Rabu, 17 September 2014

TEORI SIKLUS PERADABAN PERSPEKTIF IBN KHALDUN (RESENSI BUKU)

A.    Identitas Buku

Pengarang       : Biyanto[1]

Judul Buku      : Teori Siklus Peradaban: Perspektif Ibn Khaldun

Editor               : Nur Mufid

Desain Sampul : Nuansa Aksara Yogyakarta

Penerbit            : LPAM

Ukuran/ Hlm    : 21,5 cm/ 172 Halaman

B.     Latar Belakang Masalah

Banyak peneliti modern mengatakan bahwa manusia pada fitrahnya adalah makhluk historis. Bahkan Louis Gottschalk menyatakan, every man has his own historian. Artinya setiap orang memang mempunyai sejarahnya sendiri dan harus menjadi sejarawan bagi dirinya sendiri. Kecenderungan manusia seperti ini telah melahirkan apa yang kemudian disebut filsafat sejarah.
Filsafat sejarah tersebut lahir sebagai wujud keingintahuan manusia untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan terhadap dua pertanyaan fundamental: mengapa suatu peristiwa itu terjadi dan bagaimana proses terjadinya?

Dalam membicarakan interpretasi terhadap peristiwa historis itulah peranan Ibn Khaldun sebagai seorang teoritisi filsafat sejarah tentu tidak dapat diabaikan karena beberapa hal:

  1. Karena Ibn Khaldun melalui kitab muqaddimahnya telah interpretasi sejarah dari yang bersifat heroik menuju yang bercorak kultural (sosial yang intergral).

  2. Menurut Ibn Khaldun, kelemahan dalam histiografi Arab-Islam adalah disebabkan karena sejarawan tidak mengerti masalah-masalah sosial dan kultur masyarakat.

  3. Ibn Khaldun dalam menyimpulkan sejarah telah mengembangkan ‘ilm al-‘umran (sosiologi) agar penulisan dan pemahaman terhadap sejarah lebih bermakna.

  4. Dalam memahami perjalanan sejarah, Ibn Khaldun menyatakan bahwa sejarah bergerak sesuai dengan tahapan alamiah seperti yang terjadi pada individu manusia, yaitu mengalami masa lahir, remaja, tua, dan berakhir dengan kematian. Seperti halnya manusia maka dinasti juga memiliki umur alamiah.

Pendorong utama dibalik proses dialektika sosial tersebut dalam pandangan Ibn Khaldun adalah apa yang ia sebut dengan ‘ashabiah. Layaknya seperti umur alamiah manusia maka siklus peradaban dalam perspektif Ibn Khaldun juga ditetapkannya melalui empat fase. Yaitu fase primitive, fase urbanisasi, fase kemewahan, dan fase kemunduran yang membawa kehancuran.

Perspektif Ibn Khaldun dalam memahami perjalanan sejarah dengan teori yang serba pasti tersebut telah mengundang berbagai penafsiran. O.G. Sarton (1948) misalnya menganggap Ibn Khaldun telah membuka jalan bagi pesimisme, karena memandang akhir setiap peradaban umat manusia itu adalah kehancuran yang kemudian digantikan peradaban dinasti yang lain. Pemahaman tersebut berbeda dengan pendapat Gibb, beliau memahami pesimisme Ibn Khaldun dalam bingkai moral dan agama, bukan atas pertimbangan-pertimbangan sosiologis. Artinya Gibb memahami pernyataan Ibn Khaldun dengan bahwa setiap kekuasaan akan mengalami kehancuran ketika penguasanya telah melampaui dosa-dosa sejarah, untuk kemudian digantikan negara yang baru.

Berdasarkan pandangan para ahli tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa siklus perkembangan sejarah Ibn Khaldun memang sangat problematis. Oleh karena itu bapak Biyanto merasa tertarik untuk mengkaji secara serius mengenai teori siklus peradaban dalam perspektif Ibn Khaldun.

C.    Rumusan Masalah

Berdasarkan kajian Biyanto terhadap latar belakang masalah di atas, maka Biyanto menetapkan fokus rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah posisi Ibn Khaldun dalam bidang filsafat sejarah ?

  2. Bagaimanakah pandangan Ibn Khaldun tentang perkembangan sejarah ?

  3. Bagaimanakah siklus perkembangan negara atau kekuasaan sebagai unit yang signifikan dalam sejarah?

  4. Apakah gerak siklus sejarah Ibn Khaldun mengandung makna pesimisme dan meniadakan segi-segi kemajuan (progresifitas) ?

D.    Kajian Teori
1.      Pengertian Sejarah

Sejarah dalam arti subyektif adalah suatu konstruk, bangunan yang disusun sebagai suatu uraian atau cerita. Sementara sejarah dalam arti obyektif menunjukkan pada kejadian atau peristiwa itu sendiri, yaitu proses sejarah dalam aktualitasnya. Dalam suatu sisi sejarah identik dengan politik, dan dimensi politik begitu dominan dalam penulisan sejarah masa lampau. Bagi Ibn Khaldun, sejarah dalam perspektif politik berarti perbincangan mengenai perputaran kekuasaan serta bagaimana negara berdiri, tumbuh, berkembang, dan hancur. Teorinya tersebut adalah didasarkan pada pengalaman pribadinya sebagai praktisi politik yang selalu dekat dengan kekuasaan.

2.      Filsafat Sejarah

Filsafat sejarah adalah logika sejarah, kritik sejarah secara filosofis atau sejarah ilmiah. Filsafat sejarah dalam kajian modern mengandung dua segi penelitian yang berbeda: pertama, kajian metodologi penelitian ilmu secara filosofis disertai dengan pengujian yang kritis atas metode sejarawan. Kedua, melakukan konstruktif terhadap kesimpulan-kesimpulan sejarah.

3.      Teori-Teori Tentang Gerak Sejarah

Pada umumnya teori gerak sejarah terbagi tiga pola gerak:

  1. Sejarah digambarkan dalam perkembangan yang sangat oportunistis bahwa peradaban manusia berkembang secara “linear” (garis lurus). Asumsi pemikiran ini adalah secara perlahan peradaban manusia itu akan terus maju bersama waktu. Dan sebahagian tokoh berpendapat sebaliknya, bahwa umat manusia dengan peradabannya secara bersama akan terjerumus dalam penghancuran total.

  2. Sejarah bergerak dalam daur kultural, baik daur itu saling terputus atau saling berjalinan dan berulang kembali (berbentuk siklus). Seperti ayunan abadi antara dua titik atau terdiri dari gerakan melingkar dalam suatu lingkaran tertutup.

  3. Sejarah bergerak dengan tidak melalui pola tertentu atau secara acak. Dasar teoritis teori ini adalah adanya pengakuan terhadap peristiwa-peristiwa sejarah yang diakibatkan oleh sebab-sebab yang bersifat ekstra natural dan ekstra rasional. Karena kedua sebab itu maka perkembangan sejarah tidak dapat ditentukan hukum-hukumnya.

Kaitan gerak sejarah dengan teori siklus sejarah adalah bahwa teori tersebut didasarkan pada asumsi bahwa sejarah berkembang sesuai dengan hukum-hukum kealaman.

4.      Pesimisme dan Optimisme Historis

Kata pesimisme dipakai sejak abad XVIII dalam arti falsafi berasal dari filsuf Jerman Arthur Schopenhauer (1788-1860) berpendapat bahwa dunia ini adalah dunia yang paling buruk, alam kesengsaraan dan kemalangan. Pesimisme historis timbul sebagai akibat dari perasaan manusia yang merasakan kebrutalan masanya dan runtuhnya nilai-nilai etik dan estetik dalam masyarakat, antara lain akibat peperangan yang berkepanjangan. Pendapat paling ekstrim dari kaum pesimisme adalah bahwa kebudayaan dan peradaban umat manusia itu memiliki tahapan umur alamiah lahir, tumbuh, berkembang, dan hancur.

E.     Pendekatan, Metode dan Analisis

Sebagai suatu analsis filosofis terhadap pemikiran seorang tokoh dalam waktu tertentu di masa lampau, maka secara metodologis penelitian ini menggunakan pendekatan historis dengan metode penelitian kepustakaan. Sementara teknik analaisis datanya adalah menggunakan content analysis.

F.     Sketsa Kehidupan Ibn Khaldun

Ibn Khaldun memiliki nama lengkap ‘Abd al-Rahman Abu Zaid Waliuddin Ibn Khaldun. Keluarga Ibn Khaldun berasal dari Hadramaut dan masih memiliki garis keturunan dengan Wail bin Hajar, salah seorang sahabat Nabi Saw. Khalid bin Usman yang dikenal dengan Khaldun. Namun pada saat orang-orang Kristen memasuki Sevilla, keluarga Khaldun pindah ke Tunis. Ibn Khaldun lahir di Tunis tanggal 1 Ramadhan 732 H/ 27 Mei 1332 M dan meninggal dunia di Kairo 25 Ramadhan 808 H/ 19 Maret 1406 M. Melihat masa kehidupan Ibn Khaldun berarti Ibn Khaldun adalah Intelektual Muslim pada masa kegelapan atau fase disintegrasi politik dan kemunduran diberbagai bidang.

Pada masa kemunduran peradaban Islam ini, Eropa telah bangun dari tidurnya yang panjang. Eropa telah berbenah guna menyongsong abad modern yang ditandai dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan dan temuan-temuan baru.  Pada saat krisis politik ini, Ibn Khaldun merupakan salah seorang pemikir yang menghabiskan hidupnya dekat dengan beberapa penguasa yang silih berganti. Dalam pemerintahan tersebut beliau aktif sebagai praktisi  politik dan juru tulis para penguasa saat itu.

Kondisi masa kehidupan Ibn Khaldun juga telah diwarnai dominasi kaum sufi, tetapi sungguh sulit menentukan besar kecilnya pengaruh pemikiran sufi dalam diri Ibn Khaldun. Karya terbesar Ibn Khaldun adalah kitab al-‘Ibar terdiri atas tujuh jilid. Jilid pertamanya adalah telah menjadi kitab monumental yang dikenal dengan nama Muqaddimah, sementara jilid 2-5 adalah mengkaji sejarah peradaban bangsa Arab dan jilid 6-7 adalah mengkaji tentang sejarah bangsa Berber dan bangsa-bangsa lain yang berhubungan dengannya, yaitu kerajaan-kerajaan orang Arab yang  ada di Barat.

G.    Pemikiran Ibn Khaldun Tentang Filsafat Sejarah
1.      Metode Sejarah Ibn Khaldun

Pengertian sejarah bagi Ibn Khaldun memiliki dua makna; sejarah dari sisi luarnya merupakan uraian tentang peristiwa yang terjadi pada masa lalu, dan sejarah dari sisi dalamnya merupakan suatu penyelidikan yang kritis  untuk menemukan kebenaran tentang sebab-sebab dan hukum-hukum yang mengendalikan peristiwa sejarah, bagaimana dan mengapa peristiwa itu terjadi.

Berdasarkan pengertian tersebut Biyanto mengungkapkan bahwa suatu karakteristik terpenting dari metode sejarah Ibn Khaldun adalah perhatiannya yang besar terhadap hukum-hukum sosial, dimana fenomena-fenomena sejarah tunduk padanya. Menurut Ibn Khaldun, fenomena-fenomena sejarah tidak terjadi secara kebetulan.

2.      Filsafat Sejarah Ibn Khaldun

Dalam kitab Muqaddimahnya Ibn Khaldun tidak menggunakan nama filsafat sejarah sebagai sebutan kajiannya, melainkan menyebutnya dengan nama al-‘umran al-basyari. Gagasan Ibn Khaldun mengenai al-‘umran al-basyari adalah bermakna ilmu yang mengkaji filsafat sejarah. Tujuan ‘ilmu al-‘umran adalah mengakaji aspek internal dari peristiwa-peristiwa eksternal sejarah.

Sumber-sumber pemikiran yang menjadi rujukan Ibn Kahaldun dalam menyusun teori-teorinya masih diperdebatkan di kalangan peneliti, ada yang mengatakan sejarawan muslim seperti al-Thabari, al-Turtusi dan lain-lain,. Sementara sebahagian yang lain mengatakan alam pemikiran Yunani yang mempengaruhi alam pikirannya. Namun menurut Biyanto, berangkat dari berbagai pendapat tersebut tampaknya lebih bijaksana mengatakan Ibn Khaldun telah membangun kerangka teorinya berdasarkan keterlibatannya yang cukup aktif dengan masyarakat, baik ketika ia aktif dalam dunia politik maupun dari hasil observasinya mengenai masyarakat  badui yang nomaden.

Biyanto menemukan pemikiran Ibn Khaldun dalam kitab muqaddimahnya bahwa filsafat sejarah Ibn Khaldun dibangun berdasarkan asumsi bahwa manusia adalah makhluk sejarah yang hidup dan berkembang sesuai dengan hukum-hukum. Hukum-hukum tersebut dapat diamati melalui pengkajian terhadap sejumlah fenomena sosial. Salah satu asas berberdirinya negara bagi Ibn Khaldun adalah faktor ashabiyah dan faktor ekonomis. Dari sudut pandang ini Ibn Khaldun dapat juga disebut sebagai penggagas materialisme historis.

  1. 3.      Ibn Khaldun dan Teori Perkembangan Sejarah

Para ilmuwan mengasumsikan dua tipe perkembangan manusia. Pertama, evolusi biologis, yaitu perubahan terjadi secara alamiah. Kedua, evolusi sejarah atau sosial yakni manusia melakukan dengan usahanya sendiri dan alam tidak memainkan peran dalam menentukan perkembangan sejarah manusia.

Bagi Ibn Khaldun fenomena-fenomena sosial tunduk kepada hukum perkembangan, perkembangan fenomena sosial tersebut lebih jelas dibanding fenomena alam. Oleh karena itu perkembangan menurut Ibn Khaldun terkandung dalam watak segala sesuatu.

4.      Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sejarah

Ibn Khaldun menyebutkan masalah ekonomi sebagai salah satu hukum deternimisme sejarah, artinya masyarakat hidup tidak lain untuk membantu dalam memperoleh penghidupan yang sederhana sebelum mencari penghidupan yang lebih tinggi. Walaupun demikian beliau tidak menyebutkan ekonomi sebagai sarana satu-satunya yang berpengaruh terhadap sejak sejarah.

Menurut teori alam, faktor utama penyebab terciptanya perbedaan budaya dan perkembangan industri adalah lingkungan fisik. Lingkungan fisik tersebut dalam perspektif Ibn Khaldun telah mempengaruhi watak dan kebudayaan manusia. Masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah yang beriklim ekstrim peradabannya atau kebudayaannya tidak akan berkembang,  Selanjutnya Ibn Khaldun juga menyatakan bahwa semangat keagamaan dapat meredakan pertentangan dan iri hati satu golongan kepada golongan lain.

  1. 5.      Hukum Sejarah

Pokok pikiran Ibn Khaldun mengenai hukum sejarah dapat dikelompokkan menjadi; hukum kausalitas, peniruan (pengulangan) dan perbedaan. Hukum kausalitas menurut Ibn khaldun berlaku pada alam fisik dan alam manusia. Namun sebagai muslim Ibn Khaldun mengecualikan hukum kausalitas pada masalah mukjizat para Nabi dan karamah para wali. Pemikiran kausalitas Ibn Khaldun tersebut adalah wujud pemikiran Aristotelian.

Kosep hukum peniruan dalam perspektif Ibn Khaldun didasari pada tiga faktor: Pertama, masyarakat selalu meniru pada pemegang kekuasaan. Kedua, Para pemegang kekuasaan yang baru selalu meniru pemegang kekuasaan sebelumnya. Ketiga, Pemegang kekuasaan yang kalah meniru pada pemegang kekuasaan yang baru. Peniruan tersebut mendorong gerak perkembangan.

Sementara Hukum perbedaan menurut Ibn Khaldun adalah menjadi dasar determinisme sejarah. Masyarakat tidak mungkin sama, diantara mereka mesti terdapat perbedaan yang harus diketahui oleh sejarawan.

H.    Siklus Jatuh Bangunnya Negara dan Peradaban Manusia
1.      Siklus Bangun Jatuhnya Negara

Menurut Biyanto, negara dalam perspektif Ibn Khaldun adalah bentuk pemerintahan yang pernah ada dalam sejarah umat manusia, termasuk di dalamnya dinsti yang muncul, tumbuh, berkembang dan akhirnya mengalami kehancuran. Selanjutnya negara akan terbentuk pada tahap tertentu dari perkembangan masyarakat, yaitu setelah masyarakat primitive menjadi masyarakat kota.

Asal usul negara dalam perspektif Ibn Khaldun muncul dengan dua dasar pemikiran, yaitu:

  1. Karena watak kesukuan dan solidaritas (‘ashabiyah)

  2. Karena suatu perjuangan serta pertarungan hidup dan mati.

Disamping dua dasar pemikiran ini, lebih lanjut Ibn Khaldun berpendapat bahwa agama dapat memperkokoh kekuatan yang telah dipupuk oleh solidaritas.

Teori ashabiyah sangat mempengaruhi teori Ibn Khaldun mengenai perkembangan negara. Solidaritas (ashabiah) menurutnya hanya dibutuhkan pada tahap-tahap pertama dan ketika negara sudah berdiri stabil maka kebutuhan penguasa kepada solidaritas masyarakat akan berkurang. Hal tersebutlah yang menyebabkan sering terjadi pemusatan kekuasaan pada tangan penguasa. Proses ini merupakan prose salami yang disebabkan dua hal:

  1. Apabila pemimpin telah terpilih, maka sifat kebinatangan manusia menimbulkan watak kesombongan dan kebanggaan.

  2. Pada dasarnya kekuasaan kenegaraan sebagai bentuk kekuasaan tertinggi tidak dapat dilaksanakan dua orang atau lebih.

Menurut Ibn Khaldun, negara beralih dalam berbagai perkembangan dan kondisi-kondisi yang silih berganti. Perkembangan dan kondisi negara umumnya tidak lebih dari lima tahap, yaitu:

  1. Tahap pendirian

  2. Tahap pemusatan kekuasaan atau tirani

  3. Tahap kekosongan dan kesantaian dalam menikmati buah kekuasaan dan menumpuk kekayaan

  4. Tahap ketundukan dan kemalasan (akibat merasa puas dengan yang ada)

  5. Tahap pembubaran dan keruntuhan negara (akibat pola hidup berlebihan pada keluarga istana).

Penyebab kehancuran negara menurut Ibn Khaldun ada tiga. Pertama, negara menghendaki pemusatan kekuasaan. Kedua, negara menghendaki kemewahan. Ketiga, watak kekuasaan negara itu menghendaki kestabilan dan ketenangan yang berakibat pada kemalasan.

Selanjutnya negara dan manusia adalah sama-sama ciptaan tuhan yang memiliki umur alami. Umur alami negara menurut Ibn Khaldun tidak lebih dari tiga generasi (120 tahun),yang masing-masing generasi memiliki karakterstik masing-masing (primitive, kota, krisis). Tanda-tanda negara yang mendekati masa kehancuran menurut Ibn Khaldun adalah kurangnya lapangan kerja dan krisis moral.

6.      Siklus Perbenturan Peradaban

Pemikiran Ibn Khaldun mengenai siklus perbenturan peradaban berkaitan dengan teorinya tentang pengaruh lingkungan fisik terhadap manusia sehingga memunculkan sebuah siklus peradaban. Dimana ketika suatu negara sedang mengalami kemunduran atau menanti kehancuran maka ketika terjadi perbenturan dengan negara lain yang memiliki solidaritas dan kekuatan yang baik, secara otomatis negara tersebut akan hancur dengan sendirinya.

Menurut Biyanto, siklus perbenturan peradaban tersebut berkaitan erat dengan pemikiran Ibn Khaldun tentang enam landasan sosiologi: Pertama, gejala-gejala sosial tunduk kepada hukum tertentu, yang meskipun tidak mutlak. Kedua, Hukum-hukum perubahan berlaku pada tingkat kehidupan masyarakat, bukan pada tingkat individual. Ketiga, Hukum-hukum proses sosial harus ditemukan melalui pengumpulan banyak data dan dengan mengamati hubungan antar variable. Keempat, hukum-hukum sosial yang serupa berlaku dalam masyarakat yang satu, tetapi untuk yang lain mungkin akan sangat berbeda. Kelima, Perubahan antar masyarakat yang satu dengan yang lain mungkin sangat berbeda. Keenam, hukum-hukum yang berlaku terhadap perubahan itu adalah bersifat sosiologis, bukan bersifat biologis atau alamiah.

I.       Masalah Pesimisme dan Optimisme

Para pengkritik Ibn Khaldun mengatakan bahwa karena perkembangan negara menurut Ibn Khaldun selalu membentuk daur kultural maka berarti dalam masyarakat tidak terjadi perkembangan apapun. Untuk menjawab masalah ini maka perlu memilah antara teori yang berbentuk daur dengan teori siklus Ibn Khaldun, karena dalam teori Ibn Khaldun masing-masing negara merupakan salah satu lingkaran dan keseluruhan lingkaran menuju ke depan. Sehingga hancurnya sebuah negara dan digantikan negara lain tidak menunjukkan peradaban kembali ke awal tumbuhnya, sebab negara yang menggantikan negara yang hancur tidaklah membangun negaranya dari nol. Begitu juga karena kemunduran negara terjadi pada tahap modern menunjukkan pada adanya perkembangan peradaban yang berlanjut.

Teori Ibn Khaldun terkesan bercorak pesimistik adalah karena kondisi obyektif yang diamati beliau pada dinasti-dinasti  atau kebudayaan Islam yang pada masanya mengalami kemunduran. Oleh karena itu teori siklus peradaban Ibn Khaldun yang selalu menuju kehancuran harus kita pahami dengan pertimbangan-pertimbangan moral dan agama.

J.      Kesimpulan

Berdasarkan pokok-pokok kajian di atas, kiranya dapat dibuat beberapa kesimpulan:

  1. Ibn Khaldun memiliki posisi yang sangat penting dalam filsafat sejarah.

  2. Filsafat sejarah Ibn Khaldun membahas perkembangan lembaga-lembaga manusia termasuk diantaranya Negara yang  beliau katakan memiliki sifat-sifat kealaman.

  3. Konsep Ibn Khaldun yang memahami siklus jatuh-bangunnya negara  dan peradaban manusia sebagai peristiwa alamiah adalah bersifat empiris, historis, dan teologis.

  4. Perkembangan negara atau lembaga-lembaga manusia yang selalu menuju kehancuran tidak dapat disimpulkan bahwa Ibn Khaldun  seorang yang pesimis dalam menatap masa depan umat manusia.

  5. Ibn Khaldun tidak menganggap kehancuran negara sebagai kehancuran total yang meluluhlantakkan pencapaian-pencapaian kultural manusia.

  6. Siklus bangun-jatuhnya negara Ibn Khaldun harus dipahami dalam pespektif moral.




[1] Biyanto adalah dosen tetap Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya, dilahirkan di Lamongan tanggal 10 Oktober 1972. Buku yang ditulis beliau ini berasal dari tesis yang diajukan beliau untuk memperoleh gelar Magister Agama (M.Ag) pada Program Pascasarjana IAIN Sumatera Utara, Medan, tahun 1998.