Jumat, 19 September 2014

PERBAIKAN AKHLAK DENGAN BUDAYA MALU - Oleh: Drs. H.ZULFAN EFENDI HASIBUAN


Pendahuluan
       Tidak dapat dipungkiri, bahwa kemerosotan akhlak telah menjadi bagian dari fenomena kehidupan sosial dewasa ini. Hal itu dapat disaksikan hampir dalam setiap lorong kehidupan kita, baik dalam perkataan, berpakaian maupun dalam tingkah laku. Baik dikalangan intelek maupun orang awam, di kalangan aparat  dan masyarakat apalagi di kalangan generasi muda.
      
       Akhlak merupakan barometer keimanan, semakin kuat iman seseorang maka semakin baik pula akhlaknya, sebaliknya prilaku yang semakin buruk pertanda iman yang semakin dangkal.
Selain itu akhlak adalah tiang penyangga suatu bangsa, keselamatan suatu negara ditentukan oleh akhlak masyarakatnya. Sebagaimana diungkapkan imam As-Syauqy :

انما ا مم خلاقهم ما بقيت - فان هموا  ذهبوا خلاقهم ذهبوا

Artinya : Sesungguhnya suatu bangsa bisa bertahan, selama akhlak masih mewarnai kehidupan. Apabila akhlak sudah sirna dari pergaulan, maka bangsa itu akan hancur berantakan.

Itulah sebabnya perbaikan akhlak merupakan suatu yang tidak bisa  ditawar-tawar, bila kita tidak ingin bangsa yang mayoritas beragama Islam ini hancur karena prilaku sendiri.
 
Rasa Malu Kunci Penentu Akhlak                            
           
Malu adalah sifat yang melekat pada jiwa manusia semenjak lahir, tetapi dalam perkembangannya ada yang tumbuh  berkembang ada yang tidak, bahkan ada yang hampir hilang. Sifat ini harus dipelihara tidak boleh dihilangkan. Ibnu `Umar dalam Hadist Shohih menceritakan, bahwa Nabi SAW pernah melewati seseorang yang sedang menasehati saudaranya  tentang “rasa malu”, maka beliau bersabda kepada orang tersebut “ Biarkan saja dia, karena rasa malu itu sebahagian dari iman”.

Sifat malu tidak akan menimbulkan ekses negatif, sebaliknya ia selalu melahirkan dampak yang sangat positif, sebagaimana diungkapkan oleh Nabi SAW:

الحياء لا يأ تى الا بخير.( رواه البخا رى و مسلم)
Artinya: Rasa malu  itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan. (H.R. Bukhari. Muslim)

Sifat malu ini sangat menonjol pada diri Rasulullah SAW, sehingga beliau terpelihara dari segala prilaku yang tidak baik. Malu merupakan bagian dari keimanan, sekaligus penentu akhlak seorang muslim sebagaimana Hadist Nabi SAW:

لكل دين خلق وخلق ا سلام الحياء
Artinya : Setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.

Secara garis besarnya malu itu ada tiga macam, yakni; pertama malu kepada manusia, kedua  malu kepada diri sendiri dan ketiga malu kepada Allah SWT. Akhlak dan prilaku yang baik tidak akan muncul, apabila rasa malu seseorang baru terhadap manusia, sebab tingkah laku seseorang tidak selalu dilihat dan diketahui orang lain. Tetapi apabila seseorag telah memiliki rasa malu terhadap dirinya sendiri apalagi terhadap Allah, maka sifat ini menyelamatkan seseorang dari prilaku yang tidak baik, sebab tidak ada ruang dan waktu bagi manusia untuk berbuat maksiat yang luput dari monitoring Allah SWT.

Seorang yang malu kepada Allah SWT  meyakini bahwa Allah selalu melihat dirinya, bahkan Allah senantiasa berasamanya. Keyakinan semacam ini akan mendorongnya taat kepada Allah serta merasa malu dengan keburukannya. Ibarat seorang hamba yang bekerja di hadapan tuannya pasti akan berbuat yang terbaik dan takut berbuat salah. Sebaliknya bila persaan malu hilang, seseorang tidak merasa dilihat oleh Allah, maka ia akan berbuat sesukahatinya, sebagaimana Hadist Nabi SAW:

اذا لم تستحى فصنع ما شئت . (رواه البخا رى)
Artinya: Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesuka hatimu. (H.R..Bukhori)

Oleh karena itu sifat malu perlu dilestarikan serta dibudayakan setiap orang dalam rangka perbaikan akhlak manusia, baik ilmuan maupun kaum awam, para pejabat maupun rakyat biasa, baik yang  muda apalagi yang tua, apabila rasa malu terhadap diri sendiri serta malu kepada Allah SWT telah muncul pada diri manusia, maka hal ini akan memberi konstribusi bagi perubahan dan perbaikan akhlak.

Penutup
           
 Malu adalah sebahagian dari  iman, bahkan keduanya tidak dapat dipisahkan, jika salah satu hilang maka hilanglah keduanya. Oleh karena itu budayakan rasa malu dalam diri, malu berkata, berbuat dan bersikap yang tidak baik, jangan hanya malu pada manusia, tetapi malulah terhadap diri sendiri yang telah mengaku muslim dan beriman, tetapi sikap prilaku tidak sesuai dengan ucapan. Apalagi malulah kepada Allah, bila masih berbuat yang tidak diridhai-Nya, padahal Allah telah menganugerahkan segala-galanya buat kita, semoga Allah SWT menjauhkan bangsa kita dari akhlak yang tidak terpuji. 

Lihat/ download file aslinya disini!