Makalah Studi Alquran

PENGANTAR PENULIS
بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, sehingga pada kesempatan ini pemakalah dapat menyelesaikan makalah ini. Kumpulan makalah yang Ulum Alquran ini penulis susun sebaik mungkin sehingga diharapkan dapat menambahwawan kita semua dalam bidang mata kuliah Studi Alquran.
Dalam penyusunan tulisan ini penulis tidak terlepas dari berbagai kendala dan keterbatasan ilmu dan referensi. Oleh karena itu penulis masih mengharapkan bimbingan dan saran-saran dari berbagai pihak sehingga kajian penulis terhadap bahasan Studi Alquran lebih baik lagi.
Akhir kata, penulis berharap semoga publikasi materi Studi Quran ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca pada umumnya.

Malang, 1 Januari 2011
Penulis,


                                                                                           Hamdan Husein Batubara



PENGERTIAN ULUM ALQURAN 
SERTA HUBUNGANNYA DENGAN ILMU TAFSIR DAN USUL TAFSIR
Oleh : Hamdan Husein Batubara

A.    Pendahuluan
Seorang muslim yang tidak paham Alquran adalah sebuah bencana besar. Sebab bagaimana kita yakin dapat mengamalkan  Islam secara utuh bila memahami Alquran saja kita tidak mampu. Alquran adalah mukjizat sepanjang masa, memberikan kesegaran pada setiap sendi-sendi keimanan muslim yang dapat memahami dan mengamalkan ajarannya. Sebaliknya bagi mereka yang meninggalkannya atau membiarkannya berdebu di dalam rak-rak lemari buku  yang lama, Alquran hanya laksana buku usang yang tidak bermakna, atau hanya menyimpan  kenangan lama di waktu bulan ramadhan tiba. Padahal di samping sebagai pedoman hidup manusia, Alquran juga adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin. Di dalamnya terkandung dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal, baik aqidah, ibadah, etika, mu’amalah dan sebagainya.
Pada masa dewasa ini fenomena masyarakat muslim yang tidak dapat memahami kandungan Alquran telah memicu semangat kaum orientalis untuk semakin giat untuk menghancurkan Islam melalui penyelewengan maksud-maksud ayat Alquran. Kajian orientalis terhadap Alquran tidak sebatas mempertanyakan otentisitasnya. Isu klasik yang selalu diangkat adalah soal pengaruh Yahudi, Kristian, Zoroaster, dan sebagainya terhadap Islam maupun isi kandungan Alquran. Namun walau bagaimanapun, segala upaya mereka adalah masih ibarat buih, muncul dan hilang begitu saja, tanpa pernah berhasil merubah keyakinan dan penghormatan mayoritas Umat Islam terhadap kitab suci Alquran.
Untuk memahami pengetahuan yang terkandung di dalam Alquran tentunya memerlukan seperangkat ilmu yang dapat dijadikan alat untuk membahas Alquran, oleh karena itu para cendikiawan muslim sejak dulu telah melakukan pengkajian terhadap berbagai ilmu-ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan Alquran. Selanjutnya pada abad ke VI hijiriyah disiplin ilmu ini mulai dikenal dengan sebutan ‘Ulum Alquran’.[1]
Ulum Alquran  dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Alquran. Oleh karena demikian, ruang lingkup Ulum Alquran yang diklasifikasi dan dipetakan para cendikiawan muslim masih terus berkembang seiring dengan semangat manusia untuk menggali ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Alquran tersebut.
Perkembangan cabang Ulum Alquran yang demikian kompleks ternyata telah menimbulkan sebuah kegalauan dikalangan orang awam dalam mengidentifikasi hubungan Ulum Alquran dengan displin ilmu lain yang berhubungan dengannya, seperti ilmu tafsir dan usul al-tafsir. Oleh karena itu masih perlu pengkajian tentang defenisi Ulum Alquran, Ilmu Tafsir, dan Usul At-Tafsir dengan melihat sisi persamaan dan perbedaannya. Dengan demikian, makalah yang dihadapan saudara ini adalah suatu upaya pengkajian pengertian Ulum Alquran, Ilmu Tafsir, dan Usul Tafsir serta melihat sisi persamaan dan perbedaannya.
B.     Pengertian Ulum Alquran
Ungkapan Ulum Alquran telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu dalam kajian Islam. Dari segi gramatikal kalimatnya Ulum Alquran adalah  kalimat idhofah, yaitu terdiri dari kata ulum (عُلُوْمْ) dan Alquran ( القُرْاَنْ ). Untuk mengungkap pengertian ulum Alquran pemakalah akan terlebih dahulu membahas pengertian dua kata tersebut secara terpisah, baik dari sisi etimologi dan terminologinya, kemudian dilanjutkan dengan pengertian ulum Alquran secara utuh.
1.        Pengertian ‘Ulum Secara Etimologi
Kata ‘ulum’ dalam bahasa arab adalah bentuk jamak dari kata عِلْمُ  (‘ilm), ia merupakan bentuk masdar dari kata (( عَلِمَ-  يَعْلَمُ –  عِلْمٌ جمعه : عُلُوْمٌ [2]  Secara etimologi arti kata عِلْمُ (ilmu) adalah semakna dengan kata والمعرفة الفهم (pemahaman dan pengetahuan), dan pada pendapat yang lain kata ilmu juga diartikan dengan kata الجزم (yang pasti), artinya suatu kepastian yang dapat diterima akal penjelasannya.[3] Di dalam Ensiklopedi Islam dijelaskan bahwa kata ilmu adalah merupakan lawan kata dari jahl yang berati ketidak tahuan, atau kebodohan. Kata ilmu juga biasa disepadankan dengan kata bahasa arab lainnya, yaitu ma’rifah (pengetahuan), fiqh (pemahaman), hikmah (kebijaksanaan), dan syu’ur (perasaan). Ma’rifah adalah padanan kata yang paling sering digunakan.[4]
Selanjutnya M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa  setiap kosa kata bahasa Arab yang menggunakan kata yang tersusun dari huruf-huruf ain, lam, dan mim dalam berbagai bentuknya adalah berarti sesuatu yang sedemikian jelas sehingga tidak menimbulkan keraguan. [5]
Berdasarkan pengertian ilmu tersebut maka dapat ditarik sebuah pengertian bahwa arti kata ‘ulum (sebagai jamak dari kata ilmu) secara etimologi adalah berarti kumpulan dari beberapa ilmu.
2.        Pengertian Ilmu Secara Terminologi
Pengertian ilmu secara terminologi cukup beragam sekali, sebab pengertian tersebut selalu diwarnai oleh pendekatan masing-masing tokoh, yaitu sebagai berikut:
a.       M. Quraishy Shihab selaku  ulama   tafsir  mendefenisikan  ilmu  dengan اِدْرَاكُ الشَّيْءِ بِحَقِيْقَتِهِ  (mengetahui yang sebenarnya). [6]

b.      Menurut  para  hukama’  ilmu adalah:
 يريدون به صورة الشيء الحاصلة فى العقل او تعلق النفس با الشيء على جهة انكشافه[7]

Artinya:
Suatu yang dengannya memberikan gambaran terhadap sesuatu yang dihasilkan akal atau ketergantungan diri dengan sesuatu berdasarkan ungkapan yang jelas.

c.       Para   ahli    kalam   memberi     pengertian     ilmu      dengan:
 بانه صفة يتجلى بها الامر لمن قامت به [8]
Artinya:
Suatu yang dengannya (ilmu) seseorang menjadi memiliki sifat yang jelas dalam menghadapi suatu perkara.

Ketika ilmu diartikan dengan pengetahuan, maka pengetahuan memiliki dua jenis, yaitu pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah. Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, panca indra, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan objek, cara, dan kegunaannya. Dalam bahasa inggris jenis pengetahuan ini disebut knowledge. Selanjutnya Pengetahuan ilmiah adalah keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan objek yang ditelaah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah harus memperhatikan objek ontologis, landasan epistomologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Jenis pengetahuan ini dalam bahasa inggris disebut science.[9] Maka adapun ilmu yang masuk dalam kategori pengetahuan ini adalah pengetahuan ilmiah. Berdasarkan beberapa pengertian ilmu tersebut pemakalah memahami bahwa eksistensi ilmu adalah pengetahuan utuh terhadap suatu objek yang dapat dibuktikan kebenarannya.
Selanjutnya pengertian ilmu juga dapat ditinjau dari penjelasan ayat Alquran, misalnya sebagaimana penjelasan firman Allah Swt. dalam Surah An-Naml: 15-16.
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ (١٥) وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ (١٦)
Artinya:
Dan Sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang melebihkan Kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman". Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan Dia berkata: "Hai manusia, Kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan Kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata".

Berdasarkan penjelasan ayat di atas, pemakalah memahami bahwa arti ilmu yang diwariskan Allah kepada nabi Daud dan Sulaiman ada dua bagian. Yaitu ilmu tentang pengelolaan Alam (sunnatullah) sebagai investasi untuk menjalankan kenabian dan roda pemerintahan yang dipimpinnya, dan pengetahuan tentang kalamullah, yaitu pengetahuan tentang kitab Zabur.
Dengan demikian sebuah ilmu dalam Islam harus dapat dibuktikan kebenarannya melalui standarisasi Islam, sehingga proses melahirkan dan menerapkan ilmu tersebut sarat dengan nilai-nilai keIslaman. Oleh karena hakikat ilmu dalam konsep Islam adalah berasal dari Allah Swt. maka proses penelusuran dan penggunaan ilmu tersebut wajib mematuhi nilai-nilai Islam atau ketetapan yang telah diatur Allah Swt. Dalam konteks sebagai disiplin ilmu, Abu Syahbah menjelaskan bahwa suatu ilmu juga berarti sejumlah materi pembahasan yang dibatasi kesatuan tema atau tujuan. Maksudnya sebuah ilmu itu juga harus memiliki kesatuan kawasan garapan pembahasan yang jelas dan tujuan tertentu.[10]
Dengan demikian, pemakalah menyimpulkan bahwa pengertian kata ulum sebagai jamak dari kata ilmu adalah berarti kumpulan dari sejumlah pengetahuan ilmiah yang membahas sejumlah materi yang dibatasi kesatuan tema atau tujuan.
3.        Pengertian Kata Alquran Secara Etimologi
Alquran secara etimologi mengeandung makna yang berbeda-beda di kalangan para ulama, yaitu sebagai berikut :
a.         Al-Lihyani dan kawan-kawan mengatakan Alquran berasal dari kata qara-a (membaca)  adalah merujuk kepada firman Allah Swt. Pada surat al-Qiyamah (75) ayat 17-18:
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ (١٧) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (١٨)
Artinya:
Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.

b.        Al-Zujaj menjelaskan bahwa kata Alquran merupakan kata sifat yang berasal dari kata القرأ (‘al-qar’) yang artinya menghimpun.  Kata sifat ini kemudian dijadikan nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw. Makna tersebut menunjukkan bahwa kitab Alquran menghimpun surat, ayat, kisah, perintah, larangan dan  intisari kitab-kitab suci sebelumnya.
c.         Al-Asy’ari mengatakan bahwa Alquran diambil dari kata kerja ‘qarana’ (menyertakan) karena Alquran menyertakan surat, ayat, dan huruf-huruf.
d.        Al-farra’ menjelaskan bahwa kata Alquran diambil dari kata dasar ‘qara’in’ (penguat) karena Alquran terdiri dari ayat-ayat yang saling menguatkan, dan terdapat kemiripan antara satu ayat dengan ayat-ayat lainnya. [11]
Berdasarkan pendekatan etimologi tersebut pemakalah menyimpulkan bahwa Alquran memiliki beberapa kriteria yang beragam, seperti kitab yang menjadi bacaan, kitab yang menghimpun berbagai hal, kitab yang mengandung berbagai kebaikan, dan kitab yang menguatkan kebenaran. Artinya semua makna nama-nama di atas adalah memberikan pesan positif terhadap eksistensi dan peran Alquran di tengah-tengah kehidupan manusia.
Dalam teori yang lain, istilah Alquran dinyatakan sebagai nama khusus yang ditujukan kepada kumpulan wahyu Allah SWT. yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. Istilah Alquran ini bukan berasal dari pecahan kata dalam bahasa Arab ialah nama kitab-kitab seperti Taurat, Zabur, dan Injil. Semua istilah ini adalah khusus untuk nama kumpulan waahyu Allah SWT yang diturunkan kepada nabinya masing-masing.[12]
4.        Pengertian Kata Alquran Secara Terminologi
Pengertian Alquran secara terminologi telah mendapat komentar dari berbagai ulama. Pendapat tersebut antara lain sebagaimana berikut:
a.         Menurut Manna’ Al-Qaththan:
كَلَامُ اللهِ  الْمُنَزّلُ عَلَى مُحَمّدٍ  ص .م. المُتَعَبّدُ بِتِلَاوَتِهِ.


Artinya:
“Kitab Alah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. dan membacanya memperoleh pahala”.[13]

Kalimat ‘membacanya memperoleh pahala’ pada pengertian di atas telah memberikan  pada sebahagian orang bahwa hanya Alquran yang berpahal membacanya. Namun menurut pemakalah sendiri persepsi demikian adalah keliru, sebab kata-kata lain juga banyak yang bernilai pahala membacanya, seperti hadist, zikir dan lain-lain. Menurut hemat pemakalah kata-kata tersebut di dalam defenisi Alquran adalah bermaksud untuk menunjukkan keistimewaan Alquran al-Karim dibanding bacaan-bacaan yang lain.
Menurut Abu Syahbah:
هُوَ كِتَابُ اللهِ عَزّ وَجَلّ المُنَزّلُ عَلىَ خَاتَمِ أَنْبِيَائِهِ مُحَمّدٍ بِلَفْظِهِ وَمَعْنَاهُ، الْمَنْقُوْلُ بِالتّوَاتُرِ الْمُفِيْدُ لِلْقَطْعِ وَالْيَقِيْنِ الْمَكْتُوْبُ فِى الْمَصَاحِفِ مِنْ اَوّلِ سُوْرَةِ الفَاتِحَةِ اِلىَ آخِرِ سُوْرَةِ النّاسِ. 
Artinya:
“Kitab Allah yang diturunkan-baik lafadzh maupun maknanya- kepada nabi terakhir, Muhammad Saw., yang diriwayatkan secara mutawatir, yakni dengan penuh kepastian dan keyakinan (akan kesesuaiannya dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad), yang ditulis pada mushaf mulai dari awal surat al-Fatihah sampai akhir surat An-Nas.[14]

Defenisi di atas sesuai dengan firman Allah Swt. yang berbunyi:
 وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدىً وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (النحل: 89(
Artinya:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” (An Nahl: bagian dari ayat 89)




5.        Pengertian Ulum Alquran Secara Etimologi
Sebagaimana dijelaskan di atas ungkapan Ulum Alquran telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu dalam kajian Islam. Secara bahasa ungkapan ini berarti ilmu-ilmu Alquran. Oleh karena itu di Indonesia disiplin ilmu ini kadang-kadang disebut Ulum Alquran atau ulumul Qur’an dan kadang-kadang disebut ilmu-ilmu Alquran. Dengan demikian kata ulum yang disandarkan kepada kata Alquran tersebut telah memberikan pengertian bahwa Ulum Alquran adalah kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Alquran, baik dari segi keberadaannya sebagai Alquran maupun dari segi pemahamannya terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya.[15]
Dari sisi gramatikalnya, pengertian ulum al-Quran dapat dipahami melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan idhafi dan maknawi. Pengertian Ulum Alquran secara idhafi yakni dalam bentuk idhofi ghoiru mahdhah maka makna lafadh “Ulumyang disandarkan kepada lafadzh “Alquran” adalah berarti semua Ilmu yang berhubungan dengan Alquran karena lafadh “Ulum” adalah jamak yang berarti banyak, sehingga mencakup semua ilmu yang membahas Alquran dari berbagai macam segi. Antara lain, ilmu tafsir, ilmu qira’at, ilmu rasm ustmany, ilmu gharib lafadzh, majaz qur’an, dan lain-lain. Selanjutnya definisi Ulum Alquran secara maknawi adalah segala sesuatu yang di bahas di dalamnya berkaitan dengan al-Quran, seperti menurut Abu Bakar al-‘Arabi ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Alquran mencapai 77.450 bagian.[16]  Hitungan ini diperoleh dari hasil perkalian jumlah kalimat Alquran dengan empat, karena masing-masing kalimat Alquran mempunyai makna zhahir, batin, hadd, dan mathla’. Jumlah tersebut akan semakin bertambah jika melihat urutan kalimat di dalam Alquran serta hubungan urutan itu. Jika sisi itu yang dilihat maka ruang lingkup/kawasan pembahasan  ‘Ulum Alquran tidak  akan  dapat  terhitung lagi ( والله اعلام ).[17]

6.        Pengertian Ulum Alquran Secara Terminologi
Selanjutnya pengertian Ulum Alquran secara terminologi menurut para ulama adalah sebagai berikut:
a.       Menurut Muhammad hasby Ash-Shiddiqy:   
مَبأَحِثُ تَتَعَلّقُ بِالْقُرْأنِ الْكَرِيْمِ مِنْ  نَاحِيَةِ نُزُوْلِهِ وَتَرْتِيِبِهِ وَجَمْعِهِ وَكِتَابَتِهِ وَقِرَاءَتِهِ وَتَفْسِيْرِهِ وَاِعْجَازِهِ وَنَاسِخِهِ وَمَنْسُوْخِهِ وَدَفْعِ الشُّبَهِ وَنَحْوِ ذَالِكَ .
Artinya:
“Beberapa pemahaman yang berhubungan dengan Al Qur’an Al-Karim, dari segi turunnya, urutan penulisan, kodifikasi, cara membaca, kemukjizatan, nasikh, mansukh, dan penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, serta hal-hal lain”. [18]

b.      Menurut Abu Syahbah sebagaimana yang dikutip oleh Rosihon Anwar merumuskan defenisi Ulumul Qur’an adalah :
 عِلْمٌ ذُوْ مَبَا حِثَ تتعلّقُ باِالقُرْآنِ الْكَرِيْمِ مِنْ حَيْثُ نُزُوْلِهِ وَتَرْتِيْبِهِ وَكِتَابَتِهِ وَجَمْعِهِ وَقِرَاءَ تِهِ وَتِفْسِيْرِهِ وَاِعْجَازِهِ وَنَاسِخِهِ وَمَنْسُوْخِهِ وَمُتَشَابِهِهِ إِلىَ غَيْرِ ذَالِكَ مِنْ المَبَاحِثِ الّتِى  تُذْكَرُ فِي هَذَا الْعِلْمِ.
Artinya:
“Beberapa pemahaman yang berhubungan dengan Al Qur’an Al-Karim, dari segi turunnya, urutan penulisan, kodifikasi, cara membaca, kemukjizatan, nasikh, mansukh, dan penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, serta hal-hal lain”.[19]

Walaupun dengan redaksi yang sedikit berbeda, defenisi-defenisi di atas mempunyai maksud yang sama. Yaitu menjelaskan Ulum Alquran sebagai kumpulan sejumlah pembahasan yang pada mulanya merupakan ilmu-ilmu yang berdiri sendiri, ilmu-ilmu ini tidak keluar dari ilmu-ilmu agama dan bahasa, karena masing-masing menampilkan sejumlah aspek pembahasan yang dianggapnya penting untuk menjelaskan kandungan-kandungan Alquran dari berbagai aspeknya.[20]
Ahmad syadali dan Ahmad Rofi’i  menjelaskan bahwa pengertian Ulum Alquran di atas mengandung dua substansi pokok, yaitu :
1.      Ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah pembahasan
2.      Pembahasan-pembahasan ini mempunyai hubungan dengan Alquran, baik dari segi aspek keberadaannya sebagai Alquran maupun aspek pemahaman kandungannya sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi manusia.
Selanjutnya kata مَباحِثَ yang merupakan bentuk jamak yang tidak berhingga (sigah muntaha al-jumu’) pada defenisi pertama adalah menegaskan bahwa pembahasan Ulum Alquran pada pengertian di atas tidak terbatas pada aspek-aspek yang ditampilkan saja, melainkan mencakup pembahasan tentang penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan-keraguan terhadap Alquran.[21] Selanjutnya keluasan kawasan garapan alulum Alquran juga diperkuat oleh kata وَنَحْوِ ذَالِكَ yang berarti menunjukan pembahasan apapun yang tidak dapat disebutkan jumlahnya, sejauh ilmu tersebut menyoroti aspek-aspek al Qurân termasuk ‘ulum al -Qurân.[22] Dengan demikian dapat dipahami bahwa ulum Alquran adalah suatu nama disiplin ilmu bagi sekumpulan ilmu-ilmu yang ada kaitannya dengan Al Qur’an.

C.    Pengertian Ilmu Tafsir
Sebagaimana halnya Ulum Alquran, Ilmu Tafsir juga merupakan kalimat gabungan yang terdiri dari kata ilmu dan tafsir. Pengertian ilmu adalah sama dengan yang telah penyusun sampaikan di awal pembahasan Ulum Alquran, hanya saja "ilmu" disini merupakan bentuk tunggal dari kata ‘ulum’ yang artinya satu ilmu. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Abu Syahbah telah mengartikan ilmu dengan suatu pengetahuan ilmiah yang memiliki sebuah kesatuan tema dan tujuan tertentu.[23]
Selanjutnya dalam kajian berikut, pemakalah akan menguraikan pengertian tafsir dengan pendekatan etimologi dan terminologi.


1.      Pengertian Ilmu Tafsir Secara Etimologi
Kata tafsir (تَفْسِيْرْ) adalah bentuk masdar dari kata فَسّرَ (fassara) yang secara etimologi berarti اَلْكَشْفُ وَاْلِاظْهَارُ )mengungkap dan menampakkan).[24] Kata tafsir juga berarti menerangkan sesuatu yang masih samar serta menyingkap sesuatu yang tertutup. Di dalam kaitannya dengan kata, tafsir berarti menjelaskan makna kata yang sulit dipahami sehingga kata tersebut dapat dipahami maknanya.[25] Dalam pendapat yang lain kata tafsir ini diambil dari kata tafsiroh yang berarti suatu perkakas yang dipergunakan tabib untuk mengetahui penyakit orang lain.[26]
Dengan demikian, secara etimologis kata tafsir adalah digunakan untuk menunjukkan maksud (menjelaskan, mengungkap, menerangkan) suatu masalah yang masih kabur, samar dan belum jelas. Pengertian etimologi kata tafsir tersebut didukung oleh firman Allah Swt. yang berbunyi :
وَلا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا (٣٣)

Artinya:
“Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya (QS. Al-Furqan/25: 33).

Selanjutnya pengertian tafsir secara etimologi tersebut juga diperkuat oleh pendapat Nashr Hamid Abu Zayd yang menjelaskan bahwa materi huruf fa’, sin, ra’ ( ف- س- ر ) adalah berarti menyingkap sesuatu yang abstrak dan batin. Selanjutnya bentuk kata taf’il dari materi huruf  fa’, sin, ra’ (yaitu kata تَفْسِيْرْ ) adalah berarti menyingkap dan menjelaskan makna yang samar atau batin.[27]
Berdasarkan pengertian etimologis tersebut dapat dipahami bahwa suatu kata tidak dapat dikatakan telah mengalami proses penafsiran jika tidak terdiri dari kata yang masih samar dan belum jelas maknanya. Jika ada orang yang mendengar suatu ucapan yang memiliki makna zhahir yang secara spontan dapat dipahami kemudian memberitahukan makna dari ucapan tersebut, maka makna yang disampaikannya itu bukanlah penafsiran. Hal itu karena pada hakikatnya ia tidak mengungkapkan atau menjelaskan sesuatu yang sebelumnya masih samar. Sesuatu dapat dikatakan telah menagalami suatu proses penafsiran jika seseorang telah berusaha dan bersungguh-sungguh untuk mengungkap dan menjelaskan ucapan yang masih terlihat samar atau rancu.[28] Contohnya adalah ketika seseorang berkata kepada anaknya, pergilah kamu ke laut setiap hari, atau perkataannya, pergilah kamu ke laut setiap hari, dan perhatikanlah ucapan yang keluar darinya.”
Perkataan yang pertama kita kategorikan sebagai penjelasan yang sederhana karena dalam ucapan tersebut tidak ditemukan konsep lain selain satu konsep yang langsung dapat diterima oleh akal logis pemikiran kita, yaitu konsep mengenai adanya lautan yang berisikan air dan permintaan dari seorang ayah kepada anaknya untuk pergi ke laut tersebut setiap hari.
Adapun perkataan yang kedua, kita kategorikan sebagai penjelasan yang lebih rumit karena terdapat kesamaran di dalamnya. Pada ucapan yang kedua tersebut ada kesamaan dengan ucapan pertama, yang secara langsung dapat kita menangkap lafazh laut sebagai kumpulan air, dan juga permintaan seorang ayah kepada anaknya untuk pergi kelaut setiap hari. Akan tetapi selain itu ada ucapan tambahan yang berisikan perintah seorang ayah kepada anaknya untuk memperhatikan apa yang diucapkan oleh laut tersebut. Ketika mendengar tambahan ucapan ini, maka akal kita akan menangkap bahwa yang dimaksud laut pada ucapan tersebut bukanlah ‘kumpulan air’ tetapi adalah ‘kumpulan ilmu pengetahuan’ karena, bagaimanapun, laut yang berarti ‘kumpulan air tidaklah mungkin dikaitkan dengan perintah untuk mendengar dan mempelajari ucapannya karena laut tidak mungkin dapat berbicara tetapi lebih bermakna mendengarkan suara ombak yang ditimbulkannya.
Berdasarkan uraian di atas pemakalah menyimpulkan bahwa tafsir secara etimologi itu berarti menjelaskan, menyingkap, dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak atau menjelaskan makna yang rumit.
2.      Pengertian Ilmu Tafsir Secara Terminologi
Pengertian ilmu tafsir secara terminologi telah mendapat  perhatian yang banyak dari berbagai kalangan ulama. Hal tersebut tentunya memberikan berbagai macam redaksi yang berbeda-beda tentang pengertian ilmu tafsir, sebab suatu pengertian biasanya  selalu diwarnai oleh sudut pandang, latar belakang, dan profesi ulama yang mengungkapkannya. Adapun sebahagian pengertian ilmu tafsir menurut para ulama adalah sebagai berikut:
a.       Menurut al-Kilabi sebagaimana dikutip M. Hasbi Ash-Shiddieqqy:
اَلتّفْسِيْرُ شَرْحُ اْلقُرْآنِ وَبَيَانُ مَعْنَاهُ وَاْلاِفْصَاحُ بِمَا يَقْضِيْهِ بِنَصّهِ اَوْ اِشَارَتِهِ اَوْ نَحْوًا
Artinya:
“Tafsir adalah menjelaskan Al-Quran, menerangkan maknanya dan menjelaskan apa yang di kehendaki dengan nashnya atau dengan isyaratnya atau tujuannya. [29]
b.      Menurut Abu Hayyan dalam kutipan Adz-Dzahabi:
اَلتّفْسِيْرُ فِى اْلاِصْطِلَاحِ عِلْمٌ يُبْحَثُ عَنْ كَيْفِيّةِ النّطْقِ بِاَلْفَاظِ اْلقُرْآنِ وَمدْلُوْلَاتِهَا وَاَحْكَامِهَا اْلِافْرَدِيَةِ وَالتّرْكِيْبِيّةِ وَمَعَانِيْهَا الّتِى تَحْمِلُ عَلَيْهَا حَالَةَ التّرْكِيْبِ
Artinya:
Tafsir adalah ilmu mengenai cara pengucapan lafadzh-lafadzh Alquran serta cara mengungkapkan petunjuk, kandungan-kandungan hukum, dan makna-makna yang terkandung di dalamnya.[30]

c.       Az-Zarkasyi berpendapat:
عِلْمٌ يُفهَمُ بِهِ كِتَابُ اللهِ الْمُنَزَّلُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ ص. م. وَبَيَانٌ مَعَانِيْهِ وَاسْتِخْرَاجُ أَحْكَامِه وَحِكَمِهِ .
Artinya:
Ilmu tafsir adalah ilmu untuk memahami kitabullah yang diturunkan kepada Muhammad, menjelaskan makna-maknanya serta mengeluarkan hukum dan hikmahnya.[31]

Berdasarkan beberapa defenisi di atas dapat dipahami bahwa ilmu tafsir menurut istilah adalah ilmu untuk mengetahui-memahami maksud Alquran, menjelaskan maknanya, megeluarkan hukum dan hikmahnya, yang disandarkan kepada ilmu bahasa dan sastra, usul fiqh, ilmu qiraa’at, asbab nuzul, dan nasakh-mansukh. Sementara ulama lain yang mendefinisikannya dengan lebih ringkas atau lebih panjang tetapi tetap mencakup point-point tersebut.
Menurut Hadi Permono, perbedaan antara ilmu tafsir dengan tafsir itu sendiri adalah bahwa ilmu tafsir bersifat teoritis sementara tafsir bersifat praktis, artinya ilmu tafsir merupakan alat bagi tafsir.[32] Dengan demikian pemakalah menyimpulkan bahwa ilmu tafsir adalah ilmu yang bekerja untuk mengetahui arti dan maksud dari ayat-ayat al Qur’an. Ilmu tafsir merupakan bagian pengkajian al-Quran dilihat dari sisi bahwa ia merupakan kalam (ucapan) yang memiliki makna tertentu, kemudian ilmu tafsir menjelaskan lebih lanjut arti dari makna lafadz, dan memberikan rincian akan tanda-tanda dan maksud dari lafadz tersebut. Oleh karena itu, ilmu tafsir merupakan ilmu ulum al-Quran yang paling penting dan paling asa dari ilmu Ulum Alquran lainya. Pada waktu Nabi Muhammad masih hidup, beliau sendiri yang menjelaskan apa maksud dari ayat Al Qur’an, maka hadis Nabi disebut sebagai penjelasan dari al Qur’an. Setelah Nabi wafat, para sahabat berusaha menerangkan maksud al Qur’an bersumber dari pemahaman mereka terhadap keterangan nabi dan dari suasana kebatinan saat itu. Pada masa dimana generasi sahabat sudah tidak ada yang hidup, maka pemahaman al Qur’an dilakukan oleh para ulama dengan interpretasi. Ketika itulah tafsir tersusun sebagai ilmu.[33]
D.    Pengertian Usul Tafsir
Usul tafsir terdiri dari dua kata yaitu al usul dan at tafsir. Al-usul adalah bentuk jamak dari kata al-ashlu (اَلْاَصْلُ). Al-ashlu secara bahasa bermakna bagian paling bawah  dari sesuatu, bagian dasar dari sesuatu dan apa yang dibangun diatasnya sesuatu yang lain. Sebagian ahli bahasa yang lain mengatakan bahwa makna al-ashlu adalah apa yang selainnya membutuhkannya dan tidaklah ia membutuhkan kepada selainnya. Kata yang mendekati makna al-ashlu adalah al-Qô'idah yang bermakna pondasi yang dibangun di atasnya suatu rumah.[34] Dengan demikian pemakalah memahami bahwa arti usul selaku jamak dari al-ashlu adalah dasar-dasar atau rel yang harus diikuti.
Sebagaimana telah pemakalah jelaskan di atas, tafsir secara etimologi adalah berarti penjelasan atau penyingkapan makna yang samar atau tersembunyi. Selanjutnya at-tafsir secara terminologi adalah bermakna penjelasan tentang maksud kalam Allah yang merupakan mu'jizat yang diturunkan kepada Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam.
Selanjutnya pengertian Usul Tafsir secara terminologi adalah suatu cabang dari ulumul Qur’an yang lebih terfokus pada membahas ilmu-ilmu dan kaidah-kaidah yang diperlukan dan harus diketahui untuk menafsirkan Alquran. Usul tafsir ini adalah bagian dari Ulum Alquran yang paling penting karena sangat erat kaitannya dengan istinbath (penyimpulan hukum) dalam fikih dan penetapan i’tikad (tauhid, akidah) yang benar.[35] Dengan demikian Usul Tafsir tersebut adalah ilmu tentang pembahasan aturan main atau kaidah-kaidah yang diperlukan dalam menafsirkan Alquran.
Selanjutnya di dalam wikipedia online Istilah Ulum Alquran juga telah disinonimkan dengan Usul Tafsir.[36] Hal demikian menurut pemakalah karena ulum Alquran dan Usul Tafsir adalah dua disiplin ilmu yang secara bersama mengkaji berbagai ilmu pengetahuan tentang Alquran yang berkaitan dengan berbagai ilmu yang harus dikuasai seseorang untuk memahami atau menafsirkan Alquran.
E.     Perbedaan dan Persamaan Antara Ulum Alquran Dengan Ilmu Tafsir dan Usul Tafsir
Dari hasil kajian pemakalah terhadap pengertian Ulum Alquran, Ilmu Tafsir dan Usul Tafsir, pemakalah melihat bahwa Ulum Alquran dengan Ilmu Tafsir dan Usul Tafsir memiliki perbedaan dan persamaan pada berbagai aspek. Antara lain sebagaimana terdapat pada tabel berikut:
Tabel. 1
Perbedaan Ulum Alquran dengan
Ilmu tafsir dan Usul Tafsir

No.
Aspek
Ulum Alquran
Ilmu Tafsir
Usul Tafsir
1.
Tujuan
Memahami kandungan Alquran dari berbagai aspek.
Mengungkap tafsir/maksud ayat Alquran yang samar.
Mengetahui panduan/ kaidah, dan teknik menafsir. 
2.
Manfaat
Memahami Alquran secara utuh dari berbagai aspeknya.
Memahami lafadzh2 Alquran dan makna ayat  yang sukar.
Terhindar dr kesalahan dalam menafsirkan Alquran.
3.
Kawasan
Meliputi berbagai ilmu yang berhubungan dengan Alquran
Ilmu yang berkaitan dengan pengungkapan makna lafadz2 Alquran utk memperoleh tafsir. 
Ilmu yang berkaitan dengan metodologi kaidah-kaidah yang diperlukan mufassir.
4.
Objek
Alquran secara utuh
Lebih khusus pada makna lafadzh Ayat-ayat Alquran yang sulit.
Metodologi & kaidah-kaidah yang diperlukan mufassir.

Tabel. 2.
Persamaan Ulum Alquran Dengan
Ilmu Tafsir dan Usul Tafsir

No.
Persamaan Ulum Alquran Dengan Ilmu Tafsir dan Usul Tafsir
1.

2.


3.
Ulum Alquran, Ilmu Tafsir dan Ulum Alquran adalah tiga disiplin ilmu yang berusaha menjelaskan kandungan Alquran sesuai dengan maksud Allah Swt.
Ulum Alquran, Ilmu Tafsir, dan Usul Tafsir adalah tiga disiplin ilmu yang saling melengkapi satu sama lain untuk mengungkap maksud ayat atau kandungan hukum yang terdapat di dalam Alquran.
Ulum Alquran, Ilmu Tafsir, dan Usul Tafsir adalah tiga disiplin ilmu yang berusaha untuk menggali dan mengembangkan ilmu-ilmu yang terkandung di dalam Alquran.
Pada tabel di atas dapat terlihat bagaimana keuniversalan kawasan pembasahan Ulum Alquran telah mencakup kawasan daripada Ilmu Tafsir dan terlebih lagi Usul Tafsir, sebab sebagaimana Dr. Aunur Rofiq berkata: Ulum Alquran adalah bagaikan suatu payung ilmu yang memiliki cabang sekaligus menaungi cabang-cabangnya yang antara lain adalah Ilmu Tafsir selaku suatu bagian dari komponen Ulum Alquran yang secara khusus menjelaskan makna-makna atau maksud dari ayat Alquran. [37] Dengan kata lain Ilmu Tafsir itu lebih khusus kajiannya daripada aspek kajian Ulum Alquran. Begitu pula dengan Usul Tafsir adalah suatu cabang Ulum Alquran yang secara khusus membahas metodologi dan kaidah-kaidah dasar Ilmu Tafsir.
Kekhususan kajian ilmu tafsir dan keumuman ruang lingkup ulum Alquran dapat juga dilihat melalui pemakaian kata ‘ulum (bentuk jamak) pada ulum Alquran, dan kata ‘ilm (bentuk tunggal) pada Ilmu Tafsir adalah menunjukkan sebuah perbedaan diantara keduanya. Yaitu kajian ulum Alquran terdiri dari sekumpulan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Alquran. Sementara pemakaian kata ilmu (bentuk tunggal dari kata ulum) pada kalimat Ilmu Tafsir adalah menunjukkan bahwa Ilmu tafsir adalah satu disiplin ilmu yang berusaha memahami Alquran dari satu tema dan tujuan tertentu (mengungkap makna ayat-ayat Alquran). Dengan demikian Ilmu tafsir selaku ilmu yang berusaha mengkaji makna-makna ayat Alquran selalu membutuhkan ilmu-ilmu Alquran lainnya untuk melaksanakan penafsiran. Karena pada dasarnya ilmu-ilmu yang berhubungan dengan Alquran adalah saling berkaitan dan berpadu dalam satu kajian utuh.
Adapun aspek persamaan antara Ilmu Tafsir dengan Ulum Alquran adalah terletak pada objek pembahasannya, yaitu ketiga disiplin ilmu tersebut secara bersama-sama berusaha menggali ilmu-ilmu yang terkandung di dalam Alquran dari berbagai aspek tertentu. Yaitu Ilmu Tafsir adalah bermaksud mengungkap atau menjelaskan makna kata-kata Alquran yang samar atau rumit, maka adapun Ulum Alquran juga sebuah ilmu yang bermaksud mengkaji Alquran dari berbagai aspeknya secara universal. Selanjutnya dari segi tujuan intinya, Ulum Alquran dan Ilmu Tafsir adalah dua disiplin ilmu yang berpadu dalam berusaha memahami Alquran.
Selanjutnya mengenai persamaan usul at-Tafsir dengan Ulum Alquran, sebagaimana Ahsin W. Al-Hafidz menyebutkan bahwa Ulum Alquran ini dinamakan juga dengan Usul At-Tafsir (dasar-dasar tafsir), karena kajian ulum Alquran dan usul tafsir adalah sama-sama membahas beberapa masalah yang harus diketahui dan dikuasai seorang mufassir dalam menafsirkan Alquran.[38]
Namun sisi perbedaan antara Usul Tafsir dengan Ulum Alquran adalah bahwa Usul Tafsir adalah suatu disiplin ilmu yang mengkaji dan menganalisis secara khusus dan spesifik/ mengenai kaidah-kaidah yang diperlukan dan harus diketahui untuk menafsirkan Alquran. Sementara kajian Ulum Alquran mengenai kaidah-kaidah penafsiran Alquran masih secara umum saja, dan kajian tersebut masuk dalam salah satu pembahasan sub buku Ulum Alquran. Dengan kata lain Usul Tafsir adalah salah satu cabang dari ilmu Ulum Alquran yang secara spesifik membahas tentang dasar-dasar dan kaidah-kaidah dalam menafsirkan Alquran.
Oleh karena itu usul tafsir ini adalah bagian dari tubuh Ulum Alquran yang paling penting karena sangat erat kaitannya dengan istinbath (penyimpulan hukum) dalam fikih dan penetapan i’tikad (tauhid, akidah) yang benar. Dengan demikian, kesimpulannya adalah bahwa ketika Ulum Alquran bermaksud mengkaji Alquran dari berbagai aspeknya, maka salah satu ruang lingkupnya adalah garapan Usul Tafsir itu sendiri, yaitu untuk membantu ahl tafsir agar tidak salah dalam melakukan penafsiran. Oleh karena itu sebagaimana Ilmu Tafsir, Usul Tafsir juga merupakan salah satu bagian organ tubuh dari Ulum Alquran. 
Pandangan tentang relasi Ulum Alquran dengan Ilmu Tafsir, dan Usul At-Tafsir antara lain dapat digambarkan sebagaimana sketsa berikut:

Dalam sketsa di atas, penulis mengibaratkan relasi Ulum Alquran dengan Ilmu Tafsir dan Usul Tafsir bagaikan sebuah jaring laba-laba, dimana Ulum Alquran adalah merupakan pusat intinya. Ketika Ulum Alquran dikaji lebih mendalam maka skop kajiannya kemudian mengembang dan meluas sehingga membentuk beberapa cabang disiplin ilmu tentang Alquran. Disiplin-disiplin ilmu tersebut semakin dikenal dengan fokus sorotannya terhadap salah satu dimensi Alquran. Misalnya, Ilmu tafsir adalah salah satu ilmu Alquran yang fokus kajiannya adalah pemberian penjelasan yang benar tentang makna-makna  lafadz-lafadz ayat Alquran yang sulit dipahami. Sementara Usul Tafsir adalah salah satu cabang Ulum Alquran yang secara khusus membahas metodologi dan kaidah-kaidah dasar Ilmu Tafsir. Begitu pula dengan ilmu lainnya, seperti Tarekh Alquran, I’jaz Alquran, Tajwid Alquran, Asbabun Nuzul Alquran, Tartibul Quran, dan lain sebagainya.
Sementara bapak ‘Aunur Rofi’ memberikan sketsa yang tidak jauh berbeda dengan sketsa yang diberikan oleh penulis. Beliau menggambarkan hubungan Ulum Alquran dengan Ilmu Tafsir dan Usul Tafsir bagaikan sebuah payung yang sedang berkembang. Yakni Ulum Alquran adalah sebagai sanggah dan pegayom bagi yang lain. sedangkan Ilmu Tafsir, Usul Tafsir dan ilmu-ilmu Alquran lainnya dalah sebagai rangka penyangga bagi payung, sehingga ia kuat dan kokoh menghadapi berbagai kemungkinan yang merusak citra Alquran.
F.     Penutup
Setelah membahas kajian di atas, pemakalah menyimpulkan bahwa Ulum Alquran adalah merupakan sekumpulan ilmu berhubungan dengan Alquran, seperti ilmu turunnya Alquran,  ilmu sejarah Alquran, ilmu tafsir Alquran, ilmu rasm Alquran dan lain sebagainya. Salah satu organ tubuh Ulum Alquran yang merangsang lahirnya ilmu-ilmu Alquran yang lain adalah Ilmu Tafsir dan Usul Tafsir. Karena menonjolnya kedua disiplin ilmu ini (Ilmu Tafsir dan Usul Tafsir) sebahagian orang merasa sulit untuk melihat persamaan dan perbedaan kedua disiplin ilmu tersebut dengan Ulum Alquran.
Namun bila kita telusuri tenyata Ilmu Tafsir adalah salah satu organ tubuh ulum Alquran yang digunakan untuk memahami Alquran dari segi pengungkapan petunjuk, kandungan-kandungan hukum, dan makna-makna yang terkandung di dalam lafadzh-lafadzh Alquran yang masih samar pengertiannya. Sementara Usul tafsir juga adalah suatu cabang dari ulum Alquran yang membahas ilmu-ilmu dan kaidah-kaidah yang diperlukan dan harus diketahui untuk menafsirkan Alquran.
Demikianlah makalah ini saya buat dengan sebaik mungkin. Mudah-mudahan makalah singkat ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca sekalian dan khususnya kepada saya sendiri.
Tiada gading yang tak retak, begitu pula dengan makalah ini. Pemakalah menyadari terhadap berbagai keterbatasan yang dimiliki pemakalah dalam mengkaji judul makalah ini. Oleh karena itu kajian makalah ini masih perlu didiskusikan dan kembangkan kembali dengan menggunakan analisis yang lebih tajam dan penyajian yang lebih praktis. Akhir kata, salam satu jiwa untuk pendidikan yang bermasyarakat, dan masyarakat yang mendidik. Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
 

DAFTAR PUSTAKA

Al-‘Akk, Khalid Abd Al-Rahman, Usul al-tafsir wa qawa’iduhu, Beirut: Dar Al-Nafais, 2008.
Anwar, Rosihon, Ulum Alquran, Bandung: CV. Pustaka, 2008), hlm. 32-34.
Baharuddin & Buyung Ali. Metode Studi Islam, Bandung: Cita Pustaka, 2005.
Adz-Dzahabi, Muhammad Husein, at-Tafsir wa al-Mufassirun, juz I, Mesir: Dar Al-Maktub Al-Haditsah, 1976.
Federspiel, Howard M., Popular Indonesian Literature Of The Qur’an, Terj. Tajul Arifin, (Tajul Arifin), Bandung: Mizan, 1996.
Al-Hafidz, Ahsin W., Kamus Ilmu Alquran, Wono Sobo, Amzah, 2005.
Hamid, Nashr, Metode Tafsir Kesasteraan atas Alquran, Yogyakarta: Bina Media, 2005.
Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Al-Madkhal li Dirasat Alquran al-Karim, Kairo: Maktabah Al-Sunnah, 1992.
Al-Qaththan, Manna, Mabahits fi ‘Ulum Alquran, Mansyurat al-Ashr al-Hadist, ttp. 1973.
Shihab, M. Quraish, Tafsir al-Misbah ; Pesan, Kesan dan Keserasian Alquran, Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Ash-Shiddieqqy, Tengku Muhammad Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran, Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
                           , Tengku Muhammad Hasbi,  Ilmu-Ilmu Alquran, Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002.
                          , Teungku Muhammad Hasbi, dkk, Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran Dan Tafsir, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putera, 1999.
Syadali, Ahmad dan Ahmad Rofi’I, Ulum Alquran I, Bandung: Pustaka Setia, 2000
Tim Penyusun,  Ensiklopedia Alquran; Kajian Kosa Kata, Ed. Sahabuddin, Jakarta: Lentera Hati, 2007.
Tim penyusun, Nina M. Armando (ed.), Ensiklopedi Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005.
Yunus, Mahmud, Kamus Arab-Indonesia, Jakarta: PT. Mahmud Yunus Wadzuryah, tt.
Al-Zarqany, Muhammad Adzhim, Manahilu al-‘Irfan fi ‘Ulum Alquran, Beirut: Dar-Kutubul ‘Ilmiah, tt.
Foot note: 


[1]  Rosihon Anwar, Ulum Alquran, (Bandung: CV. Pustaka, 2008), hlm. 13.
[2] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: PT. Mahmud Yunus Wadzuryah, tt), hlm. 278
                [3] Muhammad Adzhim al-Zarqany, Manahilu al-‘Irfan fi ‘Ulum Alquran, (Beirut: Dar-Kutubul ‘Ilmiah, tt.), hlm. 14.
                [4] Tim penyusun, Nina M. Armando (ed.), Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2005), hlm. 161.
                [5] M. Quraish Shihab, (Tafsir al-Misbah ; Pesan, Kesan dan Keserasian Alquran, Jakarta : Lentera Hati, 2002), vol.1, hlm. 145.
                [6] Ibid.
                [7] Muhammad Adzhim al-Zarqany, Loc.Cit.
                [8] Ibid.
                [9] Tim penyusun, Nina M. Armando (ed.), Ensiklopedi Islam, Op. Cit., hlm. 161.
                [10] Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Al-Madkhal li Dirasat Alquran al-Karim, (Kairo: Maktabah Al-Sunnah, 1992), hlm. 18.
                [11] Rosihon Anwar, Op. Cit., hlm. 32-34.
[12] Baharuddin & Buyung Ali. Metode Studi Islam, (Bandung: Cita Pustaka, 2005), hlm. 41-42.
                [13] Rosihon Anwar, Op. Cit., hlm. 33.
                [14] Ibid.
[15] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’I, Ulum Alquran I, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), cet.II, hlm. 11.
                [16] Khalid Abd Al-Rahman al-‘Akk, Usul al-tafsir wa qawa’iduhu, (Beirut: Dar Al-Nafais, 2008), hlm. 39-40.
[17] Ibid., hlm. 14.                          
[18]Muhammad hasby Ash-Shiddiqy.  Ilmu-Ilmu Alquran, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002), hlm. 2.
[19] Rosihon Anwar, Op. Cit., hlm. 12-13.
[20] Ibid, hlm. 9 .
[21]Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’I, Op. Cit., hlm 12-13.
                [23] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofi’I, Op. Cit., hlm 11.
                [24] Muhammad Husein Adz-Zahabi, at-Tafsir wa al-Mufassirun, Juz I, (Mesir: Dar al-Maktub al-Haditsah, 1976), hlm. 13.
                [25] Tim Penyusun, Ensiklopedia Alquran; Kajian Kosa Kata, Ed. Sahabuddin, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), hlm. 975.
                [26] Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqy dkk, Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran Dan Tafsir, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putera, 1999), hlm. 172.
                [27] Nashr Hamid Abu Zayd, Metode Tafsir Kesasteraan atas Alquran, (Yogyakarta: Bina Media, 2005), hlm. 1.
                [28] Ibid., hlm. 322.
[29] Ash-Shiddieqqy, T.M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Alquran, (Jakarta: Bulan Bintang, 1994), hlm. 178.
                [30]  Muhammad Husein Adz-Dzahabi, Op. Cit., hlm. 13.
[31] Manna Al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum Alquran, Mansyurat al-Ashr al-Hadist, (ttp. 1973), hlm. 324.
[32]  HowardM. Federspiel, Popular Indonesian Literature Of The Qur’an, Terj. Tajul Arifin, (Tajul Arifin), (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 31.
                [33] Di download dari situs http://ulumulstai.blogspot.com/2009/03/ilmu-tafsir.html
[35] Lihat di website: http://fajardawn.blogspot.com/2010/11/usul-tafsir.html di download pada tanggal 22 september 2011.
                [36] Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Tafsir_al-Qur%27an
[37] Lihat di website: http://studiquran.blogspot.com/2011/03/ilmu-tafsir.html artikel tanggal 28 november 2010.
                [38] Ahsin W. Al-Hafidz, Kamus Ilmu Alquran, (Wono Sobo, Amzah, 2005), hlm. 301.