Selasa, 30 September 2014

Sistem Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi

Civitas akademika Perguruan Tinggi disebut sebagai kalangan elit cendikiawan adalah disebabkan perannya sebagai agen pengembang dan pemberdaya masyarakat. Sebagai agan pengembang dan pemberdaya masyarakat setidaknya mereka harus menguasai dua sayap: Pertama, ilmu keahlian yang dapat menjadikannya sebagai konselor ataupun tempat bertanya masyarakat dalam suatu bidang disiplin ilmu. Kedua, karakter yang dapat membuatnya disukai, dipercaya dan dihargai oleh  masyarakatnya. Artinya perhatian terhadap dua hal ini harus tetap menjadi perhatian dan proritas penting oleh setiap Pergururuan Tinggi.
        Fase imitatif (meniru) tidaklah hanya terjadi pada tahap perkembangan balita saja. Melainkan kalangan mahasiswa, guru, dosen, dan bahkan calon Doktor di era modern ini telah ditemukan melakukan plagiasi karya ilmiah, bahkan ironisnya beberapa hari ini telah tertangkap kasus penciplakan ribuan ijazah palsu di Jawa Timur yang menurut terdakwa sebagian besar konsumennya adalah pendidik generasi masa depan bangsa Indonesia.
      Sementara mahasiswa pada peringatan hari-hari besar juga sudah terkenal dengan dengan kegiatan demonya yang sering berakhir anarki, alias menyampaikan pendapat dengan kesan memaksa. Apakah ini adalah karakter rakyat kita ? (tentu tidak!) atau apakah kampus mengajarkan hal tersebut? (mungkin saja!). Untuk menjawab hal pertanyaan kedua ini mari kita diskusikan tentang sistem pendidikan karakter di Perguruan Tinggi.
       Sistem pendidikan karakter di Perguruan Tinggi setidaknya dapat ditinjau pada 3 aspek, yaitu: sistem pengajaran di kelas, pelayanan akademik, dan pemberdayaan organisasi mahasiswa intra kampus.
       Sistem pengajaran yang menjadi ciri khas Perguruan Tinggi adalah seminar kelas dan kerja kelompok. Penanaman pendidikan karakter pada proses pembelajaran dapat dilakukan dengan pemberian keteladanan dan pembiasaan. Misalnya: Ketika berdiskusi, mahasiswa dan dosen tidak boleh memberikan klaim bahwa pendapatnya yang paling benar dan pendapat orang lain salah. Dalam menanggapi pernyataan seseorang maka haruslah memperhatikan latar belakang dan pola pikir orang yang ditanggapinya. Sementara ketika terjadi perbedaan pendapat maka dahulukanlah etika dan carilah jalan keluar melalui titik persamaan. sikap disiplin, keterbukaan, kejelasan peraturan perkuliahan dan budaya ilmiah juga harus dijadikan sebagai proritas pendidikan karakter.
       Dalam aspek pelayanan akademik maka budaya karakter harus dijadikan sebagai indikator peningkatan mutu pelayanan akademik. Karakter yang dapat dikembangkan dalam aspek pelayanan akademik adalah: karakter kesantunan, kejelasan, ketepatan, dan keterbukaan dalam memberikan pelayanan.
       Organisasi mahasiswa intra kampus dijadikan sebagai wadah pendidikan dan pelatihan kepemimpinan dan manajemen administrasi administrasi. Sistem pelaksanaan pendidikan karaker pada organisasi dapat dimulai dari pembelajaran sistem administrasi yang baik, penanaman jiwa kepemimpinan dan tim kerja. Untuk mengefektifkan dan mengoptimalisasi pembelajaran administrasi dan kepemimpinan organisasi mahasiswa maka peran pihak kampus sebagai auditor mutu administrasi dan pelayanan organisasi mahasiswa menjadi sangat penting, bila perlu dibentuk suatu unit khusus yang bertugas sebagai pembimbing, mediator dan auditor organisasi mahasiswa intra kampus secara kontiniu dan konsisten, dan bukan cuma pada upgrading dan rapat tahunan saja.
       Penanaman nilai-nilai karakter pada tiga kawasan tersebut harus didukung oleh penegakan peraturan yang aplikatif disamping pemberian suri tauladan dan jalinan komunikasi yang baik antara seluruh civitas akademik. Jika tidak, maka pendidikan karakter akan sia-sia atau menjadi omong kosong belaka.