Minggu, 28 September 2014

PENGGUNAAN MEDIA KARTU HURUFDALAM PEMBELAJARAN AKSARA ARAB


A.     Latar Belakang
Tulisan bahasa Arab memiliki aturan menulis yang baku dan selalu indah dipandang. Keindahannya selalu mewarnai dipertandingkan Musabaqah Tilawatil Quran tingkat nasional dan tingkat daerah. Namun pembelajaran menulis bahasa Arab di sekolah belum sukses mengahantarkan siswa untuk mampu menulis bahasa Arab dengan baik dan benar. Beberapa keluhan yang sering dialami guru bahasa Arab dan BTQ adalah: (1) pembelajaran bahasa Arab bersifat klasik dan kurang diminati siswa, (2) Motivasi dan semangat belajar siswa dalam proses pembelajaran bahasa Arab sangat rendah.

Salah  satu  cara  untuk  meningkatkan  gairah  dan  motivasi  siswa  adalah dengan mengadakan  variasi dalam kegiatan  pembelajaran  yang dilakukan. Hal tersebut dapat dengan mengubah metode, strategi, pendekatan ataupun penggunaan media- media  pembelajaran  yang  dapat menarik perhatian siswa. Namun sangat disayangkan, masih banyak guru yang mengomando  kegiatan  pembelajaran  di kelas  hanya  menggunakan  satu  metode saja, yaitu dengan metode ceramah saja.
Begitu pula halnya yang dilakukan oleh para guru Bahasa Arab pada umumnya ketika menyajikan  materi pembelajaran  Arab. Banyak ditemui guru  Bahasa  Arab  yang kurang  melakukan  variasi  ketika  menyajikan  materi bahasa Arab, khususnya pada pelajaran aksara Arab. Mereka hanya menggunakan metode ceramah saja. Padahal, dapat dibayangkan betapa sulitnya materi aksara Arab dapat dipahami oleh para siswa jika hanya disajikan dengan metode ceramah. Ketika siswa sulit untuk memahami materi  pelajaran  yang  disajikan  dengan kurang menarik,  maka dapat dipastikan mereka  tidak  akan  bergairah  dan  termotivasi  untuk  mempelajari  Aksara  Arab sehingga tujuan dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan tidak akan tercapai.
Secara umum, rendahnya  prestasi siswa pada mata pelajaran Bahasa Arab dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain yaitu:
  1. Input, yang bersumber  dari masukan siswa, kualitas guru, katersediaan  dan pemanfaatan   sumber   belajar,   materi   pelajaran,   prosedur   evaluasi   dan lingkungan belajar;
  2. Proses Kegiatan Belaja r Mengajar yang bersumber  pada intensitas interaksi belajar mengajar, ketrampilan bertanya guru/siswa, gaya mengajar guru, cara belajar siswa, implementasi metode pembelajaran (model pendekatan pembelajaran);
  3. Kurang bervariasinya model pembelajaran yang dilakukan oleh guru sehingga siswa merasa jenuh dan kurang tertarik terhadap materi pembelajaran  yang disajikan oleh guru.
  4. Output  bersumber  dari hasil  belajar  siswa,  daya  ingat  siswa,  sikap  negatif siswa dan motivasi siswa.
Berdasarkan  uraian  di  atas  maka  perlu  segera  adanya  pembaruan  dalam proses belajar mengajar dengan metode yang lebih bervariasi  yang menekankan pada pembelajaran kooperatif.
Sebagai  usaha dalam rangka mengatasi  masalah  tersebut,  maka sangatlah dipandang  perlu seorang  guru menggunakan  media dalam proses  pembelajaran yang  dilakukannya.   Karena  fungsi  dari  media  pembelajaran   tersebut  adalah sebagai daya tarik sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lebih menarik,   siswa   lebih   bergairah   dan   termotivasi   dalam   menjalani   proses pembelajaran, serta materi yang disampaikan pun dapat diserap oleh siswa dengan baik.
Salah  satu  cara  yang  dapat  digunakan  guru  untuk  menarik  minat  dan motivasi  para  siswa  tersebut  adalah  dengan  menggunakan  media  kartu  huruf dalam  menyampaikan  materi  aksara  Arab.  Dengan  menggunakan  media  kartu huruf  ini,  proses  kegiatan  belajar  mengajar  dapat  di  desain  dengan  berbagai macam  cara, salah satunya  adalah  dengan  cara  permainan  yang  sangat  disukai oleh para siswa.

B.     Konsep Media Pembelajaran
  1. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media merupakan bentuk jamak dari “medium”, ia berasal dari bahasa Latin; medius, yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media disebut dengan; wasail ( وَسَائِلٌ ), artinya adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia, kata “medium” dapat diartikan sebagai “antara” atau “sedang”. Dengan beberapa pengertian tersebut, media secara bahasa berarti sesuatu yang mengantar, meneruskan dan menyajikan informasi (pesan) dari sumber (pemberi pesan) kepada penerima pesan.[1]
Menurut Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Guru (Association for Education and Communication technology/ AECT) mendefinisikan   media sebagai   benda   yang   dapat   dimanipulasikan,   dilihat, didengar,  dibaca atau dibicarakan  beserta instrument  yang dipergunakan  dengan baik dalam kegiatan  belajar mengajar,  dapat mempengaruhi  efektifitas  program instruksional.[2]
Menurut Asnawir dan Basyiruddin dalam bukunya yang berjudul Media Pembelajaran,  media  adalah  suatu  yang  bersifat  menyalurkan  pesan  dan dapat merangsang pikiran dan kemauan audiens (siswa) sehingga dapat mendorong  terjadinya proses belajar pada dirinya.[3]
Berdasarkan pengertian tersebut, pengertian media pembelajaran dapat disimpulkan sebagai alat-alat atau bahan yang berfungsi mengoptimalkan komunikasi pembelajaran, baik dengan cara merangsang alat indra siswa, pikirannya, perasaannya, dan minat belajarnya.
  1. Urgensi Penggunaan Media
Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri di mana guru dan siswa bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian.[4] Ketika proses belajar mengajar tersebut terjadi, tentu saja tidak dapat berjalan selancar  apa  yang  diharapkan  oleh  guru. Sering kali timbul penyimpangan- penyimpangan   ataupun  gangguan-gangguan,   sehingga   kegiatan belajar mengajar tidak bisa berjalan secara efektif dan efisien. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh kurangnya minat, gairah dan motivasi siswa untuk menerima materi ajar yang disampaikan oleh guru.
Sebagai usaha dalam rangka mengatasi masalah tersebut, maka sangatlah dipandang  perlu seorang  guru menggunakan  media dalam proses  pembelajaran yang  dilakukannya.   Karena fungsi dari  media  pembelajaran   tersebut  adalah sebagai daya tarik sehingga kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan lebih menarik,   siswa   lebih   bergairah   dan   termotivasi   dalam   menjalani   proses pembelajaran, serta materi yang disampaikan pun dapat diserap oleh siswa dengan baik.
Penggunaan media dalam proses belajar mengajar  mempunyai  nilai- nilai praktis sebagai berikut.
a.   Media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang  dimiliki siswa. Pengalaman masing-masing individu yang beragam karena kehidupan keluarga   dan masyarakat   sangat   menentukan   macam   pengalaman   yang dimiliki  oleh siswa. Siswa satu dengan siswa lain tentu mengalami/ mempunyai pengalaman yang berbeda.

b.   Media  dapat  mengatasi  ruang  kelas.  Banyak  hal yang  sukar  untuk  dialami secara langsung oleh siswa di dalam kelas, seperti: objek yang terlalu besar atau  terlalu  kecil,  gerakan- gerakan  yang  diamati  terlalu  cepat  atau  terlalu lambat. Maka dengan melalui media akan dapat diatasi kesukaran- kesukaran tersebut.
c.  Media   memungkinkan   adanya   interaksi   langsung   antara   siswa   dengan lingkungan. Gejal fisik dan sosial dapat diajak berkomunikasi dengannya.
d.  Media menghasilkan keseragaman pengamatan. Pengamatan yang dilakukan siswa  dapat  secara  bersama-sama  diarahkan  kepada  hal- hal yang dianggap penting atau sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
e.  Media  dapat  menanamkan  konsep  dasar  yang  benar,  konkrit  dan  realistis. Penggunaan media seperti gambar, film model, grafik dan lainnya dapat memberikan konsep dasar yang benar.
f.   Media   dapat   membangkitkan   keinginan   dan   minat   yang   baru.   Dengan menggunakan  media,  pengetahuan   anak  semakin  luas,  persepsi  semakin tajam,  dan  konsep- konsep  dengan  sendirinya  semakin  lengkap,  sehingga keinginan dan minat baru untuk belajar akan timbul.
g.  Media dapat membangkitkan  motivasi dan merangsang  siswa untuk belajar. Pemasangan gambar di papan buletin, pemutaran film dan mendengarkan program  audio  dapat  menimbulkan  rangsangan  tertentu  ke  arah  keinginan untuk belajar.
h.   Media dapat memberikan  pengalaman  yang integral dari suatu yang konkrit sampai kepada yang abstrak. Sebuah film tentang suatu benda atau kejadian yang tidak dapat dilihat secara langsung oleh siswa, akan dapat memberikan gambaran yang konkrit tentang wujud, ukuran, dan lokasi.[5]
  1. Kriteria Pemilihan Media
Ada beberapa jenis media pembelajaran yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran.  Pertama,  media  grafis  seperti  gambar,  foto,  grafik,  bagan  atau diagram,  poster,  kartun,  komik  dan  lain- lain.  Media  grafis  sering  juga  disebut dengan  media  dua  dimensi,  yakni  media yang mempunyai  ukuran panjang dan lebar. Kedua, media tiga dimensi yaitu media dalam bentuk model seperti model padat (solid models), model penampang, model susun, model kerja, dan lain- lain. Ketiga , media proyeksi seperti slide, film strips, penggunaan OHP, dan lain-lain. Keempat,  penggunaan lingkungan  sebagai  media  pembelajaran.   Penggunaan media  diatas  tidak dilihat dari  kecanggihan  media,  tetapi  yang  lebih  penting adalah fungsi dari media pembelajaran yang digunakan.[6]
Agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien dalam mewujutkan tujuan-tujuan  yang  hendak  dicapainya, diperlukan  dukungan  dari media   pembelajaran. Namun dalam memilih media pembelajaran, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Memilih media yang terbaik   untuk mewujudkan   tujuan-tujuan   pembelajaran   bukan   merupakan   pekerjaan   yang mudah.
Penggunaan  media  dalam  kegiatan  pembelajaran  adalah  sebagai  sarana untuk meningkatkan kegiatan proses belajar mengajar. Media memiliki jenis yang bermacam-macam  dan kegunaan  yang  bermacam-macam  pula. Oleh karena  itu seorang guru perlu memilih media yang tepat sehingga media tersebut dapat digunakan dengan efektif dan efisien.
Dalam  memilih  media,  yang  harus  diperhatikan  oleh  seorang  guru  antara lain: media harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan  yang  ada  dengan  mengingat  kemampuan  dan  karakteristik  dari media, ketepatgunaan  dari media, kondisi siswa, ketersediaan  barang, biaya, dan waktu yang diperlukan untuk mendapatkannya.
Dalam memilih media untuk kepentingan pembelajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut.
1.      Ketepatan dengan tujuan pengajaran
Media pembelajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan instruksional yang berisikan unsur pemahaman, aplikasi, sintesis lebih memungkinkan digunakannya media pembelajaran.
2.      Dukungan  terhadap  isi bahan pembelajaran
Bahan pembelajaran yang sifatnya  fakta,  prinsip,  konsep  dan  generalisasi  sangan  memerlukan bantuan media aga r lebih mudah dipahami siswa.
3.      Kemudahan memperoleh media
Media yang diperlukan  mudah diperoleh,  setidak- tidaknya  mudah  dibuat  oleh  guru  pada  waktu  mengajar.
4.      Media grafis umumnya dapat dibuat guru tanpa biaya yang mahal, disamping sederhana dan pr aktis penggunaannya.
5.      Keterampilan  guru  dalam  menggunakannya
Apa  pun  jenis  media  yang diperlukan,  syarat  utama  adalah  guru dapat menggunakannya  dalam  proses pembelajaran.  Nilai  dan  manfaat  yang  diharapkan  bukan  pada  medianya, tetapi dampak dari penggunaan media oleh guru pada saat terjadinya interaksi belajar siswa dengan lingkungannya. Adanya komputer, OHP, Proyektor film dan alat-alat canggih lainnya, tidak mempunyai arti apa-apa bila guru tidak dapat menggunakannya dalam pembelajaran untuk mempertinggi kualitas pembelajaran.
6.      Tersedianya  waktu  untuk menggunakannya, sehingga  media  tersebut  dapat bermanfaat bagi siswa selama pembelajaran berlangsung.
7.      Sesuai  dengan  taraf  berfikir  siswa
Memilih  media  untuk  pendidikan  dan pembelajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa, sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh siswa. Menyajikan grafik yang berisi data dan angka atau proporsi dalam bentuk persen bagi siswa SD kelas-kelas  rendah  tidak  ada  manfaatnya.   Mungkin lebih tepat dalam bentuk gambar atau poster. Demikian juga diagram yang menjelaskan alur hubungan suatu konsep atau prinsip hanya bisa dilakukan  bagi  siswa  yang telah memiliki kemampuan berfikir tinggi .[7]
Dengan kriteria pemilihan media diatas, guru diharapkan dapat lebih mudah memilih    media    mana    yang    akan    digunakan    dalam    pembelajaran  guna mempermudah tugas-tugas guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Kehadiran  media pembelajaran  jangan terlalu dipaksakan  bila hal tersebut dapat mempersulit tugas guru sebagai pengajar, tapi harus sebaliknya, yakni dapat mempermudah guru dalam menyampaikan materi pembelajaran.

4.      Fungsi Media Pembelajaran
Penggunaan media pembelajaran adalah sebagai salah satu usaha guru untuk membuat pengajaran lebih konkret, memperjelas, membuat konsep yang kompleks menjadi lebih sederhana, dan membuat siswa lebih termotivasi dalam menjalani kegiatan pembelajaran.  Sehingga  secara  tidak  langsung,  penggunaan media pembelajaran dapat membantu meningkatkan pemahaman dan daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang dipelajari. Diantara fungsi-fungsi dari penggunaan media pembelajaran antara lain adalah sebagai berikut.
  1. Membantu  memudahkan  belajar  bagi  siswa  dan  membantu  memudahkan mengajar bagi guru.
  2. Memberikan  pengalaman  lebih  nyata  (yang  abstrak  dapat  menjadi  lebih konkrit)
  3. Menarik  perhatian  siswa lebih besar (kegiatan  pembelajaran  dapat berjalan lebih menyenangkan dan tidak membosankan).
  4. Semua indra siswa dapat diaktifkan.
  5. Lebih menarik perhatian dan minat murid dalam belajar.[8]
Beberapa manfaat media pembelajaran menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rifai adalah sebagai berikut.
  1. Pembelajaran akan  lebih  menarik  perhatian  siswa  sehingga  dapat menumbuhkan motivasi belajar.
  2. Bahan   pembelajaran   akan   lebih   jelas   maknanya   sehingga   dapat   lebih dipahami oleh siswa    dan    memungkinkan    siswa    menguasai    tujuan pem belajaran lebih baik.
  3. Metode  pembelajaran  akan  lebih  bervariasi,  tidak  semata- mata komunikasi verbal melalui penuturan kata- kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru  tidak  kehabisan  tenaga,  apalagi  bila guru  mengajar  untuk  setiap  jam pelajaran.
  4. Siswa   lebih   banyak   melakukan   kegiatan   belajar,   sebab   tidak   hanya mendengarkan  uraian  guru,  tetapi  juga  aktivitas  lain  seperti  pengamatan, melakukan, mendemonstrasikan dan lain - lain.[9]
Encyclopedia of Education Research merinci manfaat media pembelajaran sebagai berikut.
  1. Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berfikir, oleh karena  itu mengurangi verbalisme.
  2. Memperbesar perhatian siswa.
  3. Meletakkan dasar- dasar yang penting untuk perkembangan belajar siswa, oleh karena itu membuat pelajaran lebih mantap.
  4. Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan siswa.
  5. Menumbuhkan   pemikiran   yang   teratur   dan   kontinyu,   terutama   melalui gambar hidup.
  6. Membantu   tumbuhnya   pengertian   yang   dapat   membantu   perkembangan kemampuan berbahasa siswa.
  7. Memberikan  pengalaman  yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar.[10]
Dari  beberapa  uraian  tentang  manfaat  media  pembelajaran  di atas,  dapat diambil  kesimpulan  beberapa  manfaat  dari  penggunaan  media pembelajaran  di dalam proses belajar mengajar sebagai berikut:
a.       Media   pembelajaran   dapat   memperjelas   penyajian   pesan   dan   informasi sehingga  dapat  memperlancar  dan  meningkatkan  proses  dan  hasil  belajar siswa.
b.      Media pembelajaran  dapat meningkatkan dan mengarahkan  perhatian siswa sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih langsung antara  siswa  dan  lingkungannya,   dan  kemungkinan   siswa  untuk  belajar sendiri-sendiri sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
c.       Media pembelajaran da pat mengatasi keterbatasn indera, ruang dan waktu:
1)      Objek atau benda yang terlalu  besar untuk ditampilkan  langsung  di ruang kelas dapat diganti dengan gambar, foto, slide, dan lain- lain.
2)      Objek atau benda yang terlalu kecil yang tidak dapat dilihan dengan indera dapat disajikan dengan mantuan mikroskop, film, gambar, dn lain- lain.
3)      Kejadian langka yang terjadi di masa lalu atau terjadi sekali dalam puluhan tahun dapat ditampilkan melalui rekaman video, film, foto, dll.
4)      Objek atau proses yang amat rumit seperti peredaran darah dapat ditampilkan secara konkret melalui film, gambar, slide, dan lain -lain.
5)      Kejadian  atau  percobaan  yang  dapat  membahayakan  dapat  disimulasikan dengan media seperti komputer, film, video, dan lain- lain.
6)      Peristiwa  alam  seperti  terjadinya  letusan  gunung  berapi  atau  proses  yang dalam kenyataan memakan waktu lama seperti proses kepompong   dapat disajikan menjadi lebih singkat dengan menggunakan film, gambar, slide, dan lain-lain.
7)      Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang   peristiwa- peristiwa   di   lingkungan   mereka,   serta   memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata, kunjungan-kunjungan ke museum, kebun binatang, dan lain- lain.[11]
  1. Klasifikasi media pembelajaran
Aneka  ragam  media  pembelajaran  dapat  diklasifikasikan  berdasarkan  ciri- ciri tertentu. Brets membuat klasifikasi berdasarkan adanya tiga ciri, yaitu: suara (audio ), bentuk (visual) dan gerak (motion ). Atas dasar ini, Brets mengemukakan beberapa kelompok media sebagai berikut.
a.       Media audio -motion-visual, yakni media yang mempunyai suara, gerakan dan bentuk objektif dapat dilihat. Media semacam ini paling lengkap. Jenis media yang termasuk kelompok ini adalah televise, video, dan film bergerak.
b.      Media audio -still-visual, yakni media yang mempunyai suara objeknya dapat dilihat, namun tidak ada gerakan, seperti film strip bersuara, slide bersuara, dan rekaman televisi dengan gambar tak bergerak.
c.       Media  audio -semi-motion,   mempunyai   suara  dan  geraka n,  namun  tidak menampilkan  suatu gerakan secara utuh. Salah satu contoh dari media jenis ini adalah papan tulis jarak jauh atau tele-blackboard.
d.      Media motion-visual, yakni media yang mempunyai gambar objek bergerak, tapi tanpa mengeluarkan suara, seperti film bisu yang bergerak.
e.       Media still -visual, yaitu ada objek namun tidak ada gerakan, seperti film strip dan slide tanpa suara.
f.       Media  audio ,  yaitu  hanya  menggunakan  suara,  seperti  radio,  telepon,  dan tape.
g.       Media cetak, yang tampil dalam bentuk bahan- bahan tercetak/ seperti buku, modul, gambar, pamphlet, dll.[12]

C.     Media Kartu Huruf
Media ini adalah media pembelajaran dalam bentuk kartu yang di dalamnya terdapat  gambar  huruf.  Huruf-huruf  yang  terdapat  dalam  kartu  tersebut  dapat dibuat dengan menggunakan  tangan atau foto, atau hasil cetakan computer yang digunting  dan  ditempelkan pada  kartu  tersebut.  Kartu  huruf  tersebut  memiliki ukuran  5x5 cm, atau  lebih  sesuai  dengan  kebutuhan.  Dengan  menggunakan media  kartu  huruf  ini,  maka  kegiatan  pembelajaran dapat di desain dengan berbagai macam cara, baik itu dengan cara individu maupun dengan cara pengelompokan siswa.
1.      Kelebihan media kartu huruf
Adapun keunggulan kartu huruf sebagai media pembelajaran aksara Arab adalah sebagai berikut.
a.       Mudah di bawa- bawa: Dengan ukuran yang kecil sehinggam membuat media kartu huruf dapat disimpan di tas bahkan di saku, sehingga    tidak membutuhkan  ruang yang luas,  dapat  digunakan  di  mana  saja,  di kelas ataupun di luar kelas.
b.      Praktis: dilihat dari cara pembuatan  dan penggunaannya,  media kartu huruf sangat  praktis,  dalam  menggunakan  media  ini  guru  tidak  perlu  memiliki keahlian  khusus, media ini tidak perlu juga membutuhkan  listrik. Jika akan menggunakan kita tinggal menyusun urutan gambar sesuai dengan keinginan kita, pastikan posisi gambarnya tepat tidak terbalik, dan jika sudah digunakan tinggal disimpan kembali dengan cara diikat atau menggunakan kotak khusus supaya tidak tercecer.  Selain itu biaya pembuatan media kartu huruf ini pun sangatlah  murah,  karena  dapat  menggunakan  barang-barang  bekas  seperti kertas kardus sebagai kartunya.
c.       Gampang diingat: karakteristik media kartu huruf adalah menyajikan  huruf- huruf  pada  setiap  kartu  yang  disajikan.  Sajian  huruf- huruf dalam kartu ini akan  memudahkan   siswa  untuk  mengingat  dan  menghafal  bentuk  huruf tersebut.
d.      Menyenangkan: Media kartu huruf dalam penggunannya bisa melalui permainan. Misalnya siswa secara berlomba-lomba mencari satu kartu yang bertuliskan  huruf tertentu yang disimpan secara acak, dengan cara berlari siswa berlomba untuk mencari sesuai perintah. Selain mengasah kemampuan kognitif juga melatih ketangkasan (fisik).

  1. Teknik Pembuatan Kartu Huruf
Adapun teknik pembuatan kartu huruf adalah sebagai berikut.
a.       Siapkan kertas yang agak tebal seperti kertas duplek atau dari bahan kardus. Kertas ini berfungsi untuk menyimpan atau menempelkan huruf.
b.      Kertas tersebut di berikan tanda dengan pensil atau spidol dan menggunakan penggaris, untuk menentu kan ukuran 5x5 cm
c.       Potong-potonglah kertas duplek atau kardu tersebut  dengan  menggunakan gunting atau pisau kater hingga tepat berukuran 5x5 cm. Buatlah kartu-kartu tersebut sejumlah huruf yang akan ditempelkan.
d.      Selanjutnya,  jika  objek  huruf  akan  langsung  dibuat  dengan  tangan,  maka kertas  alas  tadi  perlu  dilapisi  dengan  kertas  halus  untuk  menggambar, misalnya kertas HVS, kertas concort atau kertas karton.
e.       Mulailah menggambar dengan menggunakan alat gambar seperti kuas, cat air, spidol, pinsil warna, atau membuat desain menggunakan  komputer  dengan ukuran yang sesuai lalu setelah selesai ditempelkan pada alas tersebut.
f.       Jika gambar huruf yang akan ditempel  memanfaatkan yang sudah  ada, misalnya  poster huruf hijaiyah yang di jual di toko, di pasar, maka  selanjutnya gambar-gambar tersebut tinggal dipotong sesuai dengan   ukuran,   lalu ditempelkan menggunakan perekat atau lem kertas. Berikut salah satu contoh gambar kartu huruf.

Gambar 1. Contoh Kartu Huruf












 







  1. Persiapan Penggunaan Media Kartu Huruf
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam persiapan penggunaan media kartu huruf adalah sebagai berikut.
a.       Mempersiapkan diri. Guru perlu menguasai bahan pembelajaran dengan baik, memiliki keterampilan untuk menggunakan media tersebut. Kalau perlu untuk memperlancar    lakukanlah dengan latihan berulang- ulang  meski  tidak langsung  dihadapan  siswa.  Siapkan pula bahan  dan  alat-alat  lain  yang mungkin  diperlukan. Periksa juga  urutan  gambar  hurufnya  kalau-kalau ada yang terlewat atau susunannya tidak tepat.
b.      Mempersiapkan kartu huruf: Sebelum dimulai pembelajaran pastikan bahwa jumlahnya  cukup,  cek juga urutannya  apakah  sudah  benar,  dan perlu  atau tidaknya media lain untuk membantu.
c.       Mempersiapkan tempat: hal ini berkaitan dengan posisi guru sebagai penyaji pesan  pembelajaran   apakah  sudah  tepat  berada  di  tengah-tengah  siswa, apakah ruangannya sudah tertata dengan baik, perhatikan juga penerangannya lampu  atau intensitas  cahaya  di ruangan  tersebut  apakah  sudah  baik, yang terpenting adalah semua siswa bisa dapat melihat isi kartu huruf dengan jelas dari semua arah.
d.      Mempersiapkan   siswa:  Sebaiknya  siswa  ditata  dengan  baik,  diantaranya dengan cara duduk melingkar di hadapan guru, perhatikan siswa untuk memperoleh   pandangan   secara  memadai. Cara duduk  secara  melingkar dipastikan semua siswa dapat melihat sajian dengan baik, berbeda dengan berjejer  ke belakang,  mungkin  saja ada siswa  yang tidak dapat  melihat  ke depan karena terhalang teman yang lainnya, atau terlalu jauh sehingga tidak jelas.

  1. Cara Penggunaan Media Kartu Huruf
Adapun cara penggunaan media kartu dalam pembelajaran aksara Arab adalah sebagai berikut.
  1. Hapal dan Tebak
a.       Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan jumlah anggota 5 orang
b.      Setiap anggota kelompok diberikan 1 kartu untuk dihapalkan lalu menukar kartunya dengan kartu teman kelompoknya dan menghafalkannya lagi.
c.       Setelah waktu menghafal selesai, masing-masing siswa kemudian diminta untuk menjelaskan kartu hurufnya dan menebak kartu huruf teman-teman kelompoknya.
  1. Games
a.       Guru meletakkan  kartu-kartu  tersebut  di  dalam sebuah kotak secara acak dan tidak perlu disusun
b.      Guru menyiapkan siswa yang akan berlomba misalnya tiga orang berdiri sejajar, kemudian guru memberikan perintah, misalnya cari huruf ha, lam, dan seterusnya”.

D.     Penutup
Penggunaan media kartu huruf pada pembelajaran aksara Arab banyak  menuntut  siswa  untuk  berusaha  menghafal  bentuk -bentuk huruf aksara Arab yang  mereka  anggap  sulit  untuk  di  hafal.  Dengan  menggunakan media pembelajaran dan  juga diselingi dengan  metode permainan dalam penyampaian materinya, maka siswa akan   merasa   sangat   senang   dalam   mengarungi   proses   pembelajaran   yang disampaikan guru, dan siswa secara tidak sadar akan berusaha atau termotivasi untuk mempelajari  dan menghafal  bentuk-bentuk dan nama - nama huruf aksara Arab.
Penerapan media pembelajaran seperti kartu pada setiap pembelajaran memerlukan pendekatan, metode dan teknik pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan disampaikan sehingga dapat menarik perhatian dan minat siswa. Hal-hal   tersebut hendaknya telah dipersiapkan oleh seorang guru sebelum melaksanakan kegiatan  pembelajaran.  Karena  dengan  adanya  perencaan dan penentuan metode  serta  media  yang  akan  dipakai,  pembelajaran  akan berjalan secara sistematis.


DAFTAR RUJUKAN


Arsyad, Azhar, Media Pembelajaran, Jakarta: Rajawali Pers, 2010.
Asnawir, M Basyirudin Usman, Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Perss, 2002.
Hamalik, Oemar, Media Pendidikan, Bandung: PT.Citra Aditya Bakti: 1994.
Ibrahim, R., Nana Syaodih S., Perencanaan Pengajaran, Jakarta: PT. Asdi Mahasatya: 2003.
Miarso, Yusuf Hadi, dkk., Teknologi Komunikasi Pendidikan, Jakarta: Rajawali, 1986.
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung: CV. Sinar Baru: 1991.
Usman, M. Basyirudin Asnawir, Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Press, 2002.
 
 
FOOTNOTE:

[1] Yusuf Hadi Miarso dkk., Teknologi Komunikasi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali, 1986), hlm. 56.
[2] M. Basyirudin Usman; Asnawir, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 11.
                [3] Ibid.
[4] Ibid., hlm. 13.
                [5] Ibid., hlm. 14.
                [6] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, (Bandung: CV. Sinar Baru: 1991), hlm. 3-4.
                [7] Ibid.
                [8] M. Basyirudin Usman; Asnawir, Op.cit., hlm. 24- 25.
[9] Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Op.cit., hlm. 3- 4.
[10] Oemar Hamalik, Media Pendidikan, (Bandung: PT.Citra Aditya Bakti: 1994), hlm.15
[11] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010) hlm. 26-27.
[12] R. Ibrahim; Nana Syaodih S., Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: PT. Asdi Mahasatya: 2003), hlm. 114.