Kamis, 02 Oktober 2014

DEMOKRASI INDONESIA (Bagian III)



D.   PENDIDIKAN DEMOKRASI
Pada bagian awal telah dikemukakan bahwa demokrasi bukan sekedar bentuk pemerintahan  maupun sistem politik. Demokrasi adalah sikap hidup yang  harus  tumbuh  dan  berkembang  dalam  diri  warga  negara,  baik  yang sedang memerintah (penyelenggaran negara) maupun yang tidak sedang memerintah (warga negara biasa). Sikap hidup demokrasi ini pada gilirannya akan menghasilkan  budaya demokrasi.  Sikap  hidup  dan budaya demokrasi diperlukan guna mendukung bentuk pemerintahan maupun sistem politik demokrasi.   Negara   demokrasi   tanpa   adanya   sikap   hidup   dan   budaya demokrasi hanya akan menghasilkan kekacauan dan anarki. Demokrasi paling tidak  mencakup   dua  hal,  yaitu  struktur  dan  kultur  (Zamroni,   2011:5). Sekiranya  diibaratkan  rumah,   rumah demokrasi  membutuhkan  dua  hal, yaitu struktur demokrasi dan kultur demokrasi.

Dewasa  ini  dalam  alam  demokrasi  harus  ditumbuhkan  kesadaran bahwa demokrasi hanya akan tumbuh kuat jika didukung oleh warga-warga yang demokratis,  yakni warga yang memiliki dan menjalankan  sikap hidup demokratis.  Ini artinya  warga  negara  yang  bersikap  dan  berbudaya  hidup demokratis menjadi syarat bagi berjalannya negara demokrasi. Sebagaimana dikatakan  Bahmueller  dalam  Udin  Winataputra  (2001:72  )  bahwa perkembangan demokrasi suatu negara tergantung pada sejumlah faktor yang menentukan, yakni: tingkat perkembangan ekonomi, perasaan akan identitas nasional, pengalaman sejarah dan budaya kewarganegaraan. Budaya kewarganegaraan  mencerminkan  tradisi demokrasi yang ada di masyarakat. Jika di masyarakat tumbuh budaya demokrasi, maka akan sangat mendukung perkembangan demokrasi negara yang bersangkutan.
Oleh karena itu, tradisi atau budaya demokrasi di masyarakat  perlu untuk ditumbuhkembangkan. Menumbuhkembangkan budaya demokrasi tersebut   dapat   dilakukan   melalui   pendidikan   demokrasi.       Pendidikan demokrasi  pada  hakikatnya  adalah  sosialisasi  nilai-nilai  demokrasi  supaya bisa diterima dan dijalankan oleh warganegara. Pendidikan demokrasi secara subtantif menyangkut sosialisasi, diseminasi, aktualisasi dan implementasi sistem, nilai, konsep dan praktik demokrasi melalui pendidikan.
Pendidikan demokrasi bertujuan mempersiapkan warga masyarakat berperilaku dan bertindak demokratis, melalui aktivitas menanamkan pada generasi muda akan pengetahuan, kesadaran dan nilai-nilai demokrasi. Pendidikan demokrasi pada dasarnya membangun kultur demokrasi, yang nantinya  bersama  dengan  struktur  demokrasi  akan  menjadi  fondasi  bagi negara demokrasi. Menurut Zamroni, (2001:17) pengetahuan dan kesadaran akan  nilai  demokrasi  itu  meliputi  tiga  hal.  Pertama,   kesadaran  bahwa demokrasi adalah pola kehidupan yang paling menjamin hak-hak warga masyarakat itu sendiri, demokrasi adalah pilihan terbaik diantara yang buruk tentang  pola  hidup  bernegara.  Kedua,  demokrasi  adalah  sebuah  learning process  yang lama dan tidak sekedar  meniru  dari masyarakat  lain. Ketiga, kelangsungan demokrasi tergantung pada keberhasilan  mentrans-formasikan nilai-nilai   demokrasi   pada   masyarakat.   Lebih   lanjut   dikatakan,   bahwa pendidikan  harus  mampu  melahirkan  manusia-manusia   yang  demokratis. Tanpa manusia yang memegang teguh nilai-nilai demokrasi, masyarakat yang demokratis hanya akan merupakan impian belaka (Zamroni, 2011:39).
Pendidikan demokrasi dalam arti luas dapat dilakukan baik secara informal, formal dan non formal. Secara informal, pendidikan demokrasi bisa dilakukan di lingkungan keluarga yang menumbuhkembangkan nilai-nilai demokrasi.  Secara formal, pendidikan demokrasi dilakukan di sekolah baik dalam   bentuk   intra  dan  ekstrakurikuler.   Sedangkan   secara   non  formal pendidikan demokrasi berlangsung pada kelompok masyarakat, lembaga swadaya, partai politik, pers, dan lain-lain.
Penting  untuk  memberi  perhatian  mengenai  pendidikan  demokrasi formal yakni di sekolah atau lembaga pendidikan lain termasuk pendidikan tinggi.  Hal  ini  dimungkinkan  karena  sekolah  sebagai  lembaga  pendidikan yang  telah  terprogram,   terencana,   teratur  dan  berkesinambungan   dalam rangka mendidik warga termasuk melakukan pendidikan demokrasi.
Hal  yang  sangat  penting  dalam  pendidikan  demokrasi  di  sekolah adalah  mengenai  kurikulum  pendidikan  demokrasi  yang   menyangkut  dua hal:  penataan  dan  isi materi  (Winarno,  2007:  113).  Penataan  menyangkut pemuatan  pendidikan  demokrasi  dalam  suatu  kegiatan  kurikuler,  apakah secara eksplisit dimuat dalam suatu mata pelajaran atau mata kuliah ataukah disisipkan kedalam mata pelajaran umum. Sekarang  ini mata pelajaran dan mata  kuliah  Pendidikan  Kewarganegaraan  (Civic Education)  memuat  misi sebagai pendidikan demokrasi. Mata pelajaran yang lain, yakni Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Studies) juga bertujuan membentuk warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Permendiknas No. 22 Tahun 2006).
Isi materi berkenaan dengan kajian atau bahan apa sajakah yang layak bagi  pendidikan demokrasi. Agar benar-benar berfungsi sebagai pendidikan demokrasi, maka materinya perlu ditekankan pada empat hal, yaitu: asal-usul sejarah demokrasi dan perkembangan demokrasi, sejarah demokrasi di Indonesia, jiwa demokrasi Indonesia berdasar Pancasila dan UUD 1945, dan masa depan demokrasi. Asal-usul demokrasi akan membelajarkan anak mengenai perkembangan  konsep demokrasi dari mulai konsep awal sampai sekarang menjadi konsep global sekarang ini. Materi tentang demokrasi Indonesia  membelajarkan  anak  akan  kelebihan,  kekurangan  serta  bentuk- bentuk ideal demokrasi yang tepat untuk Indonesia. Materi masa depan demokrasi akan membangkitkan kesadaran anak mengenai pentingnya demokrasi serta memahami tantangan demokrasi yang akan muncul di masa depan.