Jumat, 19 September 2014

SPIRITUAL MANAGEMENT (RESENSI BUKU)

  1. Identitas Buku
Penulis                        : Sanerya Hendrawan, Ph. D.
Penerbit                      : Mizan
Tebal Buku                : 227 Halaman
Judul Buku                : Spiritual Management
Peresensi                    : Ismaul Hasanah

  1. Latar Belakang dan Masalah Penelitian
Kita sedang menyaksikan tumbuhnya kesadaran spiritual di dunia korporat dan dunia kerja. Para eksekutif puncak, manajer menengah, bahkan para pegawai biasa, mulai mencari spiritualitas di kehidupan kerja dan berusaha mengungkapkannya dalam berbagai bentuk. Antusiasme terlihat pada berbagai praktik meditasi mereka, dukungan yang semakin meningkat pada perlunya moralitas bisnis, tanggung jawab perusahaan yang lebih luas kepada komunitas, perlunya mendengar suara hati dalam keputusan-keputusan eksekutif, kepemimpinan yang melayani, kearifan dan cinta dalam relasi dengan manusia dan lingkungan alam, atau bahkan tata kelola perusahaan yang berketuhanan (God Corporate Governence). Perkembangan ini membutuhkan pandangan positivisme, yang selama ini menafikan dimensi metafisik dan spiritualitas dari kehidupan kerja, ataupun sikap nominalis dan bahkan agnostik sebagian orang.
Kesadaran spiritual membantu perusahaan membangun orientasi baru bisnis yang ditegakkan di atas mentalis berkelimpahan (abundance mentality) berupa kelapangan dada, kelimpahan jiwa, keluasan cakrawala pandangan, kearifan dan cinta sesame manusia, serta kemenyatuan manusia dengan alam. Dengan membaca potensi dan perkembangan semacam itu, sudah tiba waktunya bagi para eksekutif untuk mengintegrasikan spiritualitas ini dengan praktik-praktik manajemen dan bisnis korporat mereka.

Buku ini ditulis dengan tujuan untuk menyatukan unsur-unsur tersebut, dari perspektif Islam. Islam memilki konsepsi tentang manusia yang unik, yaitu yang disebut dengan kepemimpinan di muka bumi. Konsepsi ini memberikan peran istimewa kepada manusia untuk mengatur dan mengelola bumi dengan seluruh sumber daya yang terkandung di dalamnya bagi kepentingan manusia berdasarkan hukum alam. Dengan konsepsi ini, aksi, identitas, dan keyakinan manusia, sebagai unsur-unsur yang terpisah dalam kehidupan korporat selama ini, bisa disatukan kembali secara utuh.
Bukan hanya itu, dengan menggabungkan atau mengintegrasikan semua unsur-unsur tersebut di atas yang dipadukan dengan pamahaman dalam Islam dengan pedoman al-Quran dan al-Sunnah, sebagai landasan dalam beraksi dan membangun perusahaan untuk masa yang akan datang. Agar eksstensi daripada perusahaan itu tidak terancam, dan supaya manusia tidak kehilangan jiwa yang suci dengan hati nurani yang sejati memberikan bimbingan dan solusi terhadap masalah-masalah yang muncul dengan berbagai jenis dan bentuknya.
 
  1. Metode Penelitian
Dalam penulisan buku ini, Sanerya Hendrawan dalam menjelaskan makna spiritualitas dalam dunia korporat dan bisnis, atau lebih tepatnya dalam menjelaskan makna spiritual manajemen ini, metode yang digunakan adalah metode filosofis-teoritis dengan pendekatan sufistik.
  
  1. Temuan Hasil Penelitian
Yang dimaksud dengan spiritualisasi perusahaan adalah proses yang dibangun secara bertahap dan berkelanjutan. Dimana proses ini adalah untuk menuju kesadaran yang paling dalam dari eksistensi diri manusia yang disebut dengan kesadaran fitrah. Kesadaran inilah yang kemudian menjadi sumber kearifan baru (wisdom),yang membangkitkan pola pikir dan nilai-nilai kehidupan lurus, serta sikap-sikap dan perilaku luhur di dalam organisasi yang mendorong munculnya inovasi dan meningkatkan produktifitas, melahirkan kinerja unggul, dan membuat hasil-hasil terbaik bagi perusahaan dan masyarakat.
Dengan menggunkan metode filosofis-teoritis, penulis menjelaskan dan mencoba menemukan sesuatu yang baru untuk meningkatkan spiritualitas tersebut dengan pendekatan sufikstik. Dari itu, kemudian muncul yang dinamakan kepemimpinan profetik yaitu sebuah kepemimpinan yang mampu menyatukan spiritualitas, sains dan kepemimpinan dengan selaras, harmonis dan dalam kaidah serta tuntunan Islam yang ada di dalam al-Quran dan al-Sunnah yang menjadikan Rasulullah sebagai taudalan yang utama demi kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat.
Mengapa kemudian Rasulullah harus dijadikan panutan yang utama? Karena Muhammad lah yang pertama mengajarkan pendidikan, keimanan, keteladanan dan pelayanan yang baik kepada semua orang. Yang kemudian Muhammad ini adalah merupakan sosok manusia yang sempurna sepanjang sejarah umat manusia, karena akhlak yang beliau tunjukkan dan keimanan yang tinggi serta aksi kepemimpinan yang sangat bijaksana.
Dari kepemimpinan profetik itu, kemudian lahir misi dan visi perusahaan dan tata kelola perusahaan yang selaras dalam perspektif Iman, Islam, dan Ihsan, yakni bukan hanya mencari keuntungan materi semata, melainkan lebih dari pada itu, yaitu keuntungan non materi (spiritual), dengan memelihara alam dan selalu memperhatikan kelestariannya. Karena jika alam ini diabaikan maka eksistensi perusahaan juga akan terancam, sebab tidak ada lagi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan. Dengan memberikan pelayanan yang baik kepada seluruh komponen alam, baik manusia, binatang, dan tumbuhan yang berada di dalam koridor alam semesta.

  1. Sumbangan Pemikiran Penulis
 Bahwa spiritualitas di dunia korporat akan memenuhi tujuan yakni dengan dilandaskan pemikiran itu kepada pegangan umat Islam, yakni al-Quran dan al-Sunnah yang telah memberikan penjelasan dan tuntunan yang sangat mulia untuk diterapkan di dalam dunia korporat, sebab di dalam al-Quran telah dituliskan mengenai konsepi manusia di muka bumi ini. Sedangkan al-Sunnah berfungsi sebagai penjelas dan penuntun kita untuk menjalankan makna yang ada di dalam al-Quran tersebut. Dengan menetapkan figur atau seorang yang dijadikan panutan adalah Rasulullah atau Nabi Muhammad, yang dengan keimanan dan kerendahan hatinya mampu menunjukkan kepemimpinan yang bijaksana pada masa itu.

  1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah bahwa spiritualitas perusahaan itu bukanlah suatu yang muncul secara tiba-tiba, melainkan karena adanya suatu sebab yang memicu gerakan pencarian spiritualitas itu hadir di tengah-tengah kehidupan dunia korporat dan bisnis.
Banyaknya potensi-potensi yang dimiliki oleh manusia yang selama ini seakan hilang dalam kehidupan perusahaan, dalam dewasa ini potensi-potensi itu coba digabungkan kembali dengan berpedoman al-Quran dan al-Sunnah, serta menjadikan Muhammad sebagai sosok panutan yang paling utama dalam menjalankan pemerintahan atau kepemimpinan di dalam urusan berbisnis. Sebab Muhammad adalah seorang figur pemimpin dan pebisnis yang berakhlak mulia. Selain itu Muhammad adalah seorang yang sangat peduli dengan perkembangan umat manusia, hal itu ditunjukkan dengan selalu memelihara kelestarian alam semesta yang menjadi sumber daya bagi manusia untuk melangsungkan kehidupan di muka bumi ini. Tanpa adanya alam, manusia tidak akan bisa bertahan, sebab alam mengandung berbagai unsur yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk kelangsungan hidupnya.
Dengan menjadikan Muhammad sebagai figur panutan, maka yang muncul dalam perusahaan adalah seorang pemimpin yang mampu memberikan bimbingan yang bijaksana di dalam menjalankan visi dan misi perusahaannya. Di samping itu, para pekerja juga akan menjadi pribadi yang berkhlak dan berbudi pekerti yang mulia.