Selasa, 03 Maret 2015

Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi

        Civitas akademika Perguruan Tinggi disebut elit cendikiawan karena dia bertugas sebagai agen pengembang dan pemberdaya masyarakat. Sebagai pengembang dan pemberdaya masyarakat setidaknya mereka harus menguasai dua sayap: Pertama, keahlian dan keterampilan yang dapat menjadikannya sebagai konselor ataupun tempat bertanya masyarakat dalam suatu disiplin ilmu. Kedua, karakter yang dapat membuatnya disukai, dipercaya dan dihargai oleh  masyarakatnya. Artinya perhatian terhadap dua hal ini harus tetap menjadi perhatian dan proritas penting oleh setiap Pergururuan Tinggi.
        Sifat meniru yang idealnya menjadi sifat anak kecil saja ternyata tidak luput juga dari sifat mahasiswa, guru, dosen, dan bahkan seorang guru besar. Kasus plagiasi dan manipulasi karya ilmiah sampai kepada kasus penciplakan ijazah palsu ternyata masih menghiasi media-media di Indonesia.
         Begitupula dengan aksi demonstrasi mahasiswa dan karyawan masih mencerminkan watak masyarakat Indonesia yang kasar, anarkis dan memaksa dalam menyampaikan pendapatnya. Apakah ini telah menjadi karakter baru rakyat Indonesia? tentu tidak!. atau dari manakah munculnya karakter itu? Yang jelas lembaga pendidikan lah yang paling bertanggungjawab dalam masalah moral ini. Sebab kampus telah menjadi rumah baru yang sangat berperan dalam membentuk peserta didiknya. Oleh karena itu, lembaga pendidikan haruslah mampu menciptakan atmosfir akademik yang dapat melahirkan ilmuan-ilmuan yang memiliki jiwa akademis yang baik.
      Sistem pendidikan karakter di Perguruan Tinggi setidaknya dapat ditinjau pada 3 aspek, yaitu: sistem pengajaran di kelas, pelayanan akademik, dan pemberdayaan organisasi mahasiswa intra kampus.
Sistem pengajaran yang menjadi ciri khas Perguruan Tinggi adalah seminar kelas dan kerja kelompok. Penanaman pendidikan karakter pada proses pembelajaran dapat dilakukan dengan pemberian keteladanan dan pembiasaan. Misalnya: Ketika berdiskusi, mahasiswa dan dosen tidak boleh memberikan klaim bahwa pendapatnya yang paling benar dan pendapat orang lain salah. Dalam menanggapi pernyataan seseorang maka haruslah memperhatikan latar belakang dan pola pikir orang yang ditanggapinya. Sementara ketika terjadi perbedaan pendapat maka dahulukanlah etika dan carilah jalan keluar melalui titik persamaan. sikap disiplin, keterbukaan, kejelasan peraturan perkuliahan dan budaya ilmiah juga harus dijadikan sebagai proritas pendidikan karakter.
        Dalam aspek pelayanan akademik maka budaya karakter harus dijadikan sebagai indikator peningkatan mutu pelayanan akademik. Karakter yang dapat dikembangkan dalam aspek pelayanan akademik adalah: karakter kesantunan, kejelasan, ketepatan, dan keterbukaan dalam memberikan pelayanan.
Organisasi mahasiswa intra kampus dijadikan sebagai wadah pendidikan dan pelatihan kepemimpinan dan manajemen administrasi administrasi. Sistem pelaksanaan pendidikan karaker pada organisasi dapat dimulai dari pembelajaran sistem administrasi yang baik, penanaman jiwa kepemimpinan dan tim kerja. Untuk mengefektifkan dan mengoptimalisasi pembelajaran administrasi dan kepemimpinan organisasi mahasiswa maka peran pihak kampus sebagai auditor mutu administrasi dan pelayanan organisasi mahasiswa menjadi sangat penting, bila perlu dibentuk suatu unit khusus yang bertugas sebagai pembimbing, mediator dan auditor organisasi mahasiswa intra kampus secara kontiniu dan konsisten, dan bukan cuma pada upgrading dan rapat tahunan saja.
        Penanaman nilai-nilai karakter pada tiga kawasan tersebut harus didukung oleh penegakan peraturan yang aplikatif disamping pemberian suri tauladan dan jalinan komunikasi yang baik antara seluruh civitas akademika.