan dalam hal; (1) Menguasai ilmu   dan   ketrampilan   tertentu;   (2)   Menguasai   penerapan   ilmu   dan ketrampilan dalam bentuk   kekaryaan; (3) Menguasai sikap berkarya secara profesional; (4) Menguasai hakikat dan kemampuan dalam berkehidupan bermasyarakat
Keempat kompetensi program pembelajaran KBK tersebut di atas dikembangkan dengan menempatkan MPK sebagai dasar nilai pengembangan ilmu,   yaitu   sebagai   pedoman   dan   dasar   kekaryaan.   Seorang   lulusan pendidikan   tinggi  diharapkan   mampu   menerapkan   bekal  pendidikannya sebagai  cara-cara  penemuan,  pisau  analisis    (a  method  of inquiry)  dalam memerankan dirinya sebagai pencerah masyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara (Hamdan Mansoer, 2004: 5).

1. Latar Belakang Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
a. Perubahan Pendidikan ke Masa Depan
Dalam Konferensi Menteri Pendidikan Negara-negar berpenduduk besar di New Delhi tahun 1996, menyepakati   bahwa pendidikan Abad XXI harus berperan aktif dalam hal; (1) Mempersiapkan pribadi sebagai warga  negara  dan  anggota  masyarakat  yang  bertanggung  jawab;  (2) Menanamkan      dasar      pembangunan      berkelanjutan      (sustainable development)  bagi  kesejahteraan  manusia  dan  kelestarian  lingkungan hidup;   (3)   Menyelenggarakan   pendidikan   yang   berorientasi   pada penguasaan,       pengembangan,   dan   penyebaran   ilmu   pengetahuan, teknologi dan seni demi  kepentingan kemanusiaan.
Kemudian   dalam   konferensi   internasioanl   tentang   pendidikan tinggi yang diselenggarakan UNESCO di Paris tahun 1998 menyepakati bahwa perubahan pendidikan tinggi masa depan bertolak dari pandangan bahwa tanggungjawab pendidikan adalah; (1) Tidak hanya meneruskan nilai-nilai,  mentransfer  ilmu  pengetahuan,  teknologi,  dan  seni,  tetapi juga melahirkan warganegara  yang berkesadaran tinggi tentang bangsa dan kemanusiaan; (2) Mempersiapkan tenaga kerja    masa depan yang produktif  dalam  konteks  yang  dinamis;  (3)  Mengubah  cara  berfikir, sikap   hidup,   dan   perilaku   berkarya   individu   maupun   kelompok masyarakat  dalam rangka  memprakarsai  perubahan  sosial yang diperlukan serta mendorong perubahan ke arah kemajuan yang adil dan bebas
Agar  bangsa  Indonesia  tidak  tertinggal  dari  bangsa-bangsa  lain maka Pendidikan nasional Indonesia perlu dikembangkan searah dengan perubahan  pendidikan  ke  masa  depan.  Pendidikan  nasional  memiliki fungsi sangat strategis yaitu    mengembangkan kemampuan dan membentuk   watak  serta  peradaban  bangsa   yang  bermanfaat   dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa Tujuan Pendidikan nasional berkembangnya   potensi   peserta   anak   didik   agar   menjadi   manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
Pendidikan Kewarganegaraan (citizenship education) di perguruan tinggi    sebagai  kelompok  MPK  diharapkan  dapat  mengemban  misi fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut. Melalui pengasuhan Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan tinggi yang substansi kajian dan  materi  instruksionalnya  menunjang  dan  relevan  dengan pembangunan  masyarakat  demokratik  berkeadaban,  diharapkan mahasiswa  akan  tumbuh  menjadi  ilmuwan  atau  profesional,  berdaya saing secara  internasionasional,  warganegara  Indonesia  yang  memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air.

b.Dinamika Internal Bangsa Indonesia
Dalam   kurun   dasa   warsa   terakhir   ini,   Indonesia   mengalami percepatan perubahan yang luar biasa. Misalnya, loncatan demokratisasi, transparansi  yang  hampir  membuat  tak  ada  lagi  batas  kerahasiaan  di negara kita, bahkan untuk hal-hal yang seharusnya dirahasiakan. Liberalisasi  bersamaan  dengan  demokratisasi  di bidang  politik, melahirkan sistem multi partai yang cenderung tidak efektif, pemilihan presiden   wakil  presiden  secara   langsung   yang  belum  diimbangi kesiapan infrastruktur sosial berupa kesiapan mental elit politik dan masyarakat yang kondusif bagi terciptanya demokrasi yang bermartabat. Kekuasaan DPR-DPRD yang sangat kuat seringkali disalahgunakan sebagai ajang manuver kekuatan politik yang berdampak timbulnya ketegangan-ketegangan suasana politik nasional, dan hubungan eksekutif dan legeslatif.  Pengembangan  otonomi  daerah  berekses  pada  semakin bermunculan daerah otonomi khusus, pemekaran wilayah yang kadang tidak dilandasi asas-asas kepentingan nasional sehingga sistem ketatanegaraan dan sistem pemerintahan terkesan menjadi chaos(Siswono Yudohusodo, 2004:5).
Situasi lain yang saat ini muncul yaitu melemahnya komitmen masyarakat  terhadap  nilai-nilai  dasar  yang telah  lama  menjadi  prinsip dan bahkan sebagai pandangan hidup, mengakibatkan     sistem filosofi bangsa  Indonesia  menjadi  rapuh.  Ada  dua  faktor  penyebabnya,  yaitu faktor eksternal dan faktor internal.  Faktor eksternal,  berupa pengaruh globalisasi yang di    semangati liberalisme mendorong   lahirnya sistem kapitalisme di bidang ekonomi dan demokrasi liberal di bidang polit ik. Dalam   praktiknya   sistem   kapitalisme   dan   demokrasi   liberal   yang disponsori oleh negara-negara maju seperti Amerika, mampu menggeser tatanan dunia lama yang lokal regional menjadi tatanan dunia baru yang bersifat global mondial. Bahkan mampu menyusup dan mempengaruhi tatanan nilai kehidupan internal setiap bangsa di dunia. Tarik ulur yang memicu ketegangan saat ini sedang terjadi dalam internal setiap bangsa, antara   keinginan  untuk   mempertahankan   sistem   nilai  sendiri  yang menjadi identitas bangsa, dengan adanya kekuatan nilai-nilai asing yang telah  dikemas  melalui  teknologinya  (Iriyanto  Widisuseno,  2004:  4). Sejauh mana kekuatan setiap bangsa termasuk  bangsa Indonesia untuk mengadaptasi nilai-nilai asing tersebut. Bagi negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia sangat rentan terkooptasi nilai-nilai asing yang  cenderung  berorientasi  praktis  dan  pragmatis  dapat  menggeser nilai-nilai dasar kehidupan.  Kecenderungan munculnya situasi semacam ini   sudah   mulai   menggejala   di  kalangan   masyarakat   dan   bangsa Indonesia saat ini. Seperti nampak pada sebagian masyarakat dan bahkan para  elit  yang  sudah  semakin  melupakan  peran  nilai-nilai  dasar  yang wujud kristalisasinya berupa Pancasila dalam perbincangan lingkup ketatanegaraan   atau  bahkan  kehidupan  sehari-hari.   Pancasila   sudah semakin tergeser dari perannya dalam praktik ketatanegaraan dan produk kebijakan-kebijakan pembangunan. Praktik penyelenggaraan ketatanegaraan  dan  pembangunan   sudah  menjauh  dan  terlepas  dari konsep  filosofis  yang  seutuhnya.  Eksistensi  Pancasila  nampak  hanya dalam status formalnya yaitu sebagai dasar negara, tetapi sebagai sistem filosofi bangsa sudah tidak memiliki daya spirit bagi kehidupan bermasyarakat,berbangsa  dan bernegara. Sistem filosofi Pancasila sudah rapuh.  Masyarakat  dan  bangsa  Indonesia  kehilangan  dasar,  pegangan dan arah pembangunan.
Faktor internal, yaitu bersumber dari internal bangsa Indonesia sendiri.   Kenyataan   seperti   ini   muncul   dari      kesalahan   sebagian masyarakat dalam memahami Pancasila. Banyak kalangan masyarakat memandang   Pancasila tidak dapat mengatasi masalah krisis. Sebagian lagi masyarakat menganggap bahwa Pancasila merupakan alat legitimasi kekuasaan  Orde  Baru.  Segala  titik  kelemahan  pada  Orde  Baru  linier dengan   Pancasila.   Akibat   yang  timbul  dari  kesalahan  pemahaman tentang   Pancasila   ini  sebagian   masyarakat   menyalahkan   Pancasila, bahkan   anti   Pancasila.   Kenyataan   semacam   ini   sekarang   sedang menggejala pada sebagian masyarakat Indonesia. Kesalahan pemahaman (epistemologis)  ini  menjadikan  masyarakat  telah  kehilangan  sumber dan sarana orientasi nilai.
Disorientasi nilai dan distorsi nasionalisme di kalangan masyarakat Indonesia dewasa ini. Disorientasi  nilai terjadi saat masyarakat menghadapi   masa   transisi   dan   transformasi.   Dalam   masa   transisi terdapat   peralihan   dari   masyarakat   pedesaan   menjadi   masyarakat perkotaan,  masyarakat  agraris  ke  masyarakat  industri  dan  jasa,  dari tipologi masyarakat  tradisional ke masyarakat  modern,  dari mayarakat paternalistik ke arah masyarakat demokratis, dari masyarakat feodal ke masyarakat  egaliter, dari makhluk  sosial ke makhluk ekonomi.  Dalam proses transisi ini menyebabkan  sebagian masyarakat  Indonesia mengalami  kegoyahan  konseptual  tentang  prinsip-prinsip   kehidupan yang  telah lama  menjadi  pegangan  hidup,  sehingga  timbul kekaburan dan  ketidakpastian   landasan  pijak  untuk  mengenali  dan  menyikapi berbagai persoalan kehidupan yang dihadapi.
Dalam masa transformasi,  terjadi pergeseran  tata nilai kehidupan sebagian  masyarakat  Indonesia  sebagai  dampak  dari  proses  transisi, misal beralihnya dari kebiasaan cara pandang masyarakat yang mengapresiasi nilai-nilai tradisional ke arah nilai-nilai modern yang cenderung rasional dan pragmatis, dari kebiasaan hidup dalam tata pergaulan masyarakat yang konformistik bergeser ke arah tata pergaulan masyarakat yang dilandasi cara pandang individualistik.
Distorsi   nasionalisme,  suatu   fenomena   sosial   pada   sebagian masyarakat   Indeonesia   yang   menggambarkan   semakin   pudar   rasa kesediaan mereka untuk hidup eksis bersama, menipisnya rasa dan kesadaran akan adanya jiwa dan prinsip spiritual yang berakar pada kepahlawanan  masa  silam  yang tumbuh karena  kesamaan  penderitaan dan kemuliaan di masa lalu. Hilangnya rasa saling percaya (trust) antar sesama  baik  horizontal  maupun  vertikal.  Fenomena  yang kini berkembang  adalah rasa saling curiga, dan menjatuhkan sesama. Inilah tanda-tanda  melemahnya  kohesivitas  sosial  kemasyarakatan  di  antara kita sekarang ini.

B.   Tujuan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan  Kewarganegaraan  dilakukan oleh hampir  seluruh bangsa di dunia,  dengan  menggunakan  nama  seperti:  civic  education,  citizenship education, democracy education. PKn memiliki peran strategis dalam mempersiapkan warganegara yang cerdas, bertanggungjawab jawab dan beerkeadaban.  Menurut  rumusan  Civic  International  (1995)  bahwa pendidikan demokrasi penting bagi pertumbuhan “civic culture” untuk keberhasilan  pengembangan  dan  pemeliharaan  pemerintahan,  inilah    satu tujuan  penting  pendidikan  civic”  maupun  citizenship untuk  mengatasi political apatism demokrasi (Azyumadi Azra, 2002 : 12 ). Semua negara yang formal   menganut   demokrasi   menerapkan   Pendidikan   Kewarganegaraan dengan muatan, demokrasi,  rule of law, HAM, dan perdamaian,  dan selalu mengaitkan dengan kondisi situasional negara dan bangsa masing-masing
Pendidikan Kewarganegaraan di Indonesia semestinya menjadi tanggungjawab semua pihak atau komponen bangsa, pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga keagamaan dan msyarakat industri (Hamdan Mansoer, 2004: 4)
Searah dengan perubahan  pendidikan  ke  masa  depan dan dinamika internal bangsa Indonesia, program pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi harus mampu mencapai tujuan:
a.       Mengembangkan     sikap    dan    perilaku    kewarganegaraan     yang mengapresiasi nilai-nilai moral-etika dan religius.
b.      Menjadi  warganegara  yang  cerdas  berkarakter,  menjunjung  tinggi nilai kemanusiaan
c.       Menumbuhkembangkan  jiwa  dan  semangat  nasionalisme,  dan  rasa cinta pada tanah air.
d.      Mengembangkan sikap demokratik berkeadaban dan bertanggungjawab, serta   mengembangkan   kemampuan   kompetitif bangsa di era globalisasi.
e.       Menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan

C.   Pancasila sebagai   Nilai Dasar PKn untuk Berkarya Bagi Lulusan PT
Program   pembelajaran   Mata   Kuliah   Pengembangan   Kepribadian sebagai  pendidikan  nilai di Perguruan  Tinggi  memiliki  fungsi  meletakkan dasar   nilai   sebagai   pedoman   berkarya   bagi   lulusan   perguruan   tinggi. Pendidikan  Kewarganegaraan  sebagai MPK diarahkan  mampu  mengemban misi tersebut. Konsekuensi PKn sebagai MPK, keseluruhan materi program pembelajaran PKn disirati nilai-nilai Pancasila.
Pengertian  nilai  dasar  harus  difahami  bahwa  nilai-nilai  Pancasila harus dijadikan sebagai pedoman dan sumber orientasi pengembangan kekaryaan  setiap  lulusan  PT.  Peran  nilai-nilai  dalam  setiap  Sila  Pancasila adalah sebagai berikut.
1. Nilai Ketuhanan dalam Sila Ketuhanan YME : melengkapi ilmu pengetahuan menciptakan perimbangan antara yang rasional dan irasional, antara rasa dan akal. Sila ini menempatkan manusia dalam alam sebagai bagiannya dan bukan pusatnya. Faham nilai ketuhanan dalam Sila Ketuhanan YME, tidak memberikan ruang bagi faham ateisme, fundamentalisme dan ekstrimisme keagamaan, sekularisme keilmuan, antroposentrisme dan kosmosentrisme.
2. NIlai Kemanusiaan dalam Sila Kemanusiaan yang adil dan beradab: memberi arah dan mengendalikan  ilmu pengetahuan.  Pengembangan ilmu   harus   didasarkan   pada   tujuan   awal   ditemukan   ilmu   atau fungsinya  semula,  yaitu  untuk  mencerdaskan,  mensejahterakan,  dan memartabatkan  manusia,  ilmu tidak  hanya untuk kelompok,  lapisan tertentu.
3. Nilai Persatuan  dalam Sila Persatuan Indonesia: mengkomplementasikan universalisme dalam sila-sila yang lain, sehingga supra sistem tidak   mengabaikan sistem dan sub sistem. Solidaritas dalam subsistem sangat penting untuk kelangsungan keseluruhan  individualitas,  tetapi tidak   mengganggu  integrasi. Nilai Persatuan dalam Sila Persatuan Indonesia sesnsinya adalah pengakuan kebhinnekaan  dalam kesatuan:  koeksistensi,  kohesivitas,  kesetaraan, kekeluargaan, dan supremasi hukum.
4. Nilai Kerakyatan dalam Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, mengimbangi otodinamika   ilmu   pengetahuan   dan  teknologi   berevolusi   sendiri dengan leluasa. Eksperimentasi penerapan dan penyebaran ilmu pengetahuan harus demokratis dapat dimusyawarahkan secara perwakilan, sejak dari kebijakan, penelitian sampai penerapan masal. Nilai Kerakyatan dalam Sila 4 ini esensinya adalah menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi yang berkeadaban. Tidak memberi ruang bagi faham  egoisme  keilmuan  (puritanisme,  otonomi  keilmuan), liberalisme dan individualsime dalam kontek kehidupan.
5.  Nilai   Keadilan   dalam   Sila   keadilan   sosial   bagi   seluruh   rakyat Indonesia,  menekankan  ketiga  keadilan  Aristoteles:  keadilan distributif,  keadilan  kontributif,  dan  keadilan  komutatif.  Keadilan sosial juga  menjaga keseimbangan  antara kepentingan  individu  dan masyarakat,  karena  kepentingan  individu  tidak   boleh terinjak  oleh kepentingan semu. Individualitas merupakan landasan yang memungkinkan timbulnya kreativitas dan inovasi.
Kelima  dasar  nilai  tersebut  sebagai  pedoman  dan  sumber  orientasi dalam    penyusunan    dan    pengembangan    substansi    kajian    Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai MPK mencerminkan pendidikan demokrasi, HAM dan persoalan kewarganegaraan   lainnya  berperspekt if  Pancasila.   Jadi,  meskipun  setiap bangsa sama-sama menyebut Pendidikan Kewarganegaraan sebagai civic education,  democracy  education,  civil  education”  dsb,  tetapi  arah pengembangan kompetensi keilmuan PKn di perguruan tinggi Indonesia memiliki karakter sendiri.